Penelusuran Teror terhadap Ketua BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, mengaku menerima ancaman dan intimidasi melalui pesan WhatsApp dari nomor asing. Hal ini terjadi setelah ia menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, khususnya terkait kasus anak yang bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, ia juga mengaku diteror dengan dugaan penguntitan oleh dua orang tak dikenal.
Respons Istana Kepresidenan
Istana Kepresidenan merespons berita tersebut dengan menegaskan bahwa kritik merupakan hal yang dijamin konstitusi. Namun, mereka meminta penyampaiannya tetap mengedepankan etika, adab, serta pemilihan diksi yang tepat. Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, meskipun kebebasan berpendapat adalah hak konstitusi, cara menyampaikannya harus dilakukan dengan tanggung jawab.
“Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adat-adat ketimuran gitu lho,” ujarnya dalam pernyataannya.
Pemilihan Diksi yang Perlu Diwaspadai
Sebagai sesama alumni UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam menyampaikan pendapat. Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari penggunaan kata-kata yang dianggap tidak sopan.
“Penyampaian pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga itu perlu menjadi pelajaran bagi kita semua kan. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM,” tambahnya.
Penyelidikan atas Ancaman Teror
Prasetyo mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelaku ancaman teror yang dialami Ketua BEM UGM. Namun, ia menegaskan bahwa konstitusi tetap menjamin kebebasan berpendapat.
“Kalau teror kita enggak tahulah siapa yang meneror ya. Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan konstitusi kan menjamin kebebasan berpendapatnya ya. Maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting,” ujarnya.
Penggunaan Kata-Kata yang Menuai Polemik
Tiyo menjelaskan alasan penggunaan diksi yang menuai polemik dalam surat yang dikirim ke United Nations Children’s Fund (UNICEF). Ia mengatakan bahwa istilah “stupid” digunakan karena merasa Presiden tidak sadar terhadap realitas sosial yang terjadi di Indonesia.
“Rasanya pak presiden ini tidak sadar bahwa beliau punya ketidaktahuan terhadap realitas ini. Ketidaktahuan itu kita ambil sebagai diksi stupid. Karena dalam KBBI, bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kita ingin supaya ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri,” ucapnya.
Pengiriman Surat ke UNICEF
Surat tersebut dikirim sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi sosial di dalam negeri. Isinya menyentil ironi di mana seorang anak di Ngada, NTT, memilih mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku, sementara negara menggelontorkan dana Rp 16,7 triliun untuk iuran pada Board of Peace (BoP).
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp 1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Teror Melalui Pesan WhatsApp
Pesan WhatsApp dari nomor asing masuk ke gawai milik Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Nomor tersebut terdeteksi berasal dari Inggris Raya, namun pesan disampaikan menggunakan Bahasa Indonesia. Pesan bernada intimidatif itu masuk secara berulang, di antaranya berisi kalimat: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr”, “Banci”, serta “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.
Pesan-pesan tersebut dikirim dari nomor yang sama, namun pada waktu yang berbeda-beda. Teror pertama kali diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026). Selain itu, terdapat sekitar enam nomor asing lain yang terus menghubunginya, meski tidak ditanggapi.
Dugaan Penguntitan
Tidak hanya teror pesan singkat, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga mengaku sempat dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan. Namun, kedua sosok bertubuh tegap tersebut menghilang saat dikejar.
