Update Terbaru Konflik Iran vs Amerika
Sebuah unggahan di platform media sosial X, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) mengonfirmasi skala keterlibatan terbaru dalam konflik yang sedang berlangsung. Pemandangan umum cakrawala Dubai, dengan Burj Khalifa terlihat di tengah, menunjukkan situasi yang semakin memanas di kawasan tersebut.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah besar proyektil yang diluncurkan dari Iran. Dalam pernyataan resmi, mereka menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara UEA mencegat 7 rudal balistik dan 16 UAV yang diluncurkan dari Iran. Angka ini menambah jumlah tembakan yang dialami negara itu sejak dimulainya konflik.
Pernyataan tersebut juga mencatat dampak kumulatif dari konflik tersebut, dengan menyebutkan bahwa sejak dimulainya agresi Iran yang terang-terangan, pertahanan udara UEA telah mencegat 352 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1789 UAV. Operasi militer yang sedang berlangsung telah menyebabkan korban jiwa, termasuk 2 anggota angkatan bersenjata yang gugur saat menjalankan tugas nasional, 6 warga sipil yang meninggal, dan 161 orang luka-luka.
Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan melakukan panggilan telepon dengan kepala NATO Mark Rutte untuk membahas eskalasi militer yang sedang berlangsung di kawasan tersebut. Mereka membahas implikasi terhadap keamanan regional dan internasional, serta dampaknya terhadap pelayaran internasional dan ekonomi global. Ia juga menerima kunjungan Menteri Angkatan Bersenjata dan Urusan Veteran Prancis, Catherine Vautrin, yang dengannya ia membahas kerja sama dan koordinasi antara kedua negara dalam urusan pertahanan.
Pentagon Pertimbangkan Pengerahan Pasukan Lintas Udara ke Iran
Pentagon sedang mempertimbangkan kemungkinan pengerahan pasukan lintas udara untuk mendukung operasi militer di Iran. Menurut laporan The New York Times, pasukan tempur akan berasal dari “Pasukan Respons Cepat” Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS. Brigade ini terdiri dari sekitar 3.000 tentara yang mampu dikerahkan ke mana pun di dunia dalam waktu 18 jam. Namun, hingga saat ini belum ada perintah yang dikeluarkan oleh Pentagon atau Komando Pusat AS.
Opsi lain yang sedang dipertimbangkan adalah serangan oleh sekitar 2.500 pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31, yang sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah. Pasukan ini dapat digunakan untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa militer AS telah melakukan lebih dari 9.000 serangan di Iran, termasuk merusak atau menenggelamkan lebih dari 140 kapal angkatan laut Iran, sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan ini mengganggu pelayaran global, menyebabkan harga minyak melonjak, dan mengguncang ekonomi global.
Serangan ke Situs Nuklir Iran
Amerika Serikat dan Israel telah menyerang situs nuklir utama Iran, Natanz, pada Sabtu (21/3/2026). Pejabat Iran menyatakan tidak ada pelepasan material radioaktif dan tidak ada bahaya bagi masyarakat. Lokasi ini terletak sekitar 220 km dari ibu kota Teheran.
Ini bukan serangan pertama terhadap Natanz. Lokasi ini juga menjadi sasaran selama perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025. Iran diyakini memiliki sekitar 400 kg uranium yang sangat diperkaya, yang menurut negara-negara Barat berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Menurut laporan NDTV, penghancuran situs tersebut dapat bertindak seperti “bom kotor”, yakni menyebarkan material radioaktif ke area yang luas dan mengancam kehidupan serta kesehatan manusia. Namun, serangan terbaru AS dan Israel menunjukkan bahwa skenario terburuk sejauh ini berhasil dihindari.
Bahaya dari Serangan Nuklir
Bahaya paling serius berasal dari kerusakan pada reaktor nuklir. Saat reaktor beroperasi, fisi nuklir menghasilkan produk sampingan yang sangat radioaktif seperti Caesium-137, Strontium-90, dan Iodin-131. Jika terlepas ke lingkungan, zat-zat ini dapat menyebar luas. Iodin-131 sangat berbahaya, karena dapat menumpuk di kelenjar tiroid dan meningkatkan risiko kanker, terutama pada anak-anak.
Uranium, terutama dalam tingkat pengayaan tinggi, juga memancarkan radiasi, termasuk sinar gamma yang dapat menembus tubuh manusia dan merusak DNA. Paparan radiasi dapat terjadi melalui penghirupan partikel di udara, konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi, serta kontak langsung dengan kulit. Selain itu, uranium merupakan logam berat beracun yang dapat merusak organ seperti ginjal, bahkan tanpa paparan radiasi dalam jumlah besar.
Kemampuan Nuklir Iran dan Fasilitas Utamanya
Program nuklir Iran dimulai sejak 1950-an ketika Shah Mohammad Reza Pahlavi meluncurkannya dengan dukungan Amerika Serikat melalui inisiatif “Atom untuk Perdamaian”. Perjanjian kerja sama nuklir sipil ditandatangani pada 1957.
Situs-situs nuklir utama Iran meliputi:
-
Fasilitas Pengayaan Natanz
Terletak sekitar 220 km di tenggara Teheran, Natanz merupakan pusat pengayaan uranium utama Iran. Fasilitas ini mencakup Pabrik Pengayaan Bahan Bakar (FEP) bawah tanah dan Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Percontohan (PFEP) di atas tanah. -
Fasilitas Pengayaan Fordo
Fordo terletak sekitar 100 km barat daya Teheran dan dibangun di dalam gunung dekat Qom, sehingga sangat terlindungi dari serangan udara. -
PLTN Bushehr
Bushehr, di pesisir Teluk Persia, merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang beroperasi. Pembangunannya dimulai pada 1970-an dan diselesaikan oleh Rusia. -
Pusat Teknologi Nuklir Isfahan
Fasilitas ini terletak sekitar 350 km di tenggara Teheran dan mencakup reaktor penelitian, laboratorium, serta unit pengolahan uranium. -
Khondab (Proyek Arak)
Khondab merupakan reaktor air berat yang sempat dihentikan pembangunannya berdasarkan kesepakatan 2015. Iran menyatakan akan mengaktifkan kembali reaktor yang telah didesain ulang pada 2026 dengan pengamanan tertentu. -
Reaktor Penelitian Teheran
Reaktor ini dipasok AS pada 1967 dan awalnya menggunakan uranium yang sangat diperkaya, sebelum kemudian dimodifikasi menjadi bahan bakar berpengayaan rendah.
Serangan terhadap Situs Nuklir 2025
Pada Juni 2025, Israel meluncurkan Operasi Rising Lion yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran, termasuk Natanz. Tak lama kemudian, AS melakukan serangan dalam Operasi Midnight Hammer, menghantam Natanz, Fordo, dan Isfahan menggunakan bom penghancur bunker serta rudal jelajah. IAEA mengonfirmasi bahwa ketiga lokasi tersebut terdampak serangan.
Serangan ini menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur dan peralatan. Di Fordo, sistem sensitif dilaporkan rusak berat, meskipun struktur utama tetap utuh. Di Natanz, fasilitas di atas tanah dan sistem listrik mengalami kerusakan parah, sementara bagian bawah tanah sebagian besar tetap bertahan. Menurut Pentagon, serangan tersebut kemungkinan menunda program nuklir Iran selama satu hingga dua tahun, namun tidak menghentikannya sepenuhnya.
