Kehidupan di Kawasan Embong Arab Saat Ramadan
Di tengah suasana Ramadan 2026, kawasan Embong Arab, Kota Malang, terasa lebih tenang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas perburuan kurma dan rempah yang biasanya ramai, kini tampak lebih lengang. Para pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung yang signifikan.
Perbandingan Pengunjung yang Menurun
Ahmad Soni, karyawan Toko Amanah, menjelaskan bahwa jumlah pengunjung di kawasan tersebut turun drastis. “Perbandingannya 100 banding 40. Kalau tahun lalu pengunjungnya 100, sekarang sekitar 40 saja,” ujarnya. Ia memperkirakan penurunan mencapai sekitar 60 persen dibanding Ramadan sebelumnya. Hal ini diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat kondisi ekonomi yang sulit.
Pada tahun-tahun sebelumnya, kawasan Embong Arab mulai ramai sejak pertengahan Ramadan. Pengunjung biasanya berdatangan untuk membeli kurma, roti, hingga bumbu masakan khas Jazirah Arab untuk hidangan berbuka atau persiapan Lebaran. Namun tahun ini, meski Ramadan sudah memasuki 10 hari terakhir, lonjakan pengunjung belum juga terlihat.
Bumbu Masakan Tetap Diminati
Meski suasana lebih sepi, bumbu masakan khas Jazirah Arab masih cukup diminati. Banyak pembeli datang untuk mencari racikan rempah untuk membuat menu berbuka dan sahur di rumah. Bumbu untuk hidangan seperti Nasi Briyani, Nasi Kebuli, dan Nasi Mandhi termasuk yang paling diminati. Penjualannya bahkan meningkat jika dibandingkan hari biasa di luar Ramadan.
Di etalase toko, berbagai jenis kurma masih tersusun rapi. Salah satu yang dijual adalah kurma Medjoul yang didatangkan dari Palestina. Meski tetap ada pembeli, jumlahnya tidak sebanyak Ramadan sebelumnya.
Jam Operasional Toko
Toko Amanah sendiri membuka layanan sejak pukul 07.30 hingga 19.00 WIB. Setelah jeda salat tarawih, toko kembali buka hingga sekitar pukul 21.30 WIB untuk melayani pembeli yang datang pada malam hari.
Meski suasana tahun ini lebih lengang, para pedagang di Embong Arab tetap berharap arus pembeli akan meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Harapan itu masih mereka gantungkan pada tradisi masyarakat yang biasanya berburu kurma dan rempah di hari-hari terakhir Ramadan.
Pengunjung yang Tertarik pada Bumbu
Nur Aini, seorang pengunjung yang baru saja keluar toko membawa beberapa bungkus bumbu masakan, mengaku sengaja datang ke kawasan Embong Arab untuk mencari bumbu masakan. Menurut Nur Aini, ia lebih memilih membeli bumbu dibandingkan kurma karena ingin memasak hidangan khas Jazirah Arab di rumah selama Ramadan.
“Kalau kurma biasanya sudah ada di rumah. Sekarang saya cari bumbu supaya bisa masak menu yang berbeda untuk keluarga,” ujarnya. Bumbu yang ia beli di antaranya untuk membuat Nasi Briyani dan Nasi Mandhi. Ia berencana menggunakan rempah tersebut untuk memasak menu berbuka puasa bersama keluarga di rumah.
Menurutnya, aroma dan rasa khas menggoda selera makan. Karena itu, setiap Ramadan ia biasanya menyempatkan diri datang ke kawasan tersebut untuk membeli bumbu.
