Dedi Mulyadi Mengaku Tak Bisa Tidur Pikirkan Warga Miskin
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap kondisi warga miskin di provinsi tersebut. Ia menyatakan bahwa selama menjabat sebagai gubernur, ia sering tidak bisa tidur karena merasa khawatir dengan nasib masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Pernyataan ini disampaikan Dedi saat melaksanakan salat idulfitri berjamaah di halaman Gedung Sate, Bandung, pada Sabtu (21/3/2026). Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa sebagai seorang pemimpin, ia sering merasa gelisah ketika melihat banyak warga yang belum mendapatkan layanan kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang layak.
“Untuk itu, saya meminta maaf kepada masyarakat Jawa Barat yang belum dapat melayani dengan baik,” ujar Dedi.
Setelah salat, suasana menjadi lebih santai. Warga saling bersalaman, berpelukan, dan saling meminta maaf. Dedi tampak berdiri di tengah-tengah warga, menerima jabat tangan satu per satu.
Memangkas Anggaran Pemerintah untuk Kebutuhan Masyarakat
Salah satu langkah yang diambil oleh Dedi adalah memangkas anggaran belanja pemerintah di Jawa Barat. Ia ingin agar anggaran tersebut dimaksimalkan untuk kebutuhan masyarakat.
Dedi bahkan berencana memangkas anggaran belanja pemerintah hingga 20 persen. Menurutnya, Lebaran menjadi momentum penting untuk evaluasi kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat, termasuk dalam pengelolaan anggaran yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat.
KDM, demikian panggilan akrabnya, menyatakan bahwa evaluasi ini akan dilanjutkan dalam pembahasan RAPBD 2027, dengan fokus pada pengurangan porsi anggaran bagi penyelenggara negara atau yang ia analogikan sebagai “amilin” dalam konsep zakat.
“Dalam tafsir zakat, pemerintah ini kan amilin. Nah, jatah amilinnya jangan kegedean,” ujarnya.
Saat ini, porsi anggaran untuk penyelenggaraan pemerintahan telah dibatasi maksimal 30 persen. Angka tersebut, menurut Dedi, sudah lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya yang sempat mencapai 40 hingga 60 persen, bahkan ada yang sampai 70 persen.
Namun, Dedi menilai angka tersebut masih bisa ditekan lebih rendah agar alokasi anggaran untuk kepentingan masyarakat bisa lebih besar. Ia menargetkan, ke depan porsi tersebut dapat dikurangi menjadi 25 persen, bahkan hingga 20 persen.
“Saya berharap Jawa Barat tidak sampai 30 persen. Bisa 25 atau bahkan 20 persen,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui besarnya jumlah pegawai dan tenaga pendidik di Jawa Barat menjadi tantangan tersendiri dalam menekan belanja aparatur.
“Karena jumlah pegawai sangat banyak, kemudian jumlah guru juga sangat banyak,” katanya.
Penyapu Koin Menolak Rp600 Ribu dari Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi juga memberikan kompensasi kepada para penyapu koin di Jembatan Sewoharjo, Subang, Jawa Barat. Penyapu koin diketahui sudah bertahun-tahun beraksi setiap musim mudik Lebaran.
Khawatir dengan keselamatan penyapu koin dan kemacetan selama mudik, Dedi mengeluarkan larangan beraksi. Sebagai gantinya, penyapu koin akan mendapatkan kompensasi.

“Saya minta tolong hentikan aktivitas menyapu koin selama mudik dan saya akan berikan kompensasi Rp 50.000 per hari jadi selama seminggu musim mudik jadi totalnya Rp 600.000 buat bapak dan ibu,” kata Dedi.
Namun sayang, tawaran gubernur tersebut tidak semua diterima, karena menganggap ini sudah tradisi dari tahun ke tahun sekalipun mengandung resiko kecelakaan.
“Inilah tradisi, pak Gubernur mau ngasih Rp 50.000 sehari, kami disini sehari bisa dapat Rp 150.000 lebih,” ucap Warto.
Warto menambahkan, meskipun mereka diberi kompensasi, warga tetap akan turun ke jalan menyapu koin.
“Ini momen setahun sekali, lahan rezeki buat kami selama musim mudik,” katanya.
Setelah gubernur pergi meninggalkan lokasi Jembatan Sewoharjo, para penyapu koin kembali beraktivitas di tengah padatnya arus kendaraan pemudik. Bahkan jumlah warga yang menyapu koin kian banyak, mencapai ratusan.
Pihak Pos PAM Jembatan Sewoharjo terus berupaya melakukan penertiban terhadap para penyapu koin. Meski mereka terus kucing-kucing dengan polisi, pihak berwenang tetap berusaha agar aktivitas mereka tidak mengganggu kelancaran lalu lintas para pemudik.
