Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Daerah

Puluhan Tahun Berjuang Lawan Karhutla, Asap Peat Menghiasi Mimpi Edi Efendi

Rizal Hartanto
Last updated: February 4, 2026 11:44 pm
Rizal Hartanto
Share
5 Min Read
SHARE

Pengabdian Tanpa Gaji: Kehidupan Relawan Pemadam Kebakaran di Kalbar

Edi Efendi (63) telah mengabdikan dirinya selama lebih dari 40 tahun sebagai relawan pemadam kebakaran di Yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti yang berlokasi di Jalan Suprapto, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar. Aktivitasnya ini dimulai sejak tahun 1982 dan fokus pada penanggulangan kebakaran hutan dan lahan semakin intens sejak 1990-an.

Ketertarikan Edi menjadi relawan bermula saat ia menyaksikan kebakaran besar di wilayah Barito pada awal 1970-an ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia melihat masyarakat benar-benar kena musibah, dan dari sana ia tertarik ingin menolong orang dan mengurangi kerugian materi maupun jiwa.

“Ini karena ini adalah suatu panggilan jiwa. Kemudian bisa membantu masyarakat untuk mengurangi peristiwa kebakaran dan mengurangi harta benda dan jiwa,” katanya.

Dulu jumlah relawan pemadam kebakaran masih sangat sedikit. Hanya ada beberapa kelompok relawan yang bergerak dan berbeda dengan sekarang yang sudah mulai banyak bermunculan. Edi mengaku bahwa relawan belum banyak waktu itu masih bekerja sama dengan damkar departemen kehutanan.

Sejak saat itu, ia kerap ikut bergabung membantu pemadaman setiap kali terjadi kebakaran. Di balik aktivitas berisiko tinggi tersebut, Edi mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga. Orang tua hingga istrinya selalu mendukung setiap kali ia menerima panggilan kebakaran.

“Kalau ada panggilan kebakaran, mereka siapkan pakaian dan sepatu saya. Sampai sekarang istri, cucu, anak saya selalu mendukung. Jadi dukungan dari keluarga membuat kita tidak ragu lagi menjadi pemadam kebakaran,” ungkapnya.

Bahkan salah satu keponakannya kini ikut terlibat sebagai relawan pemadam kebakaran Panca Bhakti. Edi mengenang masa-masa berat memadamkan kebakaran di kawasan gambut yang dulunya masih berupa hutan lebat.

Menurutnya, api di lahan gambut jauh lebih sulit dipadamkan dan membutuhkan waktu serta biaya besar. Ia menuturkan dulu relawan harus bekerja siang dan malam, tidur sebentar di lokasi, lalu kembali melanjutkan pemadaman.

Kekurangan air, panas ekstrem, hingga minim logistik menjadi tantangan yang sering dihadapi. Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi pada 1990-an saat memadamkan kebakaran di kawasan Gunung Palung. Ia bersama tim harus bertahan hingga dua minggu di dalam hutan.

“Makanan waktu itu di-drop. Capeknya baru terasa setelah pulang, tapi di lapangan tidak terasa karena fokus kerja,” ucapnya.

Baginya, keberhasilan memadamkan api hingga benar-benar padam menjadi kebanggaan tersendiri. Edi mengaku paling prihatin saat melihat masyarakat, terutama anak-anak dan lansia terdampak asap tebal saat musim karhutla.

“Prihatin kecapean di hutan itu sering, gimana hutan bisa padam itu yang kita pikirkan terus. Pernah putus asa tapi tidak sampai nangis karena semata memandang cuma asap jadi tidak kelihatan rumah,” ceritanya.

Ia bahkan mengaku pengalaman di lapangan kerap terbawa hingga ke dalam mimpi, di mana ia memikirkan kapan api benar-benar bisa dipadamkan. “Pernah mimpi di lapangan, kok tidak selesai-selesai. Sampai kapan harus selesainya gitu,” kenangnya.

Seiring bertambahnya usia dan kondisi kesehatan, Edi kini tak lagi selalu terlibat langsung dalam proses pemadaman. Namun ia masih kerap turun ke lokasi untuk memantau kebakaran. Meski sudah puluhan tahun mengabdi, Edi menegaskan dirinya tidak pernah menerima gaji maupun tunjangan.

“Tidak ada gaji, tidak ada tunjangan. Kadang dikasih uang makan, itu sudah alhamdulillah. Kita tidak mengharap gaji, tidak mengharap bayaran dari masyarakat. Kita betul-betul relawan untuk masyarakat dan masyarakat bisa tertolong Alhamdulillah,” tambahnya.

Ia mengimbau masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. “Kalau bisa membuka lahan jangan dengan membakar. Dampaknya besar dan merugikan banyak orang,” imbaunya.

Ia juga berharap relawan muda mau belajar ilmu pemadaman yang benar khususnya teknik menangani kebakaran gambut yang membutuhkan penanganan khusus. “Relawan yang masih muda tuntunlah ilmu kebakaran yang benar jangan hanya semprot air karena air yang kita semprot itu merupakan senjata bunuh diri kita. Belajarlah ke senior-seniornya tentang ilmu kebakaran,” pungkasnya.


Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByRizal Hartanto
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Daerah

Wau! Desa Balangtaroang Tuntaskan PBB 100 Persen, Tercepat di Bulukumba

December 29, 2025
Daerah

Angka Perceraian Meningkat, Mlowes Bantu Jaga Keharmonisan Keluarga

January 8, 2026
Daerah

Kabel Menggantung di Jalan Saharjo: Pejalan Kaki Tunduk, Pengendara Terancam

December 29, 2025
Daerah

Bupati Sujiwo Terlibat dalam Insiden Lift Jatuh di Masjid Kubu Raya

April 20, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?