Pemahaman tentang Kata Nonbaku dalam Penulisan
Salah satu kemampuan penting dalam menulis adalah kemampuan memilih kata (diksi) yang tepat dari sekian banyak kata dalam perbendaharaan bahasa seorang penulis. Teori menyatakan bahwa semakin luas perbendaharaan kata seseorang, semakin mudah ia menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui tulisan. Namun, sangat wajar jika di antara “harta” kata-kata baku yang dimiliki seorang penulis, tercampur juga dengan kata-kata nonbaku—kata tidak resmi yang muncul dalam penggunaan karena beberapa alasan.
Pada penulisan artikel tertentu, sering kali ada isian untuk judul. Di boks biru terdapat tulisan TIPS BIKIN JUDUL. Saya dapat memahami mengapa redaksi menggunakan kata nonbaku, seharusnya TIP BUAT JUDUL. Tidak semua kata nonbaku termasuk kategori “terlarang” digunakan karena ada yang merupakan ragam percakapan atau dipilih karena populer digunakan.
Contoh, kata jadul merupakan akronim dari jaman dulu. Kata itu tergolong slang dan pernah sangat banyak digunakan, padahal kata jaman sendiri sudah nonbaku (seharusnya zaman), tapi masa iya diubah jadi zadul. Ada juga model campur kode dalam istilah kebahasaan. Kata itu pernah populer, tetapi sudah jarang digunakan, yaitu zaman now. Bahasa Indonesia dicampur dengan bahasa asing dan penulisan kata zaman merupakan bentuk baku.
Mata editor yang jeli tidak akan luput memelototi setiap kata dalam tulisan. Editor naskah dengan pisaunya selalu memenggal kata-kata nonbaku itu, menggantinya dengan kata baku. Pengeditan kata-kata nonbaku biasanya berlaku pada karya tulis dengan sifat formal atau semiformal. Pada karya tulis populer, editor naskah lebih bersikap fleksibel karena ia harus memperhatikan konteks penggunaan kata-kata nonbaku itu, apalagi pada karya fiksi.
Sebagai pengetahuan bagaimana seorang penulis melakukan swasunting kata-kata sebelum pisau editor melakukannya, berikut ini merupakan klasifikasi kata nonbaku yang sering kali muncul dalam tulisan. Rujukan kata baku yang resmi adalah KBBI (edisi terbaru) yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Jenis-Jenis Kata Nonbaku
- Nonbaku karena Kesalahan
Nama saja kesalahan, tentu tidak terlepas dari unsur khilaf. Khilaf itu boleh jadi karena seseorang terburu-buru menulis, misalnya paling sering terjadi khilaf karena salah tik alias typographical error (typo).
Kata nonbaku dari hasil salah tik biasanya terjadi karena kehilangan dan kelebihan huruf. Contoh: ‘orang’ menjadi ‘oran’ atau ‘yang’ menjadi ‘yng’—saya juga sering khilaf seperti ini.
Lebih fatal jika terjadi ganti huruf, seperti kata ‘nabi’ berubah menjadi ‘babi’ karena di kibor huruf (b) dan (n) berdampingan. Selain itu, terjadi juga huruf terbalik, seperti ‘ketika’ menjadi ‘ketiak’ atau ‘kelapa’ menjadi ‘kepala’.
Di sinilah editor jeli melihat konteks penggunaan kata salah tik itu yang menimbulkan kata lain. Kalau tidak jeli, ya alamat berbahaya, hendak menulis ketika Presiden malah menjadi ketiak Presiden ….
-
Nonbaku karena Ragam
Penggunaan kata nonbaku juga dapat dihubungkan dengan ragam bahasa. Di KBBI ada penanda ragam bahasa percakapan dengan kependekan cak.
Ragam cakapan adalah ragam nonbaku yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Jadi, keliru yang beranggapan bahwa KBBI hanya memuat kata-kata baku, kata nonbaku pun tersedia.
Contoh, kata kenapa sering muncul dalam percakapan alih-alih mengapa. Begitu pula kata tapi sebagai ragam cakapan yang sering digunakan untuk menyingkat tetapi. -
Nonbaku karena Terjadi Pembaruan
Beberapa kata disebut nonbaku karena masih menggunakan ejaan terdahulu, seperti tauladan, putera, puteri, dan Sumatera. Pengejaan kata-kata itu sudah direvisi menjadi teladan, putra, putri, dan Sumatra. Mungkin penulis-penulis zaman dulu atau murid-muridnya masih kerap menggunakan ejaan lama itu atau ada argumentasi lain seperti terjadi pada kata Sumatra. -
Nonbaku karena Singkatan/Akronim/Kependekan Keliru
Salah satu singkatan yang sering diperdebatkan bentuk bakunya, yaitu singkatan halaman. Apakah hal. atau hlm.? Sama halnya dengan singkatan/kependekan jalan, yang baku jln. atau jl.? Singkatan yang baku dari halaman adalah hlm. dan kependekan dari jalan adalah jl.
Harta kata-kata di dalam benak penulis harus terbagi atas dua pangsa, yaitu kata baku dan kata nonbaku. Gunakan kata nonbaku dari sisi ragam sesuai dengan konteksnya.
