Denmark resmi menjadi negara Eropa pertama yang menghentikan pengiriman surat fisik melalui layanan pos nasionalnya. Keputusan ini menandai akhir dari bab panjang sejarah layanan pos Denmark yang telah berjalan selama lebih dari 400 tahun. Dominasi komunikasi digital membuat peran surat fisik semakin terpinggirkan dan dianggap tidak relevan lagi.
Menurut laporan, perusahaan pos milik negara, PostNord, mengirimkan surat terakhirnya pada hari Selasa (30/12/2025), menutup bab sejarah layanan pos Denmark. Bangunan bekas Kantor Pos Pusat di Kopenhagen yang dibuka pada tahun 1912 kini beralih fungsi menjadi hotel mewah, menjadi simbol perubahan besar tersebut.
Penurunan volume surat terjadi sangat drastis. Sepanjang tahun 2024, jumlah surat yang dikirim oleh PostNord tercatat lebih dari 90 persen lebih rendah dibandingkan tahun 2000. Tren serupa juga terlihat di negara lain seperti Amerika Serikat, meski belum sampai menghentikan layanan sepenuhnya.
“Hampir seluruh warga Denmark telah sepenuhnya beralih ke layanan digital, sehingga surat fisik tidak lagi memiliki fungsi yang sama seperti sebelumnya,” ujar juru bicara PostNord, Andreas Brethvad. Ia menambahkan bahwa saat ini sebagian besar komunikasi masyarakat telah beralih ke kotak surat elektronik, sementara sektor perdagangan daring dan layanan pengiriman paket justru terus mengalami pertumbuhan.
“Sebagian besar komunikasi kini masuk ke kotak surat elektronik, sementara e-commerce dan pengiriman paket justru terus tumbuh,” ucapnya.
Kotak pos hilang, kekhawatiran muncul di kelompok rentan
Sebagai bagian dari transisi, PostNord telah menyingkirkan sekitar 1.500 kotak pos di seluruh Denmark sejak Juni 2025. Kotak-kotak tersebut kemudian dijual untuk kegiatan amal dan menarik minat besar masyarakat.
Ke depan, pengiriman surat domestik dan internasional akan ditangani perusahaan swasta DAO, sementara PostNord tetap fokus pada layanan paket. Namun, perubahan ini memunculkan kekhawatiran, terutama bagi warga lanjut usia dan kelompok yang belum sepenuhnya melek digital.
“Sangat mudah bagi kita yang terbiasa dengan teknologi untuk mengakses surat secara daring, tetapi tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama,” kata Marlene Rishoej Cordes, juru bicara Asosiasi DaneAge. Menurutnya, meskipun tersedia layanan pengambilan surat ke rumah, sistem pembayaran tetap mengharuskan penggunaan platform digital.
Sejarawan komunikasi: Perubahan sebagai kelanjutan evolusi media surat
Sejarawan komunikasi, Dirk van Miert, menilai pergeseran ini sebagai kelanjutan dari evolusi panjang media surat. “Format surat selalu berubah dari papirus, perkamen, hingga perangkat elektronik. Jaringan pengetahuan yang dulu dibangun lewat surat kini justru berkembang pesat secara daring,” ujarnya.
Meski demikian, nostalgia mulai terasa. Seorang pengguna media sosial di Denmark menulis, “Suatu hari nanti, saya harus menjelaskan kepada anak saya seperti apa kotak pos di masa lalu,” katanya.
Surat fisik menyusut, tapi belum sepenuhnya hilang
Dikutip dari The Guardian, layanan pos Denmark telah menangani pengiriman surat sejak 1624, namun dalam 25 tahun terakhir volumenya merosot tajam hingga lebih dari 90 persen seiring percepatan digitalisasi. Meski demikian, riset terbaru menunjukkan secercah anomali.
Generasi muda justru mulai kembali menulis surat, dengan kelompok usia 18–34 tahun tercatat mengirim surat dua hingga tiga kali lebih banyak dibanding kelompok usia lain. Bagi mereka, kembali menulis surat untuk bernostalgia dan sebagai upaya mencari jeda dari kejenuhan digital.
Secara hukum, Denmark tetap mewajibkan adanya layanan pengiriman surat, sehingga ketika PostNord menghentikan operasinya, fungsi itu dialihkan ke perusahaan lain tanpa perubahan praktis bagi publik. Namun, bagi sebagian pengamat, langkah ini bersifat final dan sulit dibalik, mengingat hampir seluruh komunikasi resmi kini berjalan lewat sistem identitas digital nasional MitID, yang digunakan oleh 97 persen penduduk dewasa.
Di tengah semakin langkanya penggunaan, surat fisik justru mendapatkan makna baru sebagai medium komunikasi yang lebih personal, intim, dan bernilai. Fenomena ini sekaligus menandai penutupan bab panjang layanan pos tradisional di salah satu negara dengan tingkat digitalisasi tertinggi di dunia.
