Pertemuan Kekuatan NU di Pesantren Bina Insan Mulia
Pertemuan yang berlangsung di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, pada malam 14 April 2026 bukan sekadar silaturahmi biasa. Di sana, dua tokoh utama Nahdlatul Ulama (NU) bertemu: KH Imam Jazuli Lc., MA dan Prof. KH Asep Saifuddin Chalim. Mereka adalah dua kutub “energi” NU yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan.
Menjelang Muktamar NU, resonansi dan aroma “koalisi” dari pertemuan ini terasa sangat kuat. Keduanya adalah prototipe kiai masa depan: mandiri secara ekonomi, progresif secara intelektual, namun tetap merunduk dalam tradisi. Berikut adalah sepuluh benang merah yang menyatukan keduanya:
-
Darah biru dari Gunung Jati
Keduanya tidak hanya sebagai tokoh spiritual, tapi juga memiliki garis keturunan yang kuat. Mereka sama-sama menyambung ke Trah Sunan Gunung Jati. Inilah modal sosial sekaligus spiritual. Darah dakwah yang moderat namun tegas sudah mengalir di nadi mereka jauh sebelum gelar akademik mentereng itu tersemat. -
Selesai dengan urusan perut
Ini adalah hal langka. Banyak orang ingin memimpin organisasi karena mencari hidup, tapi Kiai Imam dan Kiai Asep justru sudah “selesai dengan dirinya sendiri”. Mereka diberikan keberlimpahan kekayaan. Bagi mereka, harta bukan lagi tujuan, melainkan sekadar alat untuk melayani umat. Kalau kiai sudah kaya, ia tidak bisa dibeli, dan itulah awal dari independensi. -
Tangan di atas yang tak pernah lelah
Kedermawanan keduanya sudah menjadi buah bibir. Mereka adalah antitesis dari citra kiai yang “menunggu amplop”. Di tangan mereka, uang berubah menjadi beasiswa, gedung sekolah, dan bantuan sosial. Mereka mempraktekkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah dalam skala yang kolosal. -
Dua “imperium” di dua Provinsi utama
Kiai Imam membangun pendidikan Bina Insan Mulia di Jawa Barat, sementara Kiai Asep dengan Amanatul Ummah di Jawa Timur. Keduanya memegang rekor pesantren berbasis sekolah terbesar di provinsinya masing-masing. Ini bukan soal gagah-gagahan bangunan, tapi soal kapasitas menampung ribuan mimpi santri. -
Kiblat pesantren progresif
Inilah “laboratorium” masa depan NU. Jika Amanatul Ummah (AU) dikenal sebagai mesin pencetak santri yang menjebol gerbang PTN favorit, maka BIMA adalah jembatan emas bagi santri untuk meraih beasiswa luar negeri. Keduanya membuktikan bahwa santri tidak boleh hanya jago baca kitab, tapi juga harus menguasai sains dan diplomasi global. -
Arsitek gagasan di tubuh NU
Mereka tidak diam di menara gading. Lewat kiprahnya di Pergunu (Kiai Asep) dan RMI (Kiai Imam), keduanya menyuntikkan ide-ide segar untuk memajukan NU. Mereka ingin NU bergerak lebih cepat, lebih profesional, dan lebih berdampak nyata secara sistemik. -
Akar tradisi yang menghujam
Meski pemikirannya modern, sanad keilmuan mereka tetap “tua” dan autentik. Kiai Imam adalah produk Lirboyo, sementara Kiai Asep dari Al-Khoziny. Ini adalah jaminan mutu bahwa sehebat apa pun inovasi yang mereka buat, ruhnya tetaplah pesantren. Jaringan alumni kedua pesantren tua ini sangat kuat dan solid di akar rumput. -
Suara rakyat adalah suara Tuhan
Hasil survei terbaru menunjukkan fakta yang tak bisa dibantah: keduanya meraih suara terbanyak. Ini adalah bukti otentik bahwa mereka dikehendaki oleh warga Nahdliyin. Elektabilitas ini bukan hasil pencitraan semalam, melainkan akumulasi dari pengabdian bertahun-tahun yang dirasakan langsung oleh umat. -
Menari di antara Kekuasaan
Keduanya memiliki kedekatan dengan penguasa dan partai politik. Namun, mereka tidak menjadi alat politik. Sebaliknya, mereka menjadikan politik sebagai alat perjuangan. Mereka duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para pemangku kebijakan, memastikan aspirasi pesantren tetap menjadi arus utama dalam pembangunan nasional. -
Rumah bagi semua golongan
Lihatlah siapa tamu mereka. Dari politisi lintas partai, pejabat tinggi, hingga rakyat jelata, semua diterima dengan hangat. Luasnya pengaruh mereka membuat pesantren keduanya menjadi “titik temu” (common ground) bagi berbagai kepentingan. Mereka adalah pengayom yang bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa kehilangan identitas keulamaannya.
Pertemuan dua tokoh beda generasi di Bina Insan Mulia kemarin malam adalah sebuah pesan bisu namun tajam: bahwa NU memiliki stok pemimpin yang tangguh secara finansial, intelektual, dan spiritual. Jika dua kekuatan ini bersinergi, Muktamar NU bukan lagi soal perebutan kursi, melainkan soal bagaimana membawa gerbong besar ini menuju kejayaan di abad kedua. Wallahu’alam.

KH Imam Jazuli Lc., MA dan Prof. KH Asep Saifuddin Chalim Pertemuan saat di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon – (Dok Istimewa)
