Pernyataan Menteri Sekretaris Negara Terkait Bantuan Internasional
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah belum membuka peluang untuk menerima bantuan internasional dalam menghadapi banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Menurutnya, pemerintah masih mampu menangani situasi tersebut dengan sumber daya yang tersedia, termasuk stok pangan yang cukup untuk para korban.
“Untuk sementara ini belum (buka peluang) ya. Meskipun kami juga mewakili Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan terima kasih karena banyak sekali atensi dari negara-negara sahabat,” ujar Prasetyo.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah mengapresiasi perhatian dari berbagai negara, baik dalam bentuk bantuan langsung maupun dukungan moral. Namun, ia memastikan bahwa pemerintah mampu mengatasi masalah tersebut sendiri, termasuk dalam hal distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke daerah terdampak.
Distribusi BBM dan Bantuan Logistik
Pemerintah telah berkoordinasi dengan PT Pertamina untuk memastikan pasokan BBM dapat didistribusikan meski harus melalui jalur udara. Hal ini dilakukan karena kondisi bencana di lapangan yang memerlukan penyesuaian dalam pendistribusian.
“BBM juga bagaimana kita usahakan bisa dilakukan dropping dari udara karena memang menyesuaikan dengan kondisi bencana yang kita hadapi di lapangan,” jelas Mensesneg.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno memastikan bahwa pengiriman bantuan logistik untuk masyarakat di daerah-daerah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berjalan lancar. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini sebanyak 500 ribu ton paket bantuan telah dikirimkan ke sejumlah daerah terdampak bencana.
“Kita telah mengirimkan lebih dari 500.000 ton bantuan dari berbagai pihak, baik itu paket sembako, makanan siap saji, obat-obatan, tenda, selimut, serta bantuan langsung lainnya untuk warga terdampak, termasuk daerah yang jalur aksesnya terputus,” ujar Pratikno.
Update Jumlah Korban
Per 3 Desember 2025 sore hari, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meningkat menjadi 770 orang. Data dari Pusdatin BNPB menyebutkan bahwa korban meninggal yang tervalidasi mencapai 770 jiwa, sementara korban hilang masih dalam pencarian sebanyak 463 jiwa.
Jumlah korban meninggal terdiri dari 277 jiwa di Aceh, 299 jiwa di Sumatera Utara, dan 194 jiwa di Sumatera Barat. Adapun korban yang masih dinyatakan hilang berjumlah 193 jiwa di Aceh, 159 jiwa di Sumatera Utara, dan 111 jiwa di Sumatera Barat.
Kerusakan Infrastruktur
Data dari Pusdatin BNPB juga mencatat skala kerusakan perumahan di ketiga wilayah. Terdapat 3.300 rumah rusak berat, 2.100 rumah rusak sedang, dan 4.900 rumah rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, termasuk sarana pendidikan serta tempat ibadah.
Berdasarkan data Pusdatin, 45,48 persen jembatan mengalami kerusakan, 20,21 persen rumah ibadah, 32,92 persen fasilitas pendidikan, serta 1,38 persen fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan.
Kesimpulan
Pemerintah menegaskan bahwa hingga saat ini belum membuka opsi bantuan internasional untuk bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Meskipun jumlah korban meninggal telah melonjak menjadi 770 orang, pemerintah mengklaim masih mampu menangani situasi dengan stok pangan, distribusi logistik, dan dropping BBM lewat udara. Lebih dari 500.000 ton bantuan telah dikirim, namun kerusakan infrastruktur cukup parah, termasuk hampir setengah jembatan terdampak. Pemerintah memastikan koordinasi diperkuat, tetapi eskalasi korban menimbulkan pertanyaan tentang kecukupan respons domestik tanpa dukungan internasional.
