Kebahagiaan Munahir, Satpam yang Akhirnya Diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu
Munahir (56), seorang satpam di Nusa Tenggara Barat (NTB), merasakan kebahagiaan luar biasa setelah 34 tahun mengabdi. Ia akhirnya diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Kejadian ini terjadi usai ia menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan tersebut dan diberi hadiah umrah gratis oleh Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal.
Pada momen penting tersebut, Munahir tak bisa menahan air mata dan langsung sujud syukur di depan Gubernur. Ia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah tersebut, apalagi setelah berjuang selama bertahun-tahun untuk tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Pengabdian yang Tak Terlupakan
Munahir mulai bekerja sebagai petugas jaga malam sejak 1990. Saat itu, SMKN 1 Dompu masih bernama Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Setelah lima tahun bekerja, ia kemudian diangkat sebagai satpam karena kebutuhan sekolah. Selama bertugas, ia tidak pernah memandang besar atau kecilnya gaji yang diterima. Yang terpenting baginya adalah bisa bekerja dan memiliki penghasilan untuk keluarga.
Selama 34 tahun bekerja, Munahir mengaku telah melewati banyak suka dan duka. Dalam situasi tertentu, ia bahkan sering memanfaatkan waktu luang untuk kerja sampingan demi menambah penghasilannya. Buah dari perjuangannya adalah dua anaknya yang kini telah lulus pendidikan tinggi dan menjadi guru di Bima dan Dompu. Salah satu anaknya masih menjalani pendidikan di SMK Pariwisata, sementara yang lainnya meninggal dunia.
Harapan untuk Masa Depan
Sebelum diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu, Munahir biasa menerima gaji bulanan dari pihak sekolah sebesar Rp1,8 juta. Namun, setelah pengangkatan ini, besaran gaji yang diterimanya turun drastis menjadi hanya Rp500.000 per bulan. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dan ikhlas menjalankan tugasnya.
Munahir mengungkapkan bahwa sebelumnya ia pernah mengikuti seleksi CPNS Kategori II (K2), namun gagal karena tidak memiliki SK Bupati Dompu. Pada akhir 2024, ia kembali mencoba seleksi PPPK Penuh Waktu, tetapi kembali gagal. Untungnya, ia masih bisa diakomodir melalui skema PPPK Paruh Waktu.
Ia berharap suatu saat nanti akan diangkat sebagai PPPK Penuh Waktu. “Kita tetap ikhlas dan tugas-tugas pokok dari sekolah tetap saya laksanakan,” ujarnya.
Sukses dalam Kehidupan
Meski gaji yang diterimanya turun, Munahir tetap percaya bahwa pengabdian dan kesabaran akan memberinya hasil yang baik. Ia juga merasa bangga karena telah mampu memberi pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Bahkan, salah satu dari mereka kini menjadi guru, yang merupakan bentuk kontribusi nyata dalam dunia pendidikan.
Kejadian ini juga menjadi bukti bahwa pengabdian yang tulus dan ikhlas akan dibalas dengan kebahagiaan dan penghargaan. Semoga keberhasilan Munahir menjadi inspirasi bagi banyak orang yang bekerja di bawah naungan pemerintah dan ingin diakui atas dedikasinya.
