Pengenalan Flag Football di Surabaya Melalui Taylormade Academy Flag Football (TAFF) Roadshow
Flag football, olahraga yang berasal dari American football, kini mulai dikenalkan secara luas kepada masyarakat Surabaya melalui Taylormade Academy Flag Football (TAFF) Roadshow Surabaya. Acara ini digelar di Lapangan Polda Jatim, Minggu (21/12/2025) pagi, dengan tujuan memperkenalkan olahraga ini sekaligus mencari bibit unggul yang bisa memperkuat Timnas Flag Football Indonesia.
Acara TAFF Roadshow Surabaya berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama ditujukan untuk pemula dan diadakan di Lapangan Polda Jatim. Sementara sesi kedua, yang digelar di Lapangan Poltekpel Surabaya, ditujukan bagi pemain profesional atau anggota timnas. Dengan format lima lawan lima, flag football memiliki ukuran lapangan yang lebih kecil dibandingkan sepak bola biasa, sehingga permainannya cepat, dinamis, dan penuh persaingan.
Hadirnya Pemain Profesional Asal Amerika Serikat
Salah satu hal menarik dalam roadshow kali ini adalah kehadiran Dana Taylor, seorang pemain profesional flag football asal Amerika Serikat yang saat ini menjadi asisten pelatih Timnas Putri Flag Football Indonesia. Kehadirannya memberikan pengalaman langsung bagi peserta untuk belajar dari atlet berpengalaman. Tidak hanya itu, Windra Thio, pelatih timnas putri Flag Football Indonesia, juga hadir dalam acara tersebut.
Windra Thio menjelaskan bahwa roadshow ini merupakan strategi untuk menjaring atlet potensial dari daerah, terutama siswa SMA atau mahasiswa. “Kami sedang mengundang mereka untuk try out agar bisa masuk ke timnas,” ujarnya.
Proses Pencarian Pemain Terus Dilakukan
Menurut Windra, Timnas Flag Football Indonesia masih tergolong baru, sehingga proses pencarian pemain terus dilakukan. Kriteria usia yang dibidik berkisar antara 16 hingga 30 tahun agar bisa diproyeksikan masuk skuad timnas. “Usia mulai dari 16 tahun sampai 30 tahun. Mereka sudah bisa masuk timnas, baik putra maupun putri,” jelasnya.
Di Surabaya sendiri, meskipun flag football sudah berkembang cukup lama, olahraga ini belum terlalu dikenal masyarakat luas. Salah satu komunitas yang aktif adalah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Windra menambahkan bahwa di Jakarta, komunitas dan timnya lebih banyak dibandingkan Surabaya.
Masuk Cabang Olahraga Olimpiade
Flag football dikenal sangat populer di Amerika Serikat. TAFF berupaya membawa olahraga ini semakin dikenal di Indonesia, terlebih setelah flag football resmi masuk cabang olahraga Olimpiade. Meski baru terbentuk, Timnas Flag Football Indonesia pada Oktober lalu tampil dalam turnamen internasional di China menghadapi 16 negara dari kawasan Asia Tenggara hingga Oseania.
Ajang ini, timnas putra dan putri berhasil masuk lima besar. “Timnas putra dan putri, dua-duanya bisa tembus lima besar. Artinya Indonesia bisa bersaing dengan negara lain di dalam olahraga ini,” kata Windra Thio.
Strategi Berbeda
Salah satu peserta roadshow, Muhammad Prakoso Gagas Samodra, kapten timnas flag football, mengaku tertarik pada olahraga ini karena dinilainya sebagai olahraga berbeda. “Flag football itu seru karena strateginya dalam. Antara tim menyerang dan bertahan benar-benar berbeda,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa flag football tidak seperti olahraga lain yang pemainnya bisa menyerang dan bertahan secara bersamaan. Dalam flag football, pergantian pemain jelas. “Kalau tim penyerang selesai main, semua harus keluar dan diganti tim bertahan. Jadi permainannya lebih terstruktur,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa dibanding American football, flag football jauh lebih aman karena minim kontak fisik.
Tak Hanya Andalkan Fisik Tapi Juga Strategi
Meski tergolong baru dikenal di Indonesia sejak 2009, olahraga ini mulai menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. “Bukan olahraga baru di dunia, tapi sekarang mulai naik di Indonesia karena sudah masuk Olimpiade,” ujar Prakoso.
Ungkapan sama juga disampaikan Ruthy Lois Silitonga, kapten timnas putri. “Flag football ini banyak mikir atau strategi, jadi gak cuman ngandelin fisik,” katanya. “Apalagi lapangannya lebih kecil dari football biasa, dan juga mainnya hanya 5 lawan 5, jadi butuh game of speed,” tambahnya.
