Iran Mengancam Akan Merespons Jika Amerika Serikat Melakukan Agresi Darat
Iran telah mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat yang disebut-sebut sedang mempertimbangkan tindakan agresi darat. Menurut sumber militer Iran, kemampuan militer negara tersebut dinilai telah melemah, sehingga pihak AS diharapkan tidak mengambil risiko yang bisa memicu konflik lebih besar.
Seorang pejabat militer Iran menegaskan bahwa serangan darat oleh AS akan menjadi “garis merah” yang tidak bisa ditoleransi. Pernyataan ini secara langsung menyasar Presiden AS Donald Trump, dengan ancaman bahwa Teheran telah menyiapkan kejutan besar atau kejutan maut jika Washington nekat mengirim pasukan ke wilayah Iran.
“Jika terjadi agresi darat, kami akan memberikan respons yang bahkan tidak akan memberi kesempatan bagi mereka untuk membawa pulang jenazah tentaranya,” ujar sumber militer Iran dalam pernyataan yang dikutip dari media pemerintah Tasnim News, Sabtu (21/3/2026).
Ancaman tersebut muncul di tengah laporan terbaru bahwa militer AS mulai menyusun skenario konkret untuk kemungkinan operasi darat. Menurut sejumlah pejabat Pentagon yang dikutip media internasional, pembahasan mencakup penanganan tahanan perang hingga strategi logistik jika pasukan benar-benar dikerahkan.
Meski demikian, Donald Trump sebelumnya menyatakan belum berencana mengirim pasukan darat. Ia bahkan sempat memberi sinyal bahwa operasi militer terhadap Iran bisa saja “diperlambat”, meski di sisi lain menegaskan tidak menginginkan gencatan senjata.
Di tengah eskalasi militer, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyampaikan pesan berbeda. Dalam pidato menyambut Idulfitri dan Nowruz, ia menyerukan persatuan negara-negara Islam dan menolak keterlibatan pihak asing di kawasan.
“Kita tidak membutuhkan kehadiran kekuatan luar. Negara-negara di kawasan bisa membangun sistem keamanan bersama,” ujar Pezeshkian.
Namun di lapangan, situasi justru semakin tegang. Serangan terhadap infrastruktur energi, operasi militer lintas wilayah, serta saling ancam antar pihak menunjukkan konflik telah meluas menjadi krisis regional yang kompleks.
Bagi warga sipil, bayang-bayang perang bukan sekadar wacana geopolitik. Ketidakpastian, ancaman serangan, hingga kekhawatiran meluasnya konflik menjadi realitas yang harus dihadapi setiap hari—baik di dalam Iran maupun di kawasan sekitarnya.
Jika eskalasi ini terus berlanjut, dunia kini menanti apakah ancaman kejutan besar itu akan benar-benar menjadi kenyataan, atau justru membuka jalan menuju konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Imbalan Fantastis untuk Informasi tentang Mojtaba Khamenei
Nama Mojtaba Khamenei kini menjadi sorotan setelah dikaitkan dengan tawaran hadiah besar bagi siapa pun yang dapat membantu penangkapannya. Amerika Serikat menetapkan sosok penting dari Iran tersebut sebagai buronan bernilai fantastis. Nilainya pun tidak kecil, mencapai Rp168 miliar angka yang menunjukkan betapa seriusnya langkah tersebut.
Keputusan ini bukan sekadar simbolik. Ia menjadi sinyal bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini telah bergerak ke level yang jauh lebih serius, melibatkan operasi intelijen, kekuatan militer, hingga ancaman terbuka.
Situasi yang berkembang belakangan ini juga diwarnai kabar mengenai satu per satu pejabat tinggi Iran yang gugur, memperkuat kesan bahwa konflik tidak lagi sebatas retorika politik, melainkan sudah menyentuh aspek strategis di lapangan.
Dengan dinamika yang terus bergerak cepat, perhatian dunia kini tertuju pada bagaimana kedua negara akan melangkah selanjutnya, apakah meredakan ketegangan, atau justru membawa kawasan ke situasi yang lebih tidak menentu.
Pemerintah AS secara resmi menawarkan imbalan hingga 10 juta dollar AS atau sekitar Rp168 miliar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi terkait Mojtaba Khamenei, yang disebut sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Langkah ini merupakan bagian dari program Rewards for Justice yang dijalankan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Program tersebut bertujuan menghimpun informasi strategis terkait jaringan dan aktivitas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Tak hanya Mojtaba, sejumlah tokoh penting Iran lainnya juga masuk dalam daftar target, di antaranya Ali Asghar Hejazi, Ali Larijani, Yahya Rahim Safavi, Esmail Khatib, serta Eskandar Momeni.
Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri AS menuding IRGC sebagai aktor utama dalam berbagai aktivitas terorisme yang dijadikan instrumen kebijakan negara. “Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bagian dari militer resmi Iran, memainkan peran sentral dalam penggunaan terorisme sebagai alat utama kebijakan negara Iran,” demikian pernyataan mereka.
AS juga menilai IRGC tidak hanya beroperasi di ranah militer, tetapi telah merambah ke sektor ekonomi dan politik dalam negeri Iran sejak berdiri pasca Revolusi Iran 1979.
