Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran Semakin Memanas
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran semakin memuncak sejak dimulainya konflik pada 28 Februari 2026 lalu. Kedua belah pihak terus melancarkan serangan satu sama lain, dengan AS dan Israel tidak berhenti mengirimkan ancaman dan tindakan militer. Di sisi lain, Iran juga tidak tinggal diam dan terus melakukan perlawanan.
Presiden AS, Donald Trump, kini menargetkan aset energi Iran sebagai langkah balasan. Ia juga memberikan bantahan terkait kabar yang menyebut bahwa AS tidak ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Bahkan, Trump menyatakan bahwa AS sedang menjalin pembicaraan dengan Iran. Namun, target serangan berikutnya belum dapat dilaksanakan dan ditunda hingga 6 April 2026. Penundaan ini disebabkan atas permintaan dari Iran sendiri.
Trump mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah pernyataan di platform Truth Social, yang ia posting pada hari Kamis (26/3/2026). Ia menegaskan bahwa pembicaraan sedang berlangsung dengan sangat baik, meskipun ada beberapa pernyataan yang bertentangan dari media tertentu.
Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum kepada Iran agar membuka Selat Hormuz. Ia memberi waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka jalur penting bagi kapal tanker minyak. Selain itu, Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tekanan tidak segera berakhir. Kini, ia kembali memperpanjang tenggat waktu tersebut dua kali.
“Sesuai permintaan Pemerintah Iran, mohon agar pernyataan ini berfungsi sebagai pemberitahuan bahwa saya menunda periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 Waktu Bagian Timur,” jelasnya.
AS Mengklaim Iran Siap Negosiasi
Utusan Trump, Steve Witkoff, menyampaikan bahwa Teheran menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa mereka siap untuk bernegosiasi. Dalam rapat kabinet sebelumnya, ia mengungkapkan bahwa Washington telah menyampaikan “daftar aksi” 15 poin kepada Teheran melalui pejabat Pakistan.
“Kita akan lihat ke mana arahnya, dan apakah kita bisa meyakinkan Iran bahwa ini adalah titik balik tanpa alternatif yang lebih baik bagi mereka, selain lebih banyak kematian dan kehancuran,” kata Witkoff.
Posisi AS dan Iran dalam Negosiasi
Pada hari Kamis, Iran dan AS tampaknya menghadapi jalan buntu dalam pembicaraan gencatan senjata. Kedua belah pihak terus memperkeras posisi mereka, yang berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut dalam konflik Timur Tengah.
Dalam perang yang tampaknya ditentukan oleh kemampuan masing-masing pihak untuk menanggung penderitaan, AS telah menawarkan tujuan yang berubah-ubah. Termasuk memastikan bahwa program rudal dan nuklir Iran tidak lagi menjadi ancaman serta mengakhiri dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan tersebut. Washington juga pernah mendorong penggulingan sistem pemerintahan teokratis di Iran.
Meskipun kampanye AS-Israel telah menghantam militer dan pemerintah Iran dengan keras, termasuk menewaskan para pemimpin puncak dan menyerang puluhan target, Iran tetap melanjutkan penembakan rudal. Tidak ada tanda-tanda pemberontakan terhadap pemerintah Iran.
Bagi Iran, sekadar bertahan dari serangan bisa dianggap sebagai kemenangan. Mereka mungkin berharap AS akan mundur dengan mengacaukan ekonomi dunia melalui cengkeraman mereka di Selat Hormuz, yang telah mengganggu pengiriman minyak dan gas alam serta meningkatkan harga energi dan barang di seluruh dunia.
Tanpa solusi yang dinegosiasikan, AS memerlukan eskalasi dramatis untuk mengakhiri serangan Iran dan memulihkan arus bebas barang melalui selat tersebut, tempat 20 persen dari seluruh perdagangan minyak dan gas alam diangkut pada masa damai.
Iran Menolak Proposal Gencatan Senjata
Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan oleh AS, sambil mengajukan tuntutan sendiri. Trump telah bersumpah akan menyerang pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz. Batas waktu baru yang ditetapkan oleh Trump ini mengurangi ancaman sebelumnya untuk mengebom pembangkit energi Iran jika Teheran tidak membuka jalur air penting tersebut.
Iran mengancam akan membalas dendam terhadap infrastruktur vital kawasan, seperti fasilitas desalinasi, jika Trump benar-benar melaksanakan ancamannya. Trump mengatakan ia menunda pelaksanaan ancamannya karena pembicaraan yang bertujuan untuk mengakhiri konflik berjalan “dengan sangat baik.”
Blok Negara-Negara Teluk Arab
Sebuah blok negara-negara Teluk Arab mengatakan pada hari Kamis bahwa Iran sekarang memungut biaya dari kapal-kapal untuk memastikan perjalanan mereka yang aman melalui jalur perairan tersebut.
