Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Daerah

Kisah Hamidun Diko, Tukang Sepatu Berusia 29 Tahun di Boalemo Gorontalo

Rommy Argiansyah
Last updated: April 22, 2026 12:03 am
Rommy Argiansyah
Share
4 Min Read
SHARE

Kehidupan Seorang Penjahit Sepatu di Pasar Minggu Tilamuta

Hamidun Diko, yang akrab disapa Midun, adalah seorang penjahit sepatu yang telah bekerja selama 29 tahun di Pasar Minggu Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Warga Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta ini telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menjahit sepatu dan sandal. Meskipun usahanya terlihat sederhana, keterampilannya tetap sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Midun memulai usahanya dari tahun 1997, awalnya ia membuka lapak di Pasar Lama yang berlokasi di dekat Masjid Agung Baiturahman, Desa Hungayonaa. Namun, seiring adanya pembangunan masjid tersebut, lokasi pasar dipindahkan ke tempat yang sekarang menjadi tempat usahanya. Ia pun ikut memindahkan lapaknya ke lokasi baru tersebut.

“Saya menjahit sudah 29 tahun, dari tahun 1997, sebelumnya saya menjahit di Pasar lama yang saat ini sudah di bangun Mesjid Agung Baiturahman,” ujarnya saat bertemu wartawan pada Minggu (19/04/2026).

Hanya bermodalkan tempat duduk dan meja kayu, tempat itu menjadi tempat kerja sekaligus sumber penghidupan bagi Midun. Ia menyiapkan bahan seperti jarum jahit sepatu, benang, nilon, pisau, dan bahkan potongan ban bekas untuk memperbaiki sepatu pelanggan.

Dulu, harga perbaikan sepatu masih Rp 2.500 per pasang, namun kini harganya telah meningkat menjadi Rp 20 ribu per pasang. “Dulu harganya tahun 1997 masih Rp 2.500 per pasang sepatu, kini harganya sudah Rp 20 ribu per pasang,” jelasnya.

Namun, beberapa tahun terakhir, penghasilannya sebagai tukang jahit mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya produksi sendal niles yang terbuat dari karet. Sendal-sendal tersebut nyaris tidak membutuhkan jasa jahit lagi.

“Semenjak banyak sendal karet, penghasilan saya sudah menurun drastis,” ungkapnya.

Saat ini, Midun hanya menerima sekitar 5 pasang sepatu per hari, dengan penghasilan sekitar Rp 75 ribu. Padahal sebelumnya, ia bisa mendapatkan penghasilan sampai Rp 150 hingga 200 ribu per hari. “Saya biasa buka dari pukul 9 pagi sampai jam 12 siang. Kalau sudah siang biasanya sudah mulai sepi, jadi saya tutup,” tambahnya.

Meski tergolong jasa menjahit yang tampak sederhana, keahliannya masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Kalau di sini biasanya orang datang untuk jahit sepatu, jahit sendal, ganti tapak, sama perbaiki sandal juga ada. Semua tergantung kondisi barangnya,” jelasnya.

Midun mematok tarif yang menyesuaikan dengan tingkat kesulitan dan kemampuan pelanggan. “Kalau sendal biasanya mulai dari Rp 15 ribu. Kalau sepatu seperti pantofel itu sekitar Rp 20 ribu, tapi tetap tergantung tingkat kesulitannya juga,” katanya.

Midun menghadapi tantangan tersendiri, yaitu belum memanfaatkan media sosial untuk promosi. Selama ini pelanggan datang hanya berdasarkan informasi dari mulut ke mulut. “Saya tidak pernah pakai media sosial. Selama ini orang tahu dari mulut ke mulut saja, jadi kalau mau jahit ya langsung datang ke sini atau bisa antar ke rumah,” ujarnya.

Di balik kesederhanaan, Midun memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Ia harus menghidupi satu anak dan satu cucu yang masih SD. “Saya kerja seperti ini salah satunya memang untuk keluarga, untuk kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah anak dan cucu saya,” tuturnya.

Penghasilan dari menjahit sepatu itulah yang dipakainya untuk menyambung hidup. Meski bekerja dengan segala keterbatasan, Midun tetap menyimpan asa. Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah bagi para pelaku usaha kecil seperti dirinya. “Harapan saya ke depan semoga ada bantuan, terutama untuk usaha kecil seperti kami ini. Kalau bisa dibantu tempat yang lebih layak atau peralatan kerja, pasti sangat membantu,” pungkasnya penuh harap.

Di Pasar Minggu Tilamuta, Midun terus berjuang tanpa keluhan. Berbekal jarum dan benang, ia memastikan roda kehidupan keluarganya terus berputar.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByRommy Argiansyah
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Daerah

Istiyawati Terkejut Air Masuk ke Rumah di Ketapang Kendal

January 22, 2026
Daerah

Meningkatkan tata kelola risiko banjir berbasis bukti untuk kota Pontianak yang lebih tangguh

January 25, 2026
Daerah

Khawatir Kehabisan Tiket ke Kalimantan, Penumpang Menginap di Pelabuhan Silopo Polman

March 26, 2026
Daerah

Bocoran 6 Gerbang Tol Getaci: Bupati Minta 3, Wali Kota Santai

December 19, 2025
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?