Kehidupan Seorang Penjahit Sepatu di Pasar Minggu Tilamuta
Hamidun Diko, yang akrab disapa Midun, adalah seorang penjahit sepatu yang telah bekerja selama 29 tahun di Pasar Minggu Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Warga Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta ini telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menjahit sepatu dan sandal. Meskipun usahanya terlihat sederhana, keterampilannya tetap sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat.
Midun memulai usahanya dari tahun 1997, awalnya ia membuka lapak di Pasar Lama yang berlokasi di dekat Masjid Agung Baiturahman, Desa Hungayonaa. Namun, seiring adanya pembangunan masjid tersebut, lokasi pasar dipindahkan ke tempat yang sekarang menjadi tempat usahanya. Ia pun ikut memindahkan lapaknya ke lokasi baru tersebut.
“Saya menjahit sudah 29 tahun, dari tahun 1997, sebelumnya saya menjahit di Pasar lama yang saat ini sudah di bangun Mesjid Agung Baiturahman,” ujarnya saat bertemu wartawan pada Minggu (19/04/2026).
Hanya bermodalkan tempat duduk dan meja kayu, tempat itu menjadi tempat kerja sekaligus sumber penghidupan bagi Midun. Ia menyiapkan bahan seperti jarum jahit sepatu, benang, nilon, pisau, dan bahkan potongan ban bekas untuk memperbaiki sepatu pelanggan.
Dulu, harga perbaikan sepatu masih Rp 2.500 per pasang, namun kini harganya telah meningkat menjadi Rp 20 ribu per pasang. “Dulu harganya tahun 1997 masih Rp 2.500 per pasang sepatu, kini harganya sudah Rp 20 ribu per pasang,” jelasnya.
Namun, beberapa tahun terakhir, penghasilannya sebagai tukang jahit mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produksi sendal niles yang terbuat dari karet. Sendal-sendal tersebut nyaris tidak membutuhkan jasa jahit lagi.
“Semenjak banyak sendal karet, penghasilan saya sudah menurun drastis,” ungkapnya.
Saat ini, Midun hanya menerima sekitar 5 pasang sepatu per hari, dengan penghasilan sekitar Rp 75 ribu. Padahal sebelumnya, ia bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp 150 hingga 200 ribu per hari. “Saya biasa buka dari pukul 9 pagi sampai jam 12 siang. Kalau sudah siang biasanya sudah mulai sepi, jadi saya tutup,” tambahnya.
Meski tergolong jasa menjahit yang tampak sederhana, keahliannya masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Kalau di sini biasanya orang datang untuk jahit sepatu, jahit sendal, ganti tapak, sama perbaiki sandal juga ada. Semua tergantung kondisi barangnya,” jelasnya.
Midun mematok tarif yang menyesuaikan dengan tingkat kesulitan dan kemampuan pelanggan. “Kalau sendal biasanya mulai dari Rp 15 ribu. Kalau sepatu seperti pantofel itu sekitar Rp 20 ribu, tapi tetap tergantung tingkat kesulitannya juga,” katanya.
Midun menghadapi tantangan tersendiri, yaitu belum memanfaatkan media sosial untuk promosi. Selama ini pelanggan datang hanya berdasarkan informasi dari mulut ke mulut. “Saya tidak pernah pakai media sosial. Selama ini orang tahu dari mulut ke mulut saja, jadi kalau mau jahit ya langsung datang ke sini atau bisa antar ke rumah,” ujarnya.
Di balik kesederhanaan, Midun memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi satu anak dan satu cucu yang masih SD. “Saya kerja seperti ini salah satunya memang untuk keluarga, untuk kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah anak dan cucu saya,” tuturnya.
Penghasilan dari menjahit sepatu itulah yang dipakainya untuk menyambung hidup. Meski bekerja dengan segala keterbatasan, Midun tetap menyimpan asa. Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah bagi para pelaku usaha kecil seperti dirinya. “Harapan saya ke depan semoga ada bantuan, terutama untuk usaha kecil seperti kami ini. Kalau bisa dibantu tempat yang lebih layak atau peralatan kerja, pasti sangat membantu,” pungkasnya penuh harap.
Di Pasar Minggu Tilamuta, Midun terus berjuang tanpa keluhan. Berbekal jarum dan benang, ia memastikan roda kehidupan keluarganya terus berputar.
