Bencana Longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua
Bencana longsor besar yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menyisakan duka mendalam bagi warga setempat. Hingga kini, sebanyak 14 jenazah telah ditemukan, sementara sekitar 80 warga masih dinyatakan hilang. Kejadian ini terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, ketika tanah tiba-tiba bergerak dan menghancurkan permukiman warga.
Detik-Detik Mencekam Saat Bencana Terjadi
Wawa (40), salah satu warga yang selamat dari bencana, menceritakan pengalamannya saat longsor terjadi. Ia menggambarkan suasana gelap, hujan deras, dan suara gemuruh yang memekakkan telinga sebagai awal mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.
“Saya langsung lari sejauh mungkin, pokoknya menyelamatkan diri,” katanya. Wawa bersama puluhan keluarga lainnya harus berlarian dalam kepanikan tanpa membawa apa pun, karena waktu terlalu sempit untuk membawa barang.
Sejumlah korban bahkan terjatuh dalam lumpur dan hujan yang terus mengalir dari perbukitan. Sebagian warga terpisah dari anggota keluarganya, sehingga tangis dan kepanikan pecah di tengah kondisi yang sangat sulit.
Menurut Wawa, sekitar pukul 05.00 WIB, ia dan puluhan warga lainnya berhasil mencapai Kantor Desa Pasirlangu untuk mengungsi. Namun, ia datang tanpa membawa apa pun selain pakaian yang melekat di badannya.
Kebutuhan Mendesak di Pengungsian
Di pengungsian, kebutuhan dasar mulai bermunculan. Menurut Wawa, bantuan untuk bayi menjadi yang paling dibutuhkan saat ini, seperti pakaian, susu, dan perlengkapan dasar lainnya. Sementara bagi orang dewasa, selimut, matras, makanan, dan alat mandi sangat diperlukan.
“Yang paling penting sekarang itu bayi dan penghangat badan. Malam dingin sekali,” ujarnya. Di balik rasa syukur atas keselamatan keluarganya, kecemasan masih menyelimuti hatinya. Beberapa anggota keluarganya—paman, bibi, hingga keponakan—masih belum ditemukan.
Proses Pencarian Korban
Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian di tengah medan yang sulit. Hingga sore hari, sebanyak 14 jenazah berhasil ditemukan dari sejumlah titik terdampak dengan rincian 7 jenazah ditemukan di worksite A1, 6 jenazah di worksite A2, dan satu jenazah di worksite B1.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana menjelaskan bahwa proses pencarian dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, serta relawan. Metode pencarian menggunakan alat berat, pencarian manual, dan dukungan drone UAV untuk memetakan area rawan.
Namun, medan yang terjal dan kondisi tanah labil menjadi tantangan utama di lapangan. Selain faktor cuaca yang sempat diguyur hujan, akses menuju lokasi juga menyulitkan proses evakuasi. Jenazah yang berhasil ditemukan harus dievakuasi secara estafet sebelum dibawa ke ambulans untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Status Siaga Darurat Bencana
Kabupaten Bandung Barat saat ini berada dalam Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, dan Tanah Longsor berdasarkan Keputusan Bupati Bandung Barat Nomor 100.3.3.2/Kep.359-BPBD/2025 yang berlaku sejak 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang berlaku mulai 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
BPBD Kabupaten Bandung Barat bersama lintas instansi gabungan masih melakukan pendataan lanjutan dan pemantauan di lokasi terdampak, termasuk proses pencarian korban serta penilaian kebutuhan darurat.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Seiring dengan meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Barat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi untuk menurunkan intensitas curah hujan.
OMC telah berlangsung sejak 12 Januari 2026 di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan mengerahkan dua unit pesawat, yakni PK-JVH dan CASA 212 A-2105, yang beroperasi dari Lanud Halim Perdanakusuma. Pesawat PK-JVH melaksanakan 32 sortie di wilayah Jawa Barat dengan total bahan semai 32.000 kilogram selama periode 13–22 Januari 2026. Sementara itu, pesawat CASA 212 A-2105 melaksanakan 19 sortie di wilayah DKI Jakarta dengan total bahan semai 12.400 kilogram pada periode 16–22 Januari 2026.
Untuk mengoptimalkan pengendalian curah hujan, sejak 23 Januari 2026 BNPB menambah dua unit pesawat Caravan dalam pelaksanaan OMC. Operasi ini juga dapat diperluas ke wilayah Provinsi Banten apabila terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem.
BNPB mengimbau masyarakat di wilayah rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila kondisi dinilai tidak aman.
