Produsen Tempe di Madiun Kenaikan Harga Bahan Baku
Harga kedelai dan plastik yang mengalami kenaikan signifikan menjadi tantangan bagi produsen tempe di Kota Madiun. Salah satu produsen, Maria Goreti Gumini, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor saat ini mencapai Rp1.090.000 per kuintal, naik dari sebelumnya yang hanya berkisar antara Rp900 hingga Rp950 ribu perkuintal.
Kenaikan harga tersebut terjadi secara bertahap selama tiga bulan terakhir. Namun, kenaikan harga plastik untuk bungkus tempe terasa lebih tajam. Harga plastik naik hingga 75 persen sejak setelah Lebaran. Sebelumnya, harga plastik hanya Rp35 ribu perkilogram, namun kini telah meningkat menjadi Rp57 ribu perkilogram.
Gumini menjelaskan bahwa penggunaan plastik dalam produksi tempe sangat penting. Ia membutuhkan minimal 3-4 kilogram plastik per hari. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada ongkos produksi. Meskipun tidak mengetahui penyebab pasti kenaikan harga, ia menduga bahwa kenaikan harga plastik terkait dengan gangguan pasokan minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Beruntungnya, stok kedelai dan plastik masih tersedia cukup. Hal ini membuat Gumini tidak khawatir terhadap kelangkaan bahan baku. Namun, alternatif bahan baku pembuatan tempe sangat terbatas. Ia tidak mungkin mengganti kedelai impor dengan kedelai lokal karena harganya lebih mahal dan rasa kedelai lokal cenderung pahit.
Sementara itu, untuk bungkus tempe, plastik tetap menjadi pilihan utama. Penggunaan daun sebagai bungkus justru lebih mahal dibandingkan plastik. Dengan demikian, Gumini tetap menggunakan plastik sebagai bahan baku utama.
Meski harga bahan baku naik, Gumini tidak berani menaikkan harga tempe. Ia lebih memilih untuk mengurangi ukuran tempenya agar daya beli pelanggan tetap terjaga. Contohnya, ukuran tempe yang biasanya 200 gram dengan harga Rp3 ribu kini berubah menjadi 190 gram. Sementara itu, ukuran 450 gram berubah menjadi 440 gram.
Cara ini dinilai sebagai solusi win-win, di mana produsen tidak rugi meskipun harga bahan baku tinggi, sementara masyarakat tetap bisa menikmati tempe. Strategi ini membantu menjaga kepuasan pelanggan tanpa harus menaikkan harga.
Gumini telah menjalankan usaha tempe sejak tahun 1998 dengan nama usaha “Murni”. Ia selalu menjaga kualitas barang dagangannya mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pembuatan. Ia memastikan kedelai impor yang digunakan dalam kondisi bersih dan kulit arinya benar-benar dibersihkan.
Tempe yang diproduksinya memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan tempe lainnya. Jika tempe biasanya hanya bertahan satu hari, tempe milik Gumini bisa bertahan hingga tiga hari. Hal ini memungkinkan tempe dibawa keluar kota tanpa khawatir rusak.
Tidak ada campuran bahan lain dalam proses pembuatan tempe. Prosesnya hanya melibatkan perebusan kedelai lalu ditaburi ragi. Kunci utama adalah menjaga kebersihan dan higienitas selama proses produksi.
Tantangan Produksi Tempe di Madiun
Produsen tempe di Kota Madiun menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga bahan baku. Harga kedelai dan plastik yang meningkat drastis memengaruhi ongkos produksi dan strategi bisnis para produsen. Beberapa produsen seperti Gumini memilih untuk mengurangi ukuran tempe sebagai upaya menjaga daya beli pelanggan.
Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga antara lain fluktuasi pasar global dan gangguan pasokan bahan baku. Meskipun demikian, produsen tetap berusaha mempertahankan kualitas produk dan menjaga kepuasan pelanggan.
Dengan strategi yang tepat, produsen tempe di Madiun berharap dapat melewati masa sulit ini tanpa harus menaikkan harga tempe. Pemenuhan kebutuhan pasar tetap menjadi prioritas utama dalam menjalankan usaha.
