Keluarga Evia Maria Curiga Kematian Putrinya Bukan Bunuh Diri
Keluarga Evia Maria Mangolo mulai meragukan kematian putrinya yang dinyatakan sebagai bunuh diri. Mereka percaya bahwa kematian Evia bukanlah akhir dari hidupnya, melainkan tindakan pembunuhan. Hal ini muncul setelah menemukan dua bukti yang dianggap janggal dalam kondisi korban ketika ditemukan.
Salah satu bukti yang menjadi perhatian adalah posisi kain yang melilit leher korban. Menurut kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali, posisi kain tersebut dinilai tidak biasa. Kain pada kasus gantung diri biasanya terpilin tidak rapi dan menunjukkan tanda-tanda tarikan ekstrem. Namun, kain yang digunakan untuk mengikat Evia terlihat rapi dan tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang biasanya terjadi akibat beban tubuh.
Selain itu, ditemukan luka lebam di bagian tubuh lain seperti pinggang kiri dan paha atas Evia. Hal ini juga mencurigakan karena biasanya luka lebam pada korban gantung diri hanya muncul di area leher akibat jeratan. Temuan ini memperkuat dugaan keluarga bahwa Evia dibunuh.
Otopsi untuk Mengungkap Fakta
Untuk memastikan penyebab kematian Evia Maria, keluarga memutuskan melakukan otopsi. “Agar supaya tidak ada multi tafsir, maka diputuskan untuk diadakan otopsi,” kata Cyprus Tatali kepada Tribunmanado di rumah persemayaman jenazah di Perum CBA Gold Mapanget, Minut, Jumat (2/1/2026).
Otopsi menjadi langkah penting agar semua kecurigaan dapat dijawab dengan fakta. Dengan hasil otopsi, keluarga berharap bisa menemukan jawaban yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Evia.
Sahabat Mengungkap Pengalaman Evia
Sebelum meninggal, Evia Maria sempat membuat surat laporan tentang pelecehan yang dialaminya. Salah satu sahabat dekatnya, Nadia, mengungkap kesaksian tentang keadaan Evia sebelum kematian. Nadia mengaku menjadi teman curhat Maria sejak mereka sama-sama sekolah di SMK Negeri 1 Siau Timur, Jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OKTP).

Nadia menyampaikan bahwa Evia sering bercerita tentang masalah yang dialaminya. Beberapa waktu sebelum meninggal, Evia datang ke kos Nadia dan menunjukkan rencana foto studio seperti foto kelulusan SMA. Saat itu, ia menangis dan menceritakan pengalaman pelecehan dari seorang dosen.
Evia juga sempat mengirimkan pesan suara kepada Nadia, mengaku telah melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada Wakil Dekan III (WD III). Pada 15 Desember, saat ulang tahun Nadia, Evia kembali menangis dan mengungkapkan ketakutannya terhadap dosen tersebut.

Akun Instagram Oknum Dosen
Dosen yang diduga melakukan pelecehan terhadap Evia memiliki akun Instagram dengan 313 pengikut. Namun, akun tersebut terlihat tidak aktif. Unggahan terakhirnya dibuat pada 27 Agustus 2015, di mana ia memamerkan foto bersama seorang wanita yang diduga adalah istrinya. Dalam unggahan tersebut, dosen tersebut sering membagikan potret bersama keluarganya.

Akun ini kini menjadi sorotan setelah nama dosen tersebut disangkutkan dengan kasus Evia Maria. Ulasan di akun tersebut banjir komentar negatif terkait dugaan pelecehan yang dilakukan.
Alumni Ikut Berbicara
Kasus yang menimpa Evia Maria juga membuat alumni PGSD Unima marah. Seorang alumni bernama Wulandari Albarzanji memberikan pernyataan melalui unggahan Instagram. Ia menyampaikan kekecewaannya terhadap dugaan pelecehan yang dialami Evia.
Wulan mengungkapkan bahwa nama dosen yang disebutkan oleh Evia sama dengan sosok dosen yang pernah melakukan hal serupa 10 tahun lalu. Ia meminta semua pihak, terutama alumni, untuk ikut mengawal kasus ini agar tidak terjadi lagi korban.
