Ringkasan Berita
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) adalah pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ditempatkan di Lebanon selatan. Anggota TNI atau Kontingen Garuda telah bergabung sejak tahun 2006, dan keberadaan mereka bertujuan untuk membantu menjaga perdamaian di wilayah tersebut setelah perang meletus antara Hizbullah dengan Israel.
Kabar gugurnya tiga anggota TNI yang bertugas di UNIFIL akibat serangan Israel di Lebanon mengejutkan publik. Ketiga anggota TNI yang gugur tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Mereka bertugas dalam misi UNIFIL di bawah bendera PBB.
Pada 29 Maret 2026, saat serangan terjadi di dekat pos Indonesia (UNP 7-1, Desa Adshit al-Qusyar/Indobatt), Praka Farizal Rhomadon terkena ledakan proyektil. Kemudian, pada 30 Maret 2026, Kapten Zulmi Aditya Iskandar juga gugur saat mengawal kendaraan UNP 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL. Ia terkena ledakan dari serangan Israel. Sertu Muhammad Nur Ichwan juga gugur bersama Kapten Zulmi Aditya Iskandar. Peristiwa ini memicu kecaman publik di Indonesia, dengan banyak masyarakat yang marah atas gugurnya ketiga patriot bangsa tersebut.
Di sisi lain, banyak orang masih belum memahami apa itu UNIFIL beserta tugasnya. Untuk membantu masyarakat lebih paham, berikut ini penjelasan singkat tentang UNIFIL.

Apa Itu UNIFIL?
UNIFIL adalah United Nations Interim Force in Lebanon, yaitu pasukan penjaga perdamaian PBB yang ditempatkan di Lebanon selatan untuk membantu menjaga perdamaian dan keamanan di wilayah tersebut. UNIFIL dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada Maret 1978 melalui Resolusi 425 dan 426, sebagai respons atas konflik dan invasi Israel ke Lebanon saat itu. Misi ini awalnya bersifat “sementara”, namun hingga kini masih beroperasi karena situasi di perbatasan Lebanon-Israel masih rawan.
Secara garis besar, UNIFIL memiliki tugas utama sebagai berikut:
- Membantu memulihkan perdamaian dan keamanan di Lebanon selatan, terutama di sepanjang perbatasan dengan Israel.
- Mendukung dan mendampingi Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) dalam memastikan wilayah antara Blue Line (garis demarkasi PBB) dan Sungai Litani bersih dari kelompok bersenjata dan senjata ilegal.
- Melindungi warga sipil, membantu pemulangan pengungsi secara aman, serta memastikan tidak ada pelanggaran serius terhadap gencatan senjata di area operasinya.
UNIFIL beroperasi sebagai kekuatan multinasional, terdiri dari ribuan prajurit dan staf sipil dari puluhan negara anggota PBB, termasuk Indonesia yang menempatkan Kontingen Garuda (Konga) di bawah bendera UNIFIL. Indonesia sendiri, khususnya anggota TNI, sudah bergabung di UNIFIL sejak tahun 2006. Saat itu, pasukan Indonesia dikirim untuk menjaga perdamaian ketika perang pecah antara Israel dan Hizbullah. Sejak saat itu, Kontingen Garuda berjaga di wilayah konflik untuk tetap menjaga perdamaian.
Satuan TNI di UNIFIL
Beberapa contoh nama satuan TNI (Kontingen Garuda / Konga) yang pernah atau sedang bergiliran bertugas di UNIFIL Lebanon:
-
Konga XXIII-B UNIFIL
Satuan batalyon mekanis yang pernah ditugaskan untuk menjaga keamanan di Lebanon Selatan dalam misi UNIFIL. -
Konga XXIII-S UNIFIL
Satuan lain yang juga merupakan batalyon mekanis TNI yang bertugas di wilayah UNIFIL, salah satunya beroperasi di sektor selatan Lebanon (misalnya di area UNP 7-2). -
Indobatt (Indonesian Battalion)
Nama jajaran batalyon TNI yang ditempatkan di bawah UNIFIL; istilah ini sering dipakai baik untuk satuan saat itu (misalnya Indobatt XXIII-S) maupun sebagai nama kolektif misi kontingen Indonesia.
Rotasi satuan ini biasanya berlangsung setiap 6–12 bulan, dengan TNI mengirimkan batalyon mekanis lengkap (infanteri, logistik, dan pendukung) untuk menjalankan tugas pengawasan, patroli, dan mendukung gencatan senjata di perbatasan Lebanon-Israel.
