Cerita Mohammad Roem tentang Jimat yang Diberikan oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman
Mohammad Roem pernah menerima jimat dari seorang dukun atas perintah Presiden Sukarno dan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Kebiasaan ini dilakukan sebagai bentuk penguatan semangat dalam tugas diplomatiknya. Namun, istri Mohammad Roem akhirnya memberi “jalan keluar” untuk menghadapi situasi tersebut.
Pada majalah edisi Februari 1971, Mohammad Roem menceritakan pengalamannya mendapatkan jimat dari seorang dukun. Pada masa itu, ia bertugas sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda sebagai pelaksanaan Persetujuan Renville. Perundingan berjalan sangat lambat, sehingga Bung Karno dan Jenderal Sudirman merasa perlu memperkuat semangat Mohammad Roem melalui jimat ini.
Yang menarik, Mohammad Roem sempat kebingungan dalam melepaskan diri dari jimat tersebut. Ia dipesan bahwa jimat tidak boleh terpisah dari dirinya. Tanpa sengaja, istri Roem memberikan solusi yang membuat jimat itu hilang dari tangannya.
Pengalaman Menghadapi Jimat
“Tidak pernah saya duga bahwa untuk kedua kalinya dalam hidup saya harus memakai jimat. Untunglah ayah memberi pelajaran bagaimana harus menghadapinya, meskipun ayah mengajarkan tidak perlu percaya jimat. Pada waktu itu saya teringat pelajaran ayah, tentang menghormati kepercayaan nenek. Presiden dan Panglima Besar teranglah harus saya hormati, mungkin lebih dari saya menghormati nenek.”
Panglima Besar menambahkan, “Jimat ini tidak boleh terpisah dari Saudara. Di situ letak kekuatannya, kalau hilang, kekuatan mungkin berbalik. Jagalah sebaik-baiknya.”
Karena sang dukun berdiri saat menyampaikan jimat, maka Roem pun berdiri menerimanya, lalu masukkan ke saku celana. Bagi pakaian sehari-hari di Yogya waktu itu, saku celana adalah tempat yang paling baik.
“Simpan di saku kemeja saja,” kata Panglima Besar. “Saku di celana kurang hormat.”
Dengan tidak berpikir panjang lagi, Roem menjawab, “Celana saya tidak kurang hormatnya dari kemeja. Barang-barang yang penting dan berharga, saya simpan di celana. Saku kemeja kurang aman, mudah jatuh.”
Masalah dengan Celana dan Jimat
Setelah bercakap-cakap dalam suasana yang akrab, Roem minta diri dari Panglima Besar. Kembali ke kantor delegasi, ia memikirkan apa yang akan dikatakan kepada Mas Karim jika ditanya apa yang dibicarakan dengan Presiden. Ia akan mengatakan bahwa Presiden ingin membicarakan beberapa personalia dari Masyumi dengan dirinya.
Sementara itu, Roem berhasil, berkat pelajaran dari ayah, untuk menghadapi jimat yang kedua ini. Tapi dulu ayah yang seterusnya menyelesaikan. Sekarang ayah sudah tidak ada. Kalau dia buang jimat itu, tidak ada orang yang akan tahu. Presiden dan Panglima Besar tidak akan menanyakan. Tapi bagi Roem sendiri terasa tidak cukup menghormati kedua pejabat tinggi dari negara kita. Maka selama beberapa hari jimat itu tidak terpisah dari Roem, tersimpan di saku celana dengan aman dan sebagai rahasia besar.
Perundingan yang Seret
Perundingan berjalan sangat seret. Suasana itu sudah mendekati Agresi Militer yang kedua. Pada suatu hari seorang Amerika, penasihat dari Panitia Jasa-Jasa Baik, mengatakan, “Saya sebenarnya sudah kesal. Orang Belanda begitu legalistik, tapi ‘You are wonderful’. Kalian dapat menghadapi Belanda dengan cara yang legalistik juga.”
Meskipun Roem menyadari memiliki jimat di saku celana, ia berkata, “Tahukah Anda bahwa kami semua yang ada dalam delegasi, mulai umur enam tahun sudah belajar dari Belanda tentang segala ilmu pengetahuan yang kami miliki.”
Pada hari Minggu sesudah menerima jimat itu, Roem tidak perlu ke luar rumah pagi-pagi. Baru pukul 10.00 nanti ada rapat Masyumi. Ia menikmati pagi hari yang sejuk sambil sedikit bermalas-malasan.
Mendekati pukul 10.00 sesudah mandi dan makan pagi, baru ia pergi ke kamar untuk berpakaian. Betapa terkejutnya ia, waktu melihat bahwa tidak hanya jimat, tetapi seluruh celana sudah tidak ada lagi.
Roem lari ke belakang dan bertanya kepada istri di mana celananya. Istri, agak heran melihat kebingungan Roem, menjawab, “Dicuci dan sekarang masih basah ada di belakang.” Dengan marah ia bilang, “Kenapa sudah dicuci, ‘kan belum waktunya.” Istri juga marah. “Kalau tidak boleh dicuci, jangan dibuang di lantai.”
Roem masih tetap marah. “Tidak saya buang di lantai, mungkin jatuh dari gantungan.” Istri makin marah. “Siapa yang tahu kalau celana itu jatuh.”
Solusi dari Istri
Roem lari ke tempat jemuran dan melihat air masih menetes dari celana itu. Kemudian ia masukkan tangan ke saku celana dan keluarlah tangan itu dengan bekas pengikat jimat. Sekali lagi ia masukkan tangan di saku dan sesudah meraba-raba, merasakan, bahwa jimat itu sudah hancur. Ia keluarkan tangan dengan sebagian dari kertas yang hancur itu. Bubur kertas itu ia buang. Beberapa kali hal itu ia kerjakan, yang dilihat dengan saksama oleh istri.
Istri masih merasa tidak senang, karena Roem marah tanpa alasan. Dengan bersungut-sungut dia berkata, “Kertas sudah dirobek-robek masih disimpan di kantong celana.”
“Robekan dokumen sangat rahasia dalam perundingan,” sahut Roem. Ia menyesal marah-marah tanpa dapat mempertanggungjawabkan. Tapi pada waktu itu ia belum bisa menerangkan semua kepadanya. Ketika ia diberi celana lain dari lemari oleh istri, ia diliputi perasaan lega.
Kalau ia pikir kembali, memang tidak pernah terlintas cara penyelesaian jimat, sebagaimana ayah dulu menyelesaikan jimat yang pertama. Ia tidak dapat membayangkan, sampai kapan ia “tidak boleh berpisah dengan jimat itu”.
Terlintas dalam pikiran untuk melaporkan kejadian itu kepada Presiden dan Panglima Besar agar diberi jimat yang baru. Tapi pikiran ini ia kesampingkan, karena tidak sesuai dengan pandangan hidupnya.
