Perundingan Maraton AS-Iran di Pakistan Berakhir Buntu
Perundingan maraton yang berlangsung selama hampir 24 jam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, akhirnya berakhir tanpa mencapai kesepakatan. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelesaikan perbedaan mendasar terkait program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Namun, perbedaan pendapat yang tajam antara kedua belah pihak menghambat proses negosiasi.
Presiden Donald Trump merespons kegagalan tersebut dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade total terhadap Selat Hormuz. Ia juga mengancam akan menghancurkan setiap serangan dari Iran. Di sisi lain, AS memberi peringatan kepada China agar tidak mengirim senjata ke Iran, sementara Pakistan dan Rusia menawarkan diri sebagai mediator untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Perspektif Pihak AS
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa negosiasi damai dengan Iran gagal karena ketidaksepahaman terkait komitmen pengembangan senjata nuklir. Ia menjelaskan bahwa sejumlah diskusi substantif telah dilakukan, tetapi belum menghasilkan kesepakatan. Vance menilai bahwa titik krusial terletak pada sikap Iran yang tidak bersedia menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir.
“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir, dan tidak akan mencari sarana yang memungkinkan mereka dengan cepat mencapainya,” ujarnya dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa syarat tersebut menjadi tujuan utama Presiden Trump dalam negosiasi.
Selama proses negosiasi, Vance mengaku berkomunikasi intensif dengan sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menetapkan sejumlah “garis merah” yang tidak dapat ditawar, terutama terkait program nuklir Iran.
Ancaman dan Peringatan dari Presiden Trump
Presiden Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai blokade di Selat Hormuz setelah Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai. Keputusan ini diambil sebagai bentuk respons terhadap ancaman dari Iran. Trump menyatakan bahwa blokade akan segera diberlakukan terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di platform ‘Truth Social’. Ia juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, menyatakan bahwa setiap warga Iran yang menembaki AS atau kapal akan DIHANCURKAN.
Trump juga memberikan peringatan kepada China bahwa mereka akan menerima konsekuensi jika mengirimkan senjata ke Iran. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia ditanya mengenai laporan intelijen AS yang menunjukkan Beijing sedang bersiap untuk mengirim senjata ke Iran.
Perspektif Pihak Iran
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengungkapkan bahwa perundingan berakhir tanpa hasil karena tuntutan yang diajukan pihak AS dinilai berlebihan. Ia mengatakan bahwa kedua pihak sebenarnya telah mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, tetapi masih terdapat perbedaan pandangan pada 2-3 topik utama yang menjadi penghambat kesepakatan.
Ia menjelaskan bahwa kompleksitas isu yang dibahas semakin meningkat, terutama dengan masuknya topik baru seperti Selat Hormuz, yang memiliki dimensi strategis dan kepentingan besar bagi banyak pihak. Jalur ini merupakan lintasan sekitar 20 persen pasokan energi global dan telah diblokade Iran sejak konflik dimulai.
Harapan dan Upaya Diplomasi
Meski perundingan menemui jalan buntu, tanda-tanda pemulihan terbatas mulai terlihat. Dikutip dari Reuters, tiga kapal tanker raksasa bermuatan penuh minyak dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menjadi yang pertama sejak gencatan senjata diberlakukan. Namun, ratusan kapal lainnya masih tertahan di kawasan Teluk, menunggu kepastian keamanan.
Pemerintah Pakistan menegaskan akan terus berperan sebagai mediator dalam upaya dialog antara AS dan Iran, meskipun perundingan terbaru di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Pakistan menyampaikan harapan agar kedua pihak tetap menjaga komitmen terhadap gencatan senjata serta melanjutkan upaya diplomasi.
Di satu sisi, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk membantu upaya perdamaian antara AS dan Iran. Pernyataan itu disampaikan langsung kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon. Kremlin mengungkapkan bahwa Putin menekankan kesiapannya untuk terus memfasilitasi penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik, serta untuk memediasi upaya mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Timur Tengah.
Kesimpulan
Pertemuan di Islamabad ini merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus menjadi pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran pada 1979. Meski sempat memunculkan harapan akan tercapainya solusi damai, kegagalan perundingan ini justru menambah ketidakpastian, terutama terhadap nasib gencatan senjata yang masih berlangsung dan stabilitas kawasan yang belum sepenuhnya pulih.
