Perang Israel-Amerika Serikat dan Iran: Korban Jiwa Meningkat, Tidak Ada Tanda-Tanda Mereda

Perang antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran telah berlangsung selama sepekan dan terus memakan korban jiwa. Dalam waktu singkat ini, jumlah korban yang tercatat mencapai ribuan, dengan sebagian besar berasal dari warga sipil di Iran. Konflik ini tidak hanya melibatkan dua negara besar, tetapi juga menyebar ke wilayah lain, termasuk negara-negara Teluk Arab seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
- Perang Israel-Amerika Serikat dan Iran: Korban Jiwa Meningkat, Tidak Ada Tanda-Tanda Mereda
- Lebih dari 1.322 Warga Sipil di Iran Tewas Akibat Serangan Israel-AS
- Presiden Iran Meminta Maaf atas Serangan ke Negara Tetangga
- Israel Meluncurkan Serangan Baru ke Teheran, Trump Minta Iran Menyerah
- Trump Ingin Terlibat dalam Proses Penentuan Pemimpin Baru Iran
- Iran Siapkan Gelombang Serangan ke-23, Target AS dan Israel
Serangan-serangan tersebut terus berlangsung, dengan Iran tidak tinggal diam dan melakukan balasan serangan. Namun, presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan penyesalan atas tindakan yang dilakukan, mengklaim bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan dalam situasi ini. Sampai saat ini, perang belum menunjukkan tanda-tanda pengurangan skala konflik.
Lebih dari 1.322 Warga Sipil di Iran Tewas Akibat Serangan Israel-AS
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengungkapkan bahwa lebih dari 1.322 warga sipil tewas akibat serangan gabungan Israel dan AS. Ia menilai bahwa beberapa insiden mungkin disebabkan oleh gangguan sistem pertahanan AS yang mengalihkan sasaran dari target militer yang dimaksud.
Selain korban jiwa, Iran juga melaporkan ribuan warga lainnya mengalami luka-luka. Iravani menegaskan bahwa Iran hanya menargetkan situs militer ketika melakukan serangan balasan terhadap musuhnya. Ia juga menekankan bahwa pemilihan pemimpin Iran akan berlangsung sesuai prosedur konstitusional tanpa campur tangan asing.

Presiden Iran Meminta Maaf atas Serangan ke Negara Tetangga
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang ikut terkena dampak serangan Iran. Serangan tersebut sebelumnya menargetkan pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah. Ia menjelaskan bahwa Iran menyerang negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Bahrain sebagai respons terhadap operasi militer Israel dan AS.
“Dewan kepemimpinan sementara kemarin sudah sepakat tidak akan lagi menyerang negara tetangga,” tambahnya.

Israel Meluncurkan Serangan Baru ke Teheran, Trump Minta Iran Menyerah
Israel kembali melancarkan gelombang serangan besar ke ibu kota Iran, Teheran. Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang terus meningkat sejak akhir Februari. Donald Trump, mantan presiden AS, menyatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali mereka menyerah tanpa syarat.
“Tak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali menyerah tanpa syarat,” ujarnya.

Serangan terbaru Israel disebut menyasar berbagai target milik pemerintah Iran di Teheran. Sementara itu, Komando Pusat AS mengeklaim telah menghancurkan sekitar 3.000 target di Iran dalam sepekan terakhir. Laporan media Iran menyebut sejumlah ledakan terdengar di bagian barat Teheran, meski detail kerusakan dan korban belum diungkap secara rinci.
Trump Ingin Terlibat dalam Proses Penentuan Pemimpin Baru Iran
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan ingin terlibat dalam proses penentuan pemimpin baru Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel-AS. Ia mengatakan, “Kami ingin terlibat dalam proses pemilihan sosok yang akan memimpin Iran di masa depan.”
Trump juga mengeklaim Iran sempat menghubungi Gedung Putih untuk membahas kemungkinan kesepakatan guna mengakhiri perang. Namun ia mengatakan permintaan itu datang ketika operasi militer masih terus berlangsung. “Saya bilang, kalian agak terlambat. Kami ingin berperang sekarang lebih dari mereka,” ujarnya.

Iran Siapkan Gelombang Serangan ke-23, Target AS dan Israel
Di tengah eskalasi konflik, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya gelombang serangan ke-23 yang menargetkan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut dilaporkan muncul bersamaan dengan peluncuran sejumlah rudal dari Iran menuju Israel. Militer Israel juga mengkonfirmasi adanya upaya pencegatan terhadap rudal-rudal tersebut.
Gelombang serangan ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dengan Israel dan AS masih terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

