Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Kesehatan

Mengapa Mamalia Tidak Berwarna Hijau?

Lani Kaylila
Last updated: February 27, 2026 1:09 am
Lani Kaylila
Share
5 Min Read
SHARE

Mengapa Tidak Ada Mamalia yang Berwarna Hijau?

Di alam, kita sering melihat warna hijau pada berbagai makhluk seperti daun, rumput, reptil, amfibi, dan bahkan burung. Warna ini sangat umum karena memiliki fungsi penting dalam kamuflase dan bertahan hidup. Namun, jika kita beralih ke kelas mamalia, hampir tidak ada satupun yang berwarna hijau secara alami meskipun banyak dari mereka tinggal di lingkungan hijau. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita cari tahu melalui penjelasan berikut ini!

Contents
  • Mengapa Tidak Ada Mamalia yang Berwarna Hijau?
  • Bulu Mamalia Tidak Bisa Memproduksi Pigmen Hijau
  • Evolusi Mamalia Berawal dari Dunia yang Gelap
  • Kamuflase Tidak Selalu Harus Hijau
  • Ada yang Terlihat Hijau, Tapi Bukan Hijau Asli

Bulu Mamalia Tidak Bisa Memproduksi Pigmen Hijau



Warna pada mamalia ditentukan oleh pigmen bernama melanin yang diproduksi oleh tubuh mereka sendiri. Melanin hanya mampu menghasilkan spektrum warna hitam, cokelat, kemerahan, hingga kuning pucat. Tidak ada jalur biologis dalam tubuh mamalia yang mampu menghasilkan pigmen hijau murni.

Berbeda dengan banyak reptil, ikan, atau amfibi yang memiliki sel pigmen khusus penghasil warna hijau bernama kromatofor. Pada mamalia, sistem pewarnaannya sangat sederhana dan terbatas. Evolusi mereka tidak pernah mengembangkan mekanisme tambahan untuk membuat warna hijau. Karena itu, seberapa pun lamanya mamalia hidup di lingkungan hijau, warna bulunya tetap tidak akan berubah jadi hijau.

Evolusi Mamalia Berawal dari Dunia yang Gelap



Jika kita mundur ke era dinosaurus, mamalia awal hanyalah makhluk kecil yang hidup di bawah bayang-bayang predator raksasa. Banyak ilmuwan menyebut fase ini sebagai nocturnal bottleneck hypothesis, yaitu periode panjang ketika nenek moyang mamalia lebih aktif pada malam hari. Strategi itu dipakai demi menghindari dinosaurus yang dominan berburu di siang hari. Hidup dalam gelap pun perlahan membentuk arah evolusi mamalia.

Bukti fosil mendukung gambaran tersebut. Penelitian yang terbit di jurnal Science lalu dirilis melalui laman EurekAlert! menunjukkan bahwa mamalia yang hidup sekitar 150 juta tahun silam kemungkinan besar berbulu gelap dan kusam. Analisis melanosom terhadap fosil mengindikasikan dominasi eumelanin, pigmen yang menciptakan warna cokelat tua serta abu-abu. Spektrum ini mirip dengan yang ada pada mamalia nokturnal modern seperti tikus atau kelelawar.

Selain itu, dalam kondisi minim cahaya, warna cerah sejatinya tidak memberi keuntungan berarti. Seleksi alam justru lebih “memilih” pendengaran tajam, penciuman kuat, dan gerak senyap ketimbang warna mencolok. Saat dinosaurus punah, mamalia mulai menyebar ke berbagai habitat terbuka. Tetapi sistem warna mereka sudah telanjur stabil dengan palet yang dihasilkan melanin: cokelat, hitam, kemerahan, serta abu-abu yang cukup efektif untuk kamuflase di banyak lingkungan.

Evolusi cenderung mempertahankan solusi yang terbukti aman. Tanpa tekanan seleksi kuat, warna hijau tak pernah benar-benar “dibutuhkan”.

Kamuflase Tidak Selalu Harus Hijau



Kita kadang berpikir bila ingin bersembunyi di hutan, hewan harus berwarna hijau. Padahal, banyak predator mamalia tidak melihat warna layaknya manusia. Banyak dari mereka punya penglihatan dikromatik yang sulit membedakan merah dan hijau. Artinya, warna cokelat pun bisa tampak menyatu dengan dedaunan bagi mata predator.

Lagipula, lingkungan hutan tidak sepenuhnya hijau polos. Ada batang pohon cokelat, tanah gelap, bayangan hitam, serta dedaunan kering. Warna bumi yang cokelat maupun abu-abu malah lebih fleksibel untuk menyatu di beragam habitat. Dari sudut pandang evolusi, menjadi hijau tidak selalu menghadirkan keuntungan tambahan yang signifikan.

Ada yang Terlihat Hijau, Tapi Bukan Hijau Asli



Kalau kamu pernah melihat sloth tampak kehijauan, penyebabnya bukan karena tubuhnya menghasilkan pigmen hijau. Warna itu berasal dari alga mikroskopis yang tumbuh di bulunya, terutama pada spesies Bradypus variegatus. Simbiosis tersebut bahkan membantu sloth berkamuflase di hutan hujan tropis.

Fenomena itu turut mempertegas bahwa mamalia tidak memproduksi hijau dari dalam tubuhnya. Nuansa hijau cuma hasil simbiosis dengan alga, bukan pigmen alami. Secara biologis, sloth tetap memiliki warna dasar cokelat atau abu-abu.

Pada akhirnya, tidak adanya mamalia hijau bukanlah kekurangan maupun anomali. Itu adalah hasil dari jalur evolusi yang berbeda dibanding kelompok hewan lain. Hijau memang warna kehidupan bagi tumbuhan, tetapi bukan bagian dari palet biologis mamalia.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByLani Kaylila
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Kesehatan

Kesehatan Yaqut Cholil Bocor, Pernah Jadi Tahanan Rumah dan Jalani Kolonoskopi

March 30, 2026
Kesehatan

Ancaman Kanker Paru di Usia Muda, Apa yang Harus Diketahui?

March 10, 2026
Kesehatan

7 cara alami menghaluskan rambut saat hamil

March 10, 2026
Kesehatan

Jika Orang Beri Nasihat Tidak Diminta, Bukan Bantuan: Psikologi Ketidakamanan Diri

February 17, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?