
Perang Informasi di Timur Tengah
Pada akhir Februari 2026, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai titik puncaknya. Dunia menyaksikan bagaimana Iran mengirimkan rudal ke wilayah-wilayah negara-negara Teluk Arab. Namun, ada hal yang tidak biasa dalam narasi yang disampaikan oleh media internasional. Meskipun tampak seragam, informasi yang diberikan terasa memiliki bias yang sangat tajam, sehingga menentukan siapa yang dianggap sebagai “penjahat” dan siapa yang menjadi “korban”.
Dalam beberapa hari terakhir ini, berita utama penuh dengan visualisasi dramatis dari rudal-rudal Iran yang menghujani wilayah Jazirah Arab seperti UEA, Qatar, dan Yordania. Media Barat secara masif memandu opini publik bahwa Iran sedang melakukan serangan “random” atau serampangan terhadap tetangganya. Namun, jika kita melihat lebih dalam, target sebenarnya dari serangan Iran bukanlah pemukiman sipil Arab, melainkan pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah tersebut sebagai respons atas agresi sebelumnya.
Fakta yang Tersembunyi
Salah satu fakta teknis yang sering dikaburkan dalam laporan jurnalisme Barat adalah bahwa jatuhnya material peledak di wilayah sipil sebagian besar merupakan insiden dari sistem pertahanan udara lokal atau AS yang gagal menetralisir target dengan sempurna. Akibatnya, puing-puing hulu ledak jatuh di pemukiman warga. Namun, media cenderung mengabaikan peran sistem pertahanan tersebut dan menyalahkan seluruh tanggung jawab moral kepada Iran, seolah-olah jatuhnya puing tersebut adalah desain awal dari serangan Iran.
Di sisi lain, terdapat fakta yang lebih kelam namun mendapatkan porsi pemberitaan yang sangat minim: serangan udara Israel ke wilayah Iran. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Israel secara terbuka menghantam dua gedung sekolah perempuan di Shajarah Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan lebih dari 50 orang anak-anak. Hal ini tidak terlihat seperti “kerusakan tak terhindarkan”, melainkan serangan langsung ke fasilitas pendidikan yang dihuni warga sipil.
Teknik Card Stacking dalam Propaganda
Di sinilah muncul sebuah teknik propaganda, yaitu Card Stacking. Menurut Magedah Shabo dalam bukunya Techniques of Propaganda and Persuasion, teknik ini adalah cara licik untuk “menumpuk kartu” atau fakta tertentu sambil menyembunyikan fakta yang berlawanan. Teknik ini bekerja dengan menyajikan fakta-fakta yang mendukung narasi bahwa Iran adalah agresor, sementara fakta-fakta yang menunjukkan provokasi Israel justru diminimalkan atau bahkan diabaikan.
Media Barat menumpuk data kerusakan di wilayah Arab untuk membangkitkan sentimen anti-Iran di kalangan umat Muslim dan masyarakat internasional, namun secara sengaja menyembunyikan atau meminimalkan fakta pembantaian di sekolah Iran. Dengan demikian, mereka menciptakan persepsi bahwa setiap tindakan Iran adalah kejahatan, sementara setiap tindakan Israel dianggap sebagai pertahanan diri.
Manipulasi Kebenaran
Ketika media terus-menerus menyoroti puing rudal Iran di pemukiman tanpa menjelaskan bahwa rudal itu sebenarnya di-intercept oleh sistem pertahanan Barat, mereka sedang melakukan manipulasi kebenaran. Mereka membuat kegagalan teknologi pertahanan udara Barat seolah-olah menjadi bukti kekejaman Iran dalam memilih target.
Teknik Card Stacking ini juga berfungsi untuk mengisolasi Iran secara diplomatik. Dengan membangun ketakutan di negara-negara Teluk, media Barat mencoba merusak hubungan persaudaraan antara Iran dan tetangga Arab-nya. Narasi serangan “random” adalah bumbu penyedap agar negara-negara Arab merasa terancam, sehingga mereka tetap bergantung pada perlindungan militer Amerika Serikat, meskipun perlindungan itulah yang terkadang menyebabkan puing jatuh di kepala warga mereka sendiri.
Analisis Konteks dan Kebenaran yang Dipotong
Dalam segi analisis konteks, propaganda ini bekerja sangat halus karena tidak menggunakan kebohongan total, melainkan kebenaran yang dipotong-potong. Fakta bahwa ada rudal yang jatuh adalah benar, tetapi menyembunyikan fakta bahwa Israel-lah yang lebih dulu meledakkan sekolah di Iran adalah sebuah kejahatan jurnalistik. Dengan meniadakan konteks “sebab-akibat”, audiens global dipaksa untuk percaya bahwa Iran tiba-tiba mengamuk tanpa alasan yang jelas, sehingga posisi moral Israel tetap terjaga di mata dunia.
Hasilnya, opini media Barat saat ini terasa begitu kuat dan mendominasi ruang digital secara global. Kekuatan narasi inilah yang mampu mengalihkan topik dari isu kemanusiaan ledakan sekolah di Iran yang hancur oleh bom Israel. Kita seakan-akan dilarang untuk berempati pada korban di pihak Iran karena kartu-kartu informasi yang dibagikan kepada kita sudah disetel sedemikian rupa untuk memuja satu sisi dan mengutuk sisi lainnya. Melalui analisis ini, dunia media sosial berada dalam situasi di mana kebenaran ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuasaan informasi paling luas. Tanpa kemampuan untuk mengidentifikasi teknik propaganda seperti ini, perspepsi publik akan terus terjebak dalam arus informasi yang berat sebelah.
