Pemukiman Warga di Sekitar TPU Menteng Pulo Dibongkar
JAKARTA, Sebanyak 137 kartu keluarga (KK) hidup berdampingan dengan ribuan petak makam di TPU Menteng Pulo, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan selama puluhan tahun. Pintu rumah semi permanen warga langsung berhadapan dengan makam, membuat warga harus berjalan hati-hati.
Akhirnya pada Selasa (2/12/2025), Pemerintah Kota Jakarta Selatan membongkar bangunan mereka. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mengembalikan fungsi lahan TPU sebagaimana mestinya, sekaligus menghadapi krisis lahan makam di Jakarta.
Relokasi ke Rusun Jagakarsa
Sebanyak 105 KK berpindah ke Rusun Jagakarsa dengan tiga bus. Walikota Jakarta Selatan, M. Anwar, menjelaskan bahwa relokasi ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan TPU sebagaimana mestinya, sekaligus upaya menghadapi krisis lahan makam di Jakarta.
“Hari ini saya ada di Makam Menteng Pulo, dalam rangka relokasi ya. Makam ini untuk orang meninggal, di mana kita memang krisis lahan makam di DKI,” kata Anwar, saat ditemui di lokasi, Selasa.
Sebanyak 133 KK sudah setuju untuk merelakan rumahnya dan berpindah ke Rusun Jagakarsa atau Rusun Rawa Bebek. Sementara 4 KK lainnya memilih bertahan meski harus meninggalkan rumah sampai tenggat waktu, Kamis (4/12/2025).
Warga diberi kebebasan untuk mengosongkan dan membongkar sendiri rumahnya atau dibantu oleh petugas PPSU. “Mulai hari ini, besok, seterusnya. Ada sebagian sudah bongkar. Kalau enggak bongkar (sendiri), kami akan bongkar,” ujar Anwar.
Gratis Sewa Rusun 3 Bulan
Sebagai kompensasi, warga dibebaskan dari biaya sewa rusun selama tiga bulan pertama. Anwar mengatakan, pemerintah juga terbuka untuk peluang menambahkan waktu bebas biaya itu mengingat warga yang harus beradaptasi di lingkungan baru.
“Sementara selama tiga bulan gratis, nanti kami upayakan lagi. Syukur-syukur bisa ditambah. Kan mereka harus adaptasi dari sini ke tempat yang lebih baik,” ujar Anwar.
Selama waktu yang diberikan, Anwar berharap agar warga bisa beradaptasi dengan baik dengan peraturan yang ada di rusun. “Warga menyesuaikan, ya, dari informal ke formal. Tentunya di rumah susun ada aturannya, enggak bisa seenaknya seperti di makam ini, kan, ya. Di sana ada pengelolanya, harus menyesuaikan,” tutur Anwar.
Warga Meminta Waktu Lebih
Sebanyak 20 KK belum angkat kaki dari rumah meski sudah setuju direlokasi. Mereka mengaku belum mempersiapkan apapun, sehingga meminta waktu tambahan hingga Rabu untuk bersiap. Sebab, informasi awal yang mereka terima, rumah harus kosong pada Jumat mendatang.
“Katanya tanggal 5 (Desember 2025) awalnya, tapi sekarang malah hari ini disuruh kosongin,” ujar salah satu warga, Onah (48), saat ditemui di sekitar rumahnya, Selasa.
Warga juga beralasan, mereka ingin menunggu anak-anak yang masih menempuh ujian akhir semester di sekolah. “Sebenernya hari ini nih (relokasi), tapi kami minta waktu tambahan lagi soalnya anak-anak ujian. Jadi biar dia pada balik dulu, sambil beres-beresin barang yang mau dibawa juga,” kata dia.
Sempat Menolak Relokasi
Warga mulanya sempat menolak wacana relokasi yang sudah sering disuarakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, kondisi makam yang makin dekat dengan pintu rumah warga, menghabiskan lahan tempat bermain anak-anak, akhirnya mendesak mereka untuk angkat kaki.
“Iya makin mepet ke rumah, makanya mau digusur,” kata Onah. “Kan ini bukan baru pertama ini doang yang mau digusurnya. Kan dulu juga mau digusur, cuma kan kami dikasih waktu lagi. Sekaranglah terjadi (lagi). Sudah, ya mau enggak mau ibu pasrah saja deh, namanya ibu numpang,” ujar Onah pasrah.
Alasan lain warga menolak berkaitan dengan mata pencaharian mereka. Mayoritas warga biasa menyandarkan nasibnya pada pelayat yang datang ke makam. “Awalnya sih nolak. Semua juga penginnya nolak. Memang kami cari makannya di sini sehari-hari,” kata dia.
Setiap hari mereka membersihkan nisan, dan menunggu pelayat mengangsurkan bantuan berupa materi maupun non-materi. “Kalau di sini kan Ibu nih, enggak punya beras nih, enggak punya buat bekal sekolah. Asal duduk di sini kan nanti ahli waris datang, kami nyapu, dikasih. Bisa buat makan, gitu, bisa buat bekal sekolah,” ujar dia.
Meski nanti dipindahkan ke Rusun Jagakarsa, Onah berharap tetap bisa bekerja di TPU Menteng Pulo. Sebab usia yang sudah lanjut membuat ia tak yakin bisa mendapat pekerjaan lain. Namun, bentangan jarak yang cukup lebar di antara keduanya kemudian menjadi pertimbangan untuk dia.
“Harapannya ya paling ya Ibu kerja ya balik lagi ke sini buat nyari makan. Cuma ya ini mikirin ongkosnya ini bolak-baliknya,” tutur dia.
Warga Minta Biaya Sewa Murah
Mengingat kondisi finansial yang tak begitu baik, dan terancam kehilangan satu-satunya sumber pendapatan, warga meminta biaya sewa nantinya tak melebihi Rp300.000. “Ya pengennya yang terjangkau saja, namanya ibu cuma kerjanya menyapu di kuburan. Kalau Rp 300 ribu sebulan mungkin masih keuber lah,” ungkap Onah.
Menurut Onah, ia terancam tak memiliki tempat tinggal lagi jika harga yang ditetapkan jauh di atas dari Rp 300.000. “Kalau lebih dari segitu mah ya enggak tahu, tinggal di kolong jembatan kali,” ujar dia.
Warga lainnya, Ronal, seorang ketua LMK di sana, berencana mendiskusikan biaya sewa ini dengan Pemkot Jakarta Selatan agar bisa disesuaikan dengan pendapatan warga. “Di sini saya mau bicarakan nanti ke wali kota atau ke gubernur yang langsung datang, mau sampaikan, ini hitung-hitungan kami ini bisa diturunkan apa enggak dari sewanya sih,” jelas Ronal ditemui terpisah.
Selain biaya sewa, Ronal juga berharap mereka diberi kesempatan untuk mengelola bisnis UMKM dengan pembinaan langsung oleh Dinas PPKUKM Jakarta. Sebab, usia warga yang rata-rata sudah menginjak kategori senja tidak cukup kuat untuk menggeluti pekerjaan lain.
“Kami ini semua usia kami kan hampir banyak yang lansia, di atas umur 40 tahun. Secara kinerja kan kalau birokrasinya harus di bawah itu, nah makanya mau dagang,” tutur dia.
Pembongkaran Hingga Jumat
Kepala Dinas Pertamanan dan Kehutanan (Distamhut), Fajar Sauri, menargetkan pembongkaran selesai pada Jumat (5/12/2025) mendatang. Sebelum itu, semua warga harus sudah mengosongkan rumahnya hingga Kamis.
“Ya, tanggal 4 itu harus selesai, harus clear, (besoknya) kami bongkar semuanya, biar bersih gitu loh,” kata Fajar, ditemui usai meninjau TPU Menteng Pulo bersama Walikota Jakarta Selatan.
Selanjutnya, setelah rumah dibongkar dan puingnya dibuang, lahan tersebut akan digunakan sebagai makam tambahan. Setidaknya, dari pemukiman di satu sisi TPU seluas 4000 meter akan bisa menambahkan kapasitas makam Jakarta sebanyak 1.300 petak makam.
“Kami kembalikan lagi nanti fungsinya menjadi makam,” kata dia.
