Pengabdian Tanpa Gaji: Kehidupan Relawan Pemadam Kebakaran di Kalbar
Edi Efendi (63) telah mengabdikan dirinya selama lebih dari 40 tahun sebagai relawan pemadam kebakaran di Yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti yang berlokasi di Jalan Suprapto, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar. Aktivitasnya ini dimulai sejak tahun 1982 dan fokus pada penanggulangan kebakaran hutan dan lahan semakin intens sejak 1990-an.
Ketertarikan Edi menjadi relawan bermula saat ia menyaksikan kebakaran besar di wilayah Barito pada awal 1970-an ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia melihat masyarakat benar-benar kena musibah, dan dari sana ia tertarik ingin menolong orang dan mengurangi kerugian materi maupun jiwa.
“Ini karena ini adalah suatu panggilan jiwa. Kemudian bisa membantu masyarakat untuk mengurangi peristiwa kebakaran dan mengurangi harta benda dan jiwa,” katanya.
Dulu jumlah relawan pemadam kebakaran masih sangat sedikit. Hanya ada beberapa kelompok relawan yang bergerak dan berbeda dengan sekarang yang sudah mulai banyak bermunculan. Edi mengaku bahwa relawan belum banyak waktu itu masih bekerja sama dengan damkar departemen kehutanan.
Sejak saat itu, ia kerap ikut bergabung membantu pemadaman setiap kali terjadi kebakaran. Di balik aktivitas berisiko tinggi tersebut, Edi mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga. Orang tua hingga istrinya selalu mendukung setiap kali ia menerima panggilan kebakaran.
“Kalau ada panggilan kebakaran, mereka siapkan pakaian dan sepatu saya. Sampai sekarang istri, cucu, anak saya selalu mendukung. Jadi dukungan dari keluarga membuat kita tidak ragu lagi menjadi pemadam kebakaran,” ungkapnya.
Bahkan salah satu keponakannya kini ikut terlibat sebagai relawan pemadam kebakaran Panca Bhakti. Edi mengenang masa-masa berat memadamkan kebakaran di kawasan gambut yang dulunya masih berupa hutan lebat.
Menurutnya, api di lahan gambut jauh lebih sulit dipadamkan dan membutuhkan waktu serta biaya besar. Ia menuturkan dulu relawan harus bekerja siang dan malam, tidur sebentar di lokasi, lalu kembali melanjutkan pemadaman.
Kekurangan air, panas ekstrem, hingga minim logistik menjadi tantangan yang sering dihadapi. Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi pada 1990-an saat memadamkan kebakaran di kawasan Gunung Palung. Ia bersama tim harus bertahan hingga dua minggu di dalam hutan.
“Makanan waktu itu di-drop. Capeknya baru terasa setelah pulang, tapi di lapangan tidak terasa karena fokus kerja,” ucapnya.
Baginya, keberhasilan memadamkan api hingga benar-benar padam menjadi kebanggaan tersendiri. Edi mengaku paling prihatin saat melihat masyarakat, terutama anak-anak dan lansia terdampak asap tebal saat musim karhutla.
“Prihatin kecapean di hutan itu sering, gimana hutan bisa padam itu yang kita pikirkan terus. Pernah putus asa tapi tidak sampai nangis karena semata memandang cuma asap jadi tidak kelihatan rumah,” ceritanya.
Ia bahkan mengaku pengalaman di lapangan kerap terbawa hingga ke dalam mimpi, di mana ia memikirkan kapan api benar-benar bisa dipadamkan. “Pernah mimpi di lapangan, kok tidak selesai-selesai. Sampai kapan harus selesainya gitu,” kenangnya.
Seiring bertambahnya usia dan kondisi kesehatan, Edi kini tak lagi selalu terlibat langsung dalam proses pemadaman. Namun ia masih kerap turun ke lokasi untuk memantau kebakaran. Meski sudah puluhan tahun mengabdi, Edi menegaskan dirinya tidak pernah menerima gaji maupun tunjangan.
“Tidak ada gaji, tidak ada tunjangan. Kadang dikasih uang makan, itu sudah alhamdulillah. Kita tidak mengharap gaji, tidak mengharap bayaran dari masyarakat. Kita betul-betul relawan untuk masyarakat dan masyarakat bisa tertolong Alhamdulillah,” tambahnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. “Kalau bisa membuka lahan jangan dengan membakar. Dampaknya besar dan merugikan banyak orang,” imbaunya.
Ia juga berharap relawan muda mau belajar ilmu pemadaman yang benar khususnya teknik menangani kebakaran gambut yang membutuhkan penanganan khusus. “Relawan yang masih muda tuntunlah ilmu kebakaran yang benar jangan hanya semprot air karena air yang kita semprot itu merupakan senjata bunuh diri kita. Belajarlah ke senior-seniornya tentang ilmu kebakaran,” pungkasnya.
