Kebakaran di Blimbingsari, Sleman: Ledakan Kembang Api Hancurkan Satu Rumah
Kebakaran yang terjadi di kawasan Blimbingsari, Sleman, pada Sabtu (21/2/2026) sore lalu menjadi perhatian masyarakat setempat. Peristiwa ini berawal dari ledakan beruntun kembang api yang menyebabkan satu bangunan habis terbakar. Berikut adalah kronologi lengkap dan fakta-fakta terkait kejadian tersebut.
Awal Mula Ledakan
Dukuh Blimbingsari, Robet Purnomo, menjelaskan bahwa awal kejadian bermula dari suara ledakan aneh yang terdengar sekitar pukul 17.50 WIB. “Tadi sekitar jam 5 kurang 10 menit, terdengar suara petasan dari arah rumah di sebelah barat saya. Rumah saya (jaraknya) empat rumah dari posisi TKP (Tempat Kejadian Perkara). Saya mendekat, ternyata suara petasan atau kembang api itu sudah saling bersahutan,” ujarnya.
Ledakan tersebut memicu kepanikan warga setempat. Meski tidak ada korban jiwa, situasi semakin memburuk ketika api mulai membesar dan menghanguskan bangunan.
Upaya Pemadaman Mandiri
Warga setempat mencoba melakukan pemadaman mandiri secara spontan. “Saya bersama teman-teman tadi terus langsung mencoba untuk memadamkan. Ada yang pakai air, terus saya juga bawa APAR untuk saya semprot, tapi tidak tertolong karena apinya semakin membesar terus. Nah, terus dari teman-teman akhirnya menggunakan peralatan seadanya. Ada yang bawa ember, ada yang bawa keset basah. Lalu satu teman lagi dari perangkat desa akhirnya berkoordinasi dengan pihak Damkar dari UGM,” jelas Robet.
Rumah Ludes Terbakar
Akibat ledakan dan kobaran api, bangunan beserta seluruh isinya ludes tak tersisa. “Posisi api membakar satu rumah, dan di dalamnya tadi ada beberapa alat rumah tangga juga, ya. Di situ ada gas, ada tabung gas, ada burung, semuanya ludes. Satu rumah milik YBS (Yang Bersangkutan) rata dengan api,” tambahnya.
Respons cepat dari elemen masyarakat dan institusi penanggulangan bencana menjadi kunci mencegah api merembet ke bangunan lain di kawasan yang cukup padat tersebut.
Pemadaman Butuh Waktu Satu Jam
Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Sleman bersama Damkar UGM menerjunkan armada penuh untuk menjinakkan si jago merah. “Untuk pemadaman di daerah Blimbingsari, Tim personel dari Damkar Sleman dibantu oleh Damkar UGM beserta masyarakat. Untuk armada, kita melibatkan tiga armada. Dan untuk air, habis tiga tangki. Untuk estimasi pemadaman, kita butuh waktu hampir satu jam,” jelas Petugas Damkar Sleman, David Iqbal.
Ia juga mengonfirmasi skala kerusakan struktural dan dugaan awal penyebab kebakaran. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Dan untuk kerugian, belum bisa kita perkirakan berapa habisnya. Karena untuk insiden ini, satu bangunan rumah habis. Untuk kendaraan, ada dua sepeda motor (yang terbakar). Kalau penyebab utamanya kita belum tahu, belum dilihat secara langsung. Tapi sepertinya dari keterangan warga, penyebabnya dari kembang api. Karena yang punya rumah ini berjualan kembang api,” ujarnya.
Kerentanan Akses Jalan
Meski api berhasil dipadamkan, operasi ini mengungkap kerentanan klasik tata ruang permukiman perkotaan sulitnya akses bagi kendaraan darurat darat. “Untuk kesulitan, alhamdulillah cuma masalah akses jalan. Karena ini akses jalannya kecil, jadi truk besar kita tidak bisa masuk. Dan untuk akses air juga agak sulit,” kata David.
Penyebab Awal Kebakaran
Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Sleman mengungkap penyebab awal kebakaran hebat yang melanda sebuah rumah di kawasan Blimbingsari, Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman pada Sabtu (21/2/2026). Dugaan awal, api diduga berasal dari korsleting listrik yang menyambar tumpukan petasan siap edar di dalam rumah. Sehingga, percikan api memicu rentetan ledakan yang menghanguskan bangunan.
“Penyebab kebakaran arus pendek, korsleting listrik,” kata Kasi Operasional dan Investigasi Damkar Sleman, Nawa Murtiyanto, dalam keterangannya.

Tumpukan Kembang Api di Dalam Rumah
Berdasarkan penelusuran di lapangan, rumah yang terbakar diketahui milik seorang warga bernama Daniel. Saat insiden terjadi, bangunan tersebut dipastikan tidak berpenghuni. “Waktu kejadian tidak ada penghuninya. Kebetulan saya bersama teman-teman warga tadi langsung bergerak serentak begitu mendengar empat kali ledakan kembang api. Karena rasanya tidak sewajarnya jam 5 kurang terdengar suara kembang api. Saya lari ke belakang, ternyata terjadi ledakan-ledakan terus-menerus secara beruntun tadi,” ujar Dukuh Blimbingsari, Robet Purnomo.
Penyelidikan awal mengarah pada dugaan bahwa sumber api berasal dari tumpukan barang dagangan berupa kembang api. Konteks struktural di balik keberadaan barang berbahaya ini diduga berkaitan dengan dinamika tata ruang ekonomi lokal, yakni relokasi pedagang di Pasar Terban. “Kalau setahu kami, pemilik rumah itu jualannya di depan Pasar Terban, dan tidak pernah membawa barang-barang tersebut pulang. Karena ada relokasi dari Pasar Terban itu, mungkin pemikirannya—saya juga tidak tahu—apakah tiba-tiba barang itu dibawa ke rumah, terus terjadi insiden seperti ini. Tapi kami menegaskan bahwasanya warga Padukuhan Blimbing Sari tidak diperbolehkan untuk berjualan kembang api tersebut,” papar Robet.
