Pendekatan Terpadu dalam Menghadapi Risiko Banjir di Kota Pontianak
Pemerintah Kota Pontianak terus memperkuat tata kelola risiko banjir melalui pendekatan berbasis data, partisipatif, dan berorientasi jangka panjang. Upaya ini dilakukan untuk menghadapi tantangan banjir yang semakin kompleks. Berbagai langkah telah diambil, termasuk penguatan basis ilmiah perencanaan, peningkatan keterlibatan masyarakat, serta pengembangan instrumen perencanaan keuangan untuk menghadapi dampak banjir.
Dalam proses ini, Pemeriptah Kota Pontianak bekerja sama dengan berbagai mitra akademik dan organisasi pendukung. Salah satu proyek yang mendukung adalah Proyek Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES). Proyek ini dilaksanakan oleh Fakultas Matematika dan Fakultas Ilmu Lingkungan Hidup, Universitas Waterloo di Kanada.
Pontianak, sebagai kota pesisir dataran rendah, menghadapi risiko banjir yang terus meningkat. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika pasang surut laut, curah hujan tinggi, dan penurunan muka tanah. Pada bulan Desember 2025, beberapa wilayah tercatat mengalami banjir rob hingga dua kali, dengan ketinggian air mendekati dua meter.
Edi Rusdi Kamtono, Wali Kota Pontianak, menyampaikan bahwa Pontianak berada di wilayah dengan topografi yang relatif rendah, dan sejumlah kawasan sangat rentan terhadap banjir rob. Di beberapa kawasan bantaran Sungai Kapuas, air laut kerap masuk ke rumah warga dan menimbulkan kerusakan material, bahkan memaksa warga mengungsi.
Dari Pemetaan Bahaya Banjir ke Analisis Risiko Finansial
Sebagai bagian dari upaya memperkuat perencanaan berbasis bukti, pada periode 2024–2025 Pemerintah Kota Pontianak mendapat dukungan dari Proyek FINCAPES untuk melaksanakan kajian risiko banjir komprehensif melalui pengembangan skenario dan peta bahaya banjir. Kajian ini bertujuan untuk memahami potensi perubahan frekuensi, kedalaman, dan durasi banjir di masa depan akibat perubahan iklim.
Studi ini dilaksanakan oleh Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala, dan hasil akhirnya telah diserahkan kepada Bapperida Kota Pontianak sebagai bahan rujukan dalam perencanaan dan pengambilan kebijakan pembangunan kota. Melanjutkan kajian awal tersebut, studi tindak lanjut yang berfokus pada perhitungan kerugian dan kerusakan banjir secara aktuaria kini tengah berlangsung.
Studi ini diawali dengan Kick-Off Meeting dan Bimbingan Teknis pada 15–16 Januari 2025, dan bertujuan untuk mengukur kerugian finansial akibat banjir, baik pada kondisi iklim saat ini maupun di bawah skenario perubahan iklim di masa depan. Hasil kajian diharapkan dapat memperkuat perumusan kebijakan, strategi pembiayaan risiko, serta perencanaan ketahanan kota dalam jangka panjang.
Integrasi Gender Equality dan Inklusi Sosial
Salah satu perhatian utama dalam studi ini adalah integrasi Gender Equality and Socio-Economic Inclusion (GESEI), agar perhitungan kerugian tidak hanya berfokus pada kerusakan fisik dan ekonomi, tetapi juga memperhitungkan perbedaan dampak berdasarkan gender, usia, disabilitas, dan struktur rumah tangga. Danang Teguh Qoyyimi, Team Lead Research dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa ketika potensi kerugian finansial besar, kesiapsiagaan perlu dibangun sejak dini, bukan setelah bencana terjadi.
Memperkuat Kesadaran Publik melalui Suara Komunitas
Selain penguatan kajian teknis, Pemerintah Kota Pontianak juga mendukung sepenuhnya peningkatan kesadaran publik dan komunikasi risiko sebagai bagian dari tata kelola risiko banjir yang lebih inklusif. Pendekatan ini merupakan proses berkelanjutan untuk membuka ruang dialog, pembelajaran, dan partisipasi masyarakat dalam memahami serta merespons risiko banjir.
Pada 2025, Yayasan Kolase, dengan dukungan Proyek FINCAPES, melaksanakan inisiatif Photovoice yang melibatkan warga dari kawasan rawan banjir untuk mendokumentasikan pengalaman mereka melalui fotografi dan narasi. Kegiatan diseminasi bertajuk “Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak” dilaksanakan pada 15–16 Januari 2026 di Rumah Budaya Kampung Wisata Caping, Pontianak Tenggara.
Kegiatan ini menampilkan 34 karya foto warga, refleksi komunitas, serta publikasi podcast, dan dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta warga setempat. Diseminasi dirancang sebagai ruang dialog berkelanjutan dengan melibatkan aktor komunitas dan organisasi lokal, termasuk Kreasi Sungai Putat dan Gantari Nawasena Society, yang turut berbagi pengalaman pendampingan masyarakat melalui diskusi podcast radio.
Menuju Tata Kelola Risiko Banjir yang Terpadu
Secara keseluruhan, penguatan kajian bahaya banjir, pengembangan analisis kerugian secara aktuaria, serta peningkatan kesadaran publik berbasis komunitas mencerminkan langkah Kota Pontianak menuju tata kelola risiko banjir yang lebih terpadu. Pendekatan ini menghubungkan data ilmiah, pengetahuan lokal, dan pertimbangan keuangan sebagai dasar untuk perencanaan pembangunan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
