Pemulihan Distribusi Air Bersih di Kota Langsa Pasca Banjir
Distribusi air bersih dari PDAM untuk wilayah Kota Langsa sempat mengalami gangguan total akibat musibah bencana banjir besar. Hal ini terjadi karena hampir seluruh peralatan utama untuk pendistribusian air milik Perumda Tirta Keumuneng Langsa mengalami kerusakan berat. Alat utama mulai dari intake, pompa hulu-hilir, elektromotor, panel listrik, hingga jalur perpipaan terendam banjir, tertutup lumpur, dan tergeser yang menyebabkan kerusakan.
Pasca air surut, seluruh tim Perumda Tirta Keumuneng Langsa bergerak cepat melakukan pemulihan menyeluruh dikoorinir langsung oleh Direktur Perumda. “Semua SDM atau tim dikerahkan langsung turun melakukan perbaikan menyeluruh. Kami sama-sama korban, tapi tetap berjuang demi masyarakat untuk kelancaran suplai air bersih,” ujar Direktur Perumda, T. Faisal, SH.
T. Faisal yang mengkoordinir langsung ke lapangan memastikan semua tim bekerja, melihat petugas rela meninggalkan kepentingan pribadinya di rumah yang juga masih direndam lumpur pasca banjir. “Apa yang dilakukan para petugas adalah bentuk tanggung jawab moral, bukan hanya tugas kedinasan,” ucapnya.
Menurut T. Faisal, pasca beberapa hari banjir meskipun listrik di pusat kota telah normal, wilayah hulu atau lokasi pusat instalasi pengolahan air mengalami gangguan serius. Gardu PLN di hulu terendam banjir hingga rusak berat, membuat listrik hidup-mati berulang, yang sangat menghambat proses normalisasi.
Air banjir masuk melalui saluran, dinding, celah pipa, dan ventilasi, sehingga ruang pompa terendam 100 persen. Reservoir penuh lumpur dan sampah, padahal booster pump memiliki fungsi vital sebagai penambah tekanan air ke daerah-daerah ujung perpipaan. Tekanan dari pompa utama di hulu tidak mampu menembus seluruh hambatan lapangan tanpa bantuan booster.
Booster yang terdampak berada di UP Langsa Barat, UP Langsa Lama, UP Langsa Timur, dan UP Langsa Baro. Wilayah yang terhubung langsung dengan pipa induk dari hulu, seperti Geudubang Aceh dan BTN ABRI dan wilayah-wilayah lainnya yg dekat dengan pipa utama. Secara alami lebih cepat mendapatkan aliran air ketimbang wilayah yang berada jauh dari pipa utama atau wilayah yang pinggiran kota atau wilayah pusat kota yang padat penduduk.
Namun jauh dari pipa utama dengan tingginya tingkat pemakaian air membuat tekanan air fluktuatif dan memperlambat proses normalisasi. Karena rebutan air dengan setiap rumah masing-masing menarik air dengan mesin penyedot air masing-masing.
Gangguan teknis terus muncul selama pemulihan, seperti listrik padam mendadak, pompa konslet akibat kelembapan, pintu intake tersumbat lumpur dan sampah. Lalu, bak filter tersumbat ketika proses produksi, pipa pecah di berbagai titik, termasuk pipa induk besar di Desa Petow, kebocoran yang memperlambat tekanan air.
“Semua ini menjadi rintangan yang hanya dapat dirasakan petugas di lapangan yang bekerja siang malam tanpa henti,” paparnya. Mengapa normalisasi air tidak bisa instan, sambung Faisal, sebab produksi air bersih dari lumpur ke air domestik butuh 3-4 jam sebelum bisa dialirkan. Distribusi membutuhkan waktu relatif lebih dari 24 jam, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama tergantung elevasi tanah, tingkat pemakaian dan faktor-faktor lainnya, apalagi kebocoran ada dimana-mana.
Normalisasi harus tanpa jeda pompa, jika listrik/pompa mati sebentar, seluruh jaringan kosong dan proses normalisasi harus diulang dari awal. Pemakaian pelanggan yang tinggi dan bersamaan menyebabkan tekanan turun signifikan. Dalam sistem hidrolika, air mengalir dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah (Prinsip Bernoulli). Ketika terjadi pipa bocor, sambungan pecah, pipa transmisi retak, valve terisi sedimen, maka energi tekanan hilang, sehingga tekanan distribusi melemah secara drastis.
Kebocoran sedang saja dapat menyebabkan hilangnya head pressure, apalagi kebocoran besar pada pipa utama. Akibatnya wilayah terjauh (ujung jaringan) tidak mendapat air, Pressure recovery sangat lambat karena jaringan kehilangan energi secara terus-menerus.
Pascabanjir, pipa sering terisi, lumpur halus, pasir, material organik, sampah padat berukuran kecil. Sedimen tersebut meningkatkan friction loss (kehilangan energi akibat gesekan), jika friction loss meningkat, tekanan hilang lebih besar, aliran makin lemah. Pipa harus dibersihkan bertahap melalui flushing, yang memakan waktu lama.
Saat sistem perpompaan belum pulih 100 persen, kapasitas tekanannya turun jauh dari desain. Pompa tidak bisa dipaksakan beroperasi dengan beban tinggi. Akibatnya debit distribusi menjadi sangat terbatas. Ditambah kebocoran dan tingginya permintaan masyarakat yang lebih dulu dilalui oleh air distribusi.
Paska bencana, pola pemakaian berubah drastis, lonjakan penggunaan air untuk pembersihan rumah, lumpur, dan sanitasi, pemakaian serentak pada jam pulih listrik, pengisian tandon secara bersamaan. Secara hidrolis, ini menyebabkan pressure collapse (tekanan kolaps), karena: Jika pemakaian lebih besar daripada suplai, tekanan hilang, air tidak mampu menjangkau daerah jauh atau elevasi tinggi.
Karena itu PDAM menghimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak, dan membantu mendokumentasikan setiap titik kerusakan pipa agar tekanan dapat stabil dan air mencapai pelanggan di wilayah paling jauh. Pihaknya juga membantah isu bahwa pemecatan pegawai berhubungan dengan buruknya kebijakan manajemen. Pegawai yang diberhentikan merupakan individu yang terbukti melakukan pelanggaran berat, merugikan perusahaan dan pelanggan/masyarakat. Serta telah melalui proses peringatan sebelumnya. Isu yang berkembang di luar adalah tidak akurat.
Transparansi informasi, pihaknya memastikan bahwa setiap perkembangan perbaikan pipa, progres pemulihan, status distribusi, dan kendala teknis.
