Persiapan dan Penutupan Selat Hormuz
Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran paling strategis di dunia, kini menjadi pusat perhatian global akibat penutupannya oleh Iran. Langkah ini terjadi setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, yang memicu reaksi keras dari pihak Teheran.
Penutupan selat ini dilakukan pada Minggu (1/3/2026), dengan pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) mengirimkan siaran radio frekuensi tinggi kepada sejumlah kapal di kawasan Teluk. Isi pesan tersebut menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi jalur air vital tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan energi global, karena Selat Hormuz adalah urat nadi bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Setiap harinya, diperkirakan 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi selat sempit antara Oman dan Iran tersebut.
Fungsi dan Pentingnya Selat Hormuz
Dilansir dari Kompas.com, Selat Hormuz berada di antara Oman dan Uni Emirat Arab di satu sisi serta Iran di sisi lainnya. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadikannya salah satu rute pelayaran energi terpenting di dunia. Pada titik tersempit, lebarnya sekitar 33 kilometer, sementara jalur pelayaran di masing-masing arah hanya sekitar 3 kilometer. Kondisi ini membuatnya sangat rentan terhadap gangguan maupun serangan.
Ketegangan meningkat sejak Israel melancarkan serangan mendadak ke sejumlah wilayah di Iran pada 13 Juni 2025. Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar energi terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dan gas melalui selat tersebut.
Meski Amerika Serikat dan Israel telah menargetkan sejumlah infrastruktur energi Iran, hingga kini belum ada gangguan langsung terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu. Namun, bahkan sebelum serangan terbaru AS, eskalasi konflik Israel–Iran telah mendorong kenaikan tajam tarif pengiriman laut dalam beberapa pekan terakhir.
Dampak Ekonomi Global
Perusahaan intelijen logistik Xeneta mencatat tarif spot rata-rata melonjak 55 persen dibanding bulan sebelumnya hingga Jumat lalu. Dampak penutupan Selat Hormuz diyakini akan paling terasa di kawasan Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan sebagai konsumen utama yang menyerap hampir 70 persen arus minyak dari jalur ini.
Selain minyak, pasokan gas alam cair (LNG) global juga terancam mengingat Qatar sangat bergantung pada selat ini untuk ekspornya. Namun, para analis menilai tindakan ini sebagai “pedang bermata dua” bagi Teheran. Analis dari JP Morgan menyebutkan bahwa ekonomi Iran sendiri sangat bergantung pada ekspor minyak berbasis laut.
“Menutup Selat Hormuz akan menjadi langkah yang kontraproduktif dan berisiko merusak hubungan Iran dengan pembeli utama mereka, yakni China,” tulis analis JP Morgan dalam laporannya yang dikutip Reuters.
Hingga berita ini diturunkan, harga minyak mentah dunia dilaporkan mulai bergejolak akibat ketidakpastian keamanan di jalur yang hanya memiliki lebar pelayaran efektif sekitar 3 kilometer tersebut.
Tindakan Dunia Terhadap Penutupan Selat Hormuz
Sebagaimana diberitakan Aljazeera (23/6/2026), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Minggu (22/2/2026), meminta China membujuk Iran agar tidak menutup Selat Hormuz, menyusul serangan Washington terhadap fasilitas nuklir Teheran. Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menyebut langkah tersebut sebagai “bunuh diri ekonomi” bagi Iran jika benar dilakukan.
Ia menegaskan AS memiliki opsi untuk merespons, tapi menilai dampaknya justru akan lebih merugikan negara lain dibandingkan Amerika Serikat. Penutupan Selat Hormuz berpotensi menyeret negara-negara Arab Teluk yang sebelumnya kritis terhadap serangan Israel ke dalam konflik demi melindungi kepentingan dagang mereka.
Selain itu, langkah tersebut juga akan memukul China, yang membeli hampir 90 persen ekspor minyak Iran atau sekitar 1,6 juta barel per hari, meski komoditas itu berada di bawah sanksi internasional. Goldman Sachs memperkirakan blokade di selat strategis itu bisa mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS (sekitar Rp 1,6 juta) per barel.
Lonjakan ini berisiko meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya mengerek harga konsumen, terutama untuk produk-produk padat energi seperti pangan, pakaian, dan bahan kimia. Negara-negara pengimpor minyak dapat menghadapi inflasi lebih tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi jika konflik berkepanjangan, yang berpotensi membuat bank sentral menunda rencana penurunan suku bunga.
Rusia Menyesalkan Serangan Israel-AS ke Iran
Rusia mengecam serangan Israel-AS ke Iran. Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, Lavrov mengatakan serangan terhadap Iran melanggar prinsip dan norma hukum internasional dan mengabaikan konsekuensi serius bagi stabilitas dan keamanan regional dan global.
Ia mencatat kesiapan Rusia, termasuk di Dewan Keamanan PBB, untuk memfasilitasi pencarian solusi damai berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan keseimbangan kepentingan. Lavrov juga menekankan perlunya segera menghentikan serangan terhadap Iran dan kembali ke resolusi politik dan diplomatik.
Araghchi memberi tahu Lavrov tentang langkah-langkah yang diambil oleh kepemimpinan Iran untuk menolak “agresi” AS dan Israel, dengan mengatakan bahwa Iran berencana untuk segera mengadakan pertemuan Dewan Keamanan PBB, menurut pernyataan tersebut.
Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu pagi dengan nama “Raungan Singa,” dan menyatakan keadaan darurat “khusus dan segera” di seluruh negeri.
