Penanganan Kebakaran di Rusunawa Sombo: Strategi 4 Lapis dan Teknologi Baru
Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah-langkah proaktif untuk mencegah terulangnya kejadian kebakaran di Rusunawa Sombo, Jalan Sombo, Surabaya. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka berat, kejadian tersebut menjadi peringatan bahwa sistem mitigasi kebakaran harus diperkuat.
- Penanganan Kebakaran di Rusunawa Sombo: Strategi 4 Lapis dan Teknologi Baru
- Strategi 4 Lapis dalam Mitigasi Kebakaran
- Pentingnya Golden Time dalam Penanganan Kebakaran
- Peran Penghuni dalam Pencegahan Kebakaran
- Inovasi Teknologi dalam Mitigasi Kebakaran
- Tantangan dan Solusi dalam Penerapan Strategi
- Kesimpulan
Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah penggunaan teknologi pemadam api modern. Pemkot Surabaya bekerja sama dengan pengelola rusun untuk memastikan alat pemadam seperti APAR konvensional digunakan secara efektif, tetapi juga mengadopsi inovasi baru seperti alat pemadam lempar dan gas thermatic otomatis.
Strategi 4 Lapis dalam Mitigasi Kebakaran
Strategi yang dirancang oleh Pemkot Surabaya terdiri dari empat lapis mitigasi. Lapis pertama dan kedua fokus pada perlindungan di dalam unit hunian, khususnya area dapur yang sering menjadi sumber kebakaran. Setiap penghuni wajib menyediakan alat pemadam otomatis di sekitar kompor serta perangkat thermatic di plafon yang aktif saat suhu tinggi terdeteksi.
Lapis ketiga melibatkan paguyuban penghuni untuk menjaga area unit dan koridor. APAR portable 3 kilogram akan tersedia di dalam unit, sedangkan APAR 6 kilogram ditempatkan di koridor setiap 20–25 meter agar mudah dijangkau saat darurat. Penataan jarak ini dilakukan karena evaluasi menunjukkan bahwa APAR yang terlalu jauh membuat respons awal kurang efektif.
Lapis keempat mencakup tanggung jawab pengelola dan Pemkot untuk sistem skala besar di area umum. Fasilitas seperti tabung pemadam berkapasitas 6 kilogram di titik strategis akan ditanggung pengelola, sementara sebagian lainnya menjadi tanggung jawab paguyuban melalui iuran warga.
Pentingnya Golden Time dalam Penanganan Kebakaran
Menurut Iman Kristian, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, penanganan kebakaran di rusun sangat bergantung pada golden time atau 1–3 menit awal kebakaran. “Golden time itu istilahnya 1 sampai 3 menit saat awal terjadinya kebakaran harus sudah dipadamkan,” ujarnya.
Untuk memastikan hal ini, Pemkot akan melakukan pelatihan mitigasi bencana secara rutin kepada semua penghuni. Selain itu, inspeksi rutin setiap enam bulan akan dilakukan untuk memastikan kondisi dan tekanan APAR tetap layak pakai. Simulasi evakuasi serta edukasi kebencanaan juga direncanakan minimal satu kali dalam setahun agar penghuni memahami prosedur penyelamatan diri dan penggunaan alat pemadam.
Peran Penghuni dalam Pencegahan Kebakaran
Iman menegaskan bahwa pencegahan kebakaran di rusun tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Keterlibatan aktif penghuni menjadi faktor penentu keberhasilan sistem ini. “Setiap penghuni juga wajib memiliki alat personal yang dapat bekerja otomatis untuk memadamkan sumber api,” katanya.
Kebakaran di Rusunawa Sombo pada Rabu sore (25/2/2026) akibat dugaan korsleting listrik membakar empat kamar di lantai tiga dan mengakibatkan satu orang penghuni mengalami syok. Pemkot mengerahkan 11 unit pemadam kebakaran dan enam unit rescue untuk menangani insiden tersebut. Penghuni yang mengalami syok langsung mendapatkan penanganan tim medis dengan pemberian oksigen di lokasi kejadian.
Inovasi Teknologi dalam Mitigasi Kebakaran
Selain APAR konvensional, Pemkot Surabaya juga mempertimbangkan penggunaan alat pemadam lempar dan gas thermatic otomatis. Alat-alat ini dirancang untuk bereaksi secara otomatis ketika mendeteksi panas tinggi atau percikan api. Misalnya, alat yang bisa dilemparkan langsung memadamkan api, serta alat yang diletakkan di area rawan kebakaran yang akan aktif mengeluarkan gas thermatic jika ada percikan api.
Teknologi semacam ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kebakaran di rusun. Dengan kombinasi alat pemadam modern dan pelatihan rutin, Pemkot Surabaya berkomitmen untuk menciptakan lingkungan hunian yang lebih aman bagi penghuni.
Tantangan dan Solusi dalam Penerapan Strategi
Meski strategi 4 lapis telah dirancang, beberapa tantangan tetap perlu dihadapi. Salah satunya adalah pembagian tanggung jawab antara pengelola, paguyuban, dan penghuni. Untuk mengatasi ini, Pemkot Surabaya berupaya membangun kerja sama yang kuat dan saling mendukung antara semua pihak.
Selain itu, pengelolaan anggaran dan pengadaan alat pemadam juga menjadi perhatian khusus. Beberapa tabung pemadam kebakaran 6 kilogram akan dicover oleh paguyuban, sementara sebagian lainnya menjadi tanggung jawab pengelola. Ini masih dalam konsep karena tidak semua biaya bisa ditanggung oleh pengelola.
Kesimpulan
Dengan kombinasi teknologi canggih, pelatihan rutin, dan partisipasi aktif penghuni, Pemkot Surabaya berupaya menciptakan sistem mitigasi kebakaran yang lebih efektif dan aman. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan dan memberikan rasa aman bagi para penghuni rusun.
