Rudal Flamingo, Senjata Lokal Ukraina yang Menyerang Pabrik Rudal Balistik Rusia
Angkatan bersenjata Ukraina mengumumkan pada hari Sabtu (21/2/2026) bahwa pasukan mereka berhasil menargetkan pabrik produksi rudal balistik di wilayah Udmurtia, Rusia. Serangan tersebut dilakukan pada dini hari menggunakan rudal Flamingo yang merupakan senjata buatan dalam negeri.
Dalam pernyataannya, Kantor Staf Umum Militer Ukraina menyebutkan bahwa lokasi pabrik rudal balistik Rusia berada di Votkinsk. Pabrik ini berjarak sekitar 1.400 kilometer dari wilayah Ukraina dan memproduksi berbagai jenis rudal balistik antarbenua serta rudal jarak pendek lainnya. Selain itu, militer Ukraina juga melaporkan telah menargetkan sebuah pabrik pengolahan gas di wilayah Samara, Rusia.
Pengembangan Rudal Flamingo di Lokasi Rahasia
Jarak tembak sekitar 1.400 kilometer membuktikan bahwa meskipun terbatas dalam produksi alat perang, Ukraina mampu menciptakan peluru kendali yang sangat efektif. Menurut laporan BBC pada Desember 2025 silam, rudal Flamingo dibuat di lokasi yang sangat rahasia.
“Bagi Ukraina, menyebarkan dan menyembunyikan produksi senjata seperti ini adalah kunci untuk bertahan hidup,” demikian laporan tersebut menyebutkan. Dua pabrik milik perusahaan pembuatnya, Fire Point, telah terkena serangan. Di tengah gempuran Rusia, Ukraina berhasil meningkatkan industri persenjataannya.
Presiden Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa negara tersebut kini memproduksi lebih dari 50 persen senjata yang digunakan di garis depan. Hampir seluruh inventaris senjata jarak jauhnya diproduksi di dalam negeri. Pada awal perang, Ukraina sebagian besar bergantung pada persenjataan lama peninggalan era Soviet. Namun, dukungan militer Barat membantu memodernisasi angkatan bersenjata negara tersebut. Sekarang, Ukraina tampil sebagai pemimpin dalam pengembangan sistem tanpa awak seperti robot dan drone. Kini, rudal jelajah buatan dalam negeri menambah kemampuan jarak jauh Ukraina.
Nama Flamingo dan Fungsi Rudal
Nama Flamingo merujuk pada prototipe awal rudal tersebut yang dicat merah muda. Namun, kini rudal Flamingo dicat warna hitam karena tugasnya adalah “memakan minyak Rusia”. Artinya, rudal-rudal ini bertugas untuk menyerang fasilitas energi Rusia yang sebagian besar adalah kilang minyak sebagai sumber pendapatan untuk membiayai perang bagi Moskow. Belakangan, tugas itu berkembang lebih luas, menyasar infrastruktur penting lainnya seperti pabrik rudal Rusia.
“Rudal ini tampak mirip dengan roket V1 Jerman dari Perang Dunia Kedua. Roket ini terdiri dari mesin jet besar yang ditempatkan di atas tabung sepanjang sebuah bus di London,” papar laporan BBC.
Secara teknis, Flamingo adalah jenis senjata serangan jarak jauh yang tidak dipasok oleh negara-negara Barat. Rudal jelajah itu dikatakan memiliki jangkauan 3.000 km (1.900 mil). Ini mirip dengan Tomahawk buatan AS – senjata yang lebih canggih dan mahal yang ditolak oleh Presiden AS Donald Trump untuk diberikan kepada Ukraina. Namun, serangan jarak jauh dipandang sebagai bagian penting dari perang, di mana Ukraina terutama menggunakan drone jarak jauh.
Upaya Ukraina untuk Mengurangi Kemampuan Militer Rusia
Ukraina masih kehilangan wilayah dari Rusia di garis depan yang membentang lebih dari seribu kilometer. Oleh karena itu, Ukraina semakin berupaya menargetkan ekonomi perang Rusia, untuk memperlambat kemajuan tersebut. Kepala Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, mengatakan bahwa serangan jarak jauh Ukraina telah merugikan perekonomian Rusia lebih dari 21,5 miliar dolar AS tahun ini.
Ruslan, seorang perwira di Pasukan Operasi Khusus Ukraina, menjelaskan strategi itu sederhana: “Untuk mengurangi kemampuan militer musuh dan potensi ekonomi mereka.” Dia mengatakan Pasukan Operasi Khusus Ukraina telah melakukan ratusan serangan terhadap kilang minyak, pabrik senjata, dan gudang amunisi – jauh di dalam wilayah musuh.
Tentu saja Rusia juga melakukan hal yang sama, dan dalam skala yang lebih besar. Rata-rata mereka meluncurkan sekitar 200 drone Shahed setiap hari; respons Ukraina hanya sekitar setengah dari jumlah itu. Rusia juga tidak membatasi serangannya hanya pada target militer. Serangan rudal jarak jauh dan drone-nya telah menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di seluruh negeri – mempersulit kehidupan jutaan warga sipil.
“Saya ingin meluncurkan drone sebanyak yang dilakukan Rusia,” kata Ruslan. “Tetapi kami meningkatkannya dengan sangat cepat.”
