Dentuman Roket dan Kehidupan di Tengah Konflik Timur Tengah
Dentuman roket memecah suasana berbuka puasa, membuat seorang selegram Indonesia yang tinggal di Dubai terpaku. Di Iran, Ismail Amin memilih untuk tetap bertahan. Dari langit Teluk, perang antara Iran dan Israel menunjukkan nasib yang semakin tidak menentu.
Wening Tresnany, seorang selegram asal Indonesia yang tinggal di Dubai, mengungkapkan kekagetannya ketika mendengar serangan Israel-Amerika Serikat (AS) terhadap Dubai. Sabtu (28/02) petang, ia sedang berbuka puasa bersama teman-temannya ketika suara dentuman roket tiba-tiba terdengar.
”Jujur kaget banget karena posisinya kita teman-teman Indonesia di sini lagi pada makan buka bersama. Tak ada alarm apa-apa sebelumnya, tak ada dari sosial media juga bakal ada desus-desus terjadi seperti ini. Jadi ketika tiba-tiba dar-der-dor itu kita langsung cari tahu ada apa ini. Setelah suara dar-der-dor itu muncul di media sosial baru menyusul berita-beritanya, ternyata Iran lagi diserang,” paparnya.
Ia mengungkapkan bahwa suara tersebut awalnya terdengar jauh, namun semakin dekat saat waktu berbuka tiba. “Nah tapi pada saat itu kita masih santai-santai saja, aku pikir paling jauh lokasinya. Tapi kok sampai pada akhirnya pas lagi buka puasa sekitar jam 18.00-an itu kita makan, eh kok makin banyak suaranya gitu kayak jedong-jedong gitu kan.”
Orang-orang mulai keluar dari restoran, membawa handphone mereka. Wening pun ikut keluar dan membuat video. Malam itu ia susah tidur karena dua kali menerima notifikasi peringatan di handphonenya. Namun ia kembali tenang karena informasi keselamatan warga adalah prioritas negara.

Di Iran, Ismail Amin, seorang warga asal Sulawesi Selatan yang telah bermukim selama belasan tahun di Kota Qum, mengungkapkan situasinya di tengah insiden ini. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pokok dan air bersih masih mencukupi. Hanya internet yang terbatas.
”Sejauh ini makanan masih tercukupi. Kami juga mendapatkan bantuan-bantuan sembako, banyak kami dapatkan,” ujarnya. Bantuan ia dapatkan bukan hanya dari pemerintah, melainkan juga dari kampus dan tetangga sekitar. ”Ada kurma, beras… Bahkan ada yang memberikan daging, memberikan ayam potong untuk kebutuhan kita sehari-hari.”
Ismail juga menjelaskan bahwa libur minggu ini di Iran dilakukan sebagai tanda berkabung atas kematian pemimpin Iran. Namun toko-toko di kotanya masih buka. ”Dan juga tidak ada istilahnya panic buying. Tidak ada kepanikan masal. Tidak ada yang terlihat berbelanja di luar kebiasaan, menumpuk, dan sebagainya karena kekhawatiran kehabisan bahan makanan, bahan pokok. Semuanya belanja secara normal.”

Meski demikian, Ismail mengungkapkan adanya rasa cemas karena instalasi pengayaan uranium bawah tanah Fordow terletak di dekat Qom. Ia menjelaskan bahwa ledakan yang terdengar adalah aktivasi sistem pertahanan udara Iran.
”Jadi ada sempat beberapa ledakan yang kami dengarkan. Namun ledakan ini itu adalah aktivasi sistem pertahanan udara Iran. Jadi sistem pertahanan udara Iran berhasil menghalau serangan sehingga terjadi ledakan. Kami belum mendapatkan laporan atau membaca berita bahwa instalasi nuklir ini berhasil diserang. Aktivitas sistem pertahanan Iran masih bekerja.”
Ismail juga meminta anak-anaknya untuk tetap di rumah karena musim dingin. Ia terus memantau pemberitahuan dari pemerintah untuk setiap perkembangan yang terjadi di Iran.

Negara multietnis Iran memiliki berbagai komunitas seperti Kurdi, Baloch, Persia, Azeri, Arab, Tat, Gilak, Turkmen, dan lainnya. Sistem politik saat ini terstruktur di sekitar kepemimpinan ulama dan otoritas pemimpin tertinggi Iran.
Seorang warga negara Iran, Kaberi Babak, menjelaskan bahwa para kritikus melihat pemerintahan sekarang sebagai bentuk kediktatoran yang telah membatasi pluralisme politik. Ia juga mengungkapkan bahwa konflik militer antara Iran dengan AS dan Israel telah mengganggu kehidupan sehari-hari di beberapa kota.
”Di beberapa kota di Iran, kehidupan sehari-hari terganggu. Beberapa penduduk tetap tinggal di rumah mereka, sementara yang lain pindah ke daerah pinggiran kota atau pedesaan untuk menjauhkan diri dari lokasi militer atau pemerintah. Akses internet dibatasi, sehingga membatasi komunikasi dan aliran informasi.”

Konflik yang berkembang telah mengintensifkan perdebatan tentang masa depan politik Iran. Kaberi menjelaskan bahwa koalisi lima partai Kurdi utama secara luas dianggap sebagai salah satu blok oposisi yang paling terorganisir.
Namun, menurutnya, untuk saat ini, perkembangannya masih belum jelas. Para pengamat mencatat bahwa sejarah pemerintahan terpusat di Iran menimbulkan kekhawatiran tentang apakah transisi apa pun akan mengarah pada pluralisme yang berkelanjutan atau hanya bentuk lain dari kekuasaan yang terkonsentrasi.
