Banjir Melanda Kampung Candiga, Ratusan Warga Terancam
Banjir yang terjadi di wilayah Kampung Candiga RT 002/RW006, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Provinsi Banten telah mengakibatkan ratusan rumah warga terendam air setinggi 50 sentimeter (cm). Kejadian ini disebabkan oleh meluapnya aliran Kali Angke yang berada di sekitar pemukiman warga.
Salah satu korban banjir, Udin, menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat kiriman air dari Bogor, Jawa Barat. Ia menyampaikan hal tersebut saat berbicara dari balkon lantai dua rumahnya pada Senin (6/4/2026).
“Banjir disini terjadi karena kiriman dari Bogor jadinya Kali Angke meluap dan bikin banjir makin tinggi sampai setinggi dada orang dewasa kemarin,” ujar Udin.
Wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan Kosambi, Jakarta Barat itu telah direndam banjir selama tiga hari terakhir. Banjir awalnya datang tiba-tiba pada Sabtu (4/4/2026) sore sekira pukul 18.00 WIB dan naik dengan cepat hingga setinggi satu meter pada keesokan harinya.
Awalnya banjir sempat surut hingga setinggi pinggang orang dewasa atau setinggi 70 cm, namun hal tersebut tidak berlangsung lama lantaran hujan melanda sejumlah wilayah di Kota Tangerang. Hujan deras yang disertai terpaan angin kencang selama hampir satu jam lamanya pada Minggu (5/4/2026) kemarin membuat ketinggian banjir meningkat.
Puncaknya banjir mencapai ketinggian leher orang dewasa yang memaksa ratusan masyarakat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman karena rumahnya tak lagi dapat ditempati.
“Kampung Candiga dan Candulan ini emang persis berdampingan dengan kali Angke, jadi kalau hujan turun lebat ditambah kiriman dari Bogor sudah pasti akan banjir lebih dari 1 meter,” ungkap Udin.
Ratusan warga dari tiga RT yang ada di Kampung Candiga dan Candulan akhirnya dievakuasi akibat banjir yang melanda pemukiman warga sempat setinggi 1,2 meter. Akibatnya, warga yang rumahnya terendam banjir pun harus terpaksa mengungsi atau tinggal sementara di lokasi tempat pemotongan hewan dan masjid yang aman dari banjir.
“Saya mau ikut ngungsi bingung gimana caranya, soalnya udah sempat berlindung ke lantai dua, tapi Alhamdulillah air enggak parah naiknya,” sambung Udin.
Salah seorang warga lainnya, Wati, menuturkan bahwa hingga saat ini warga yang mengungsi di rumah pemotongan hewan tersebut belum mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal masyarakat yang mengungsi tidak hanya terdiri orang dewasa, namun juga diikuti anak-anak, balita sampai warga lanjut usia (lansia).
“Semenjak mengungsi kesini, belum ada sama sekali bantuan dari pemerintah, padahal kami membutuhkan pakian, makanan dan lainnya,” kata dia.
Ia pun berharap, Pemerintah Kota Tangerang dapat segera menuntaskan persoalan banjir yang melanda dua perkampungan yang terletak di tepi aliran Sungai Angke tersebut. Sebab banjir yang melanda kawasan yang berbatasan dengan wilayah Ibu Kota DKI Jakarta tersebut telah terjadi sejak dahulu tanpa adanya solusi.
“Di sini mah udah sering banget banjir, jadi langganan bahkan, makanya warga sudah hampir terbiasa saking seringnya kena banjir,” ucapnya.
“Kondisi banjir juga semakin diperburuk karena saluran air atau drainase yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, jadi butuh waktu lama supaya banjirnya bisa surut,” terangnya.
