Jakarta Menjadi Kota Teraman Kedua di Asia Tenggara
Pengakuan bahwa Jakarta menjadi kota teraman kedua di Asia Tenggara menunjukkan keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keamanan dan harmoni. Penilaian ini berasal dari survei independen, bukan permintaan resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa penilaian tersebut tidak dilakukan atas permintaan pihak tertentu, tetapi berdasarkan hasil survei yang dilakukan secara objektif. “Untuk menjadi kota teraman bukan DKI Jakarta yang meminta. Tetapi hasil survei dengan kriteria mereka yang membuatkan. Dan itu sudah setiap tahun ada,” ujar Pramono kepada awak media saat ditemui di Kompleks Pemerintahan Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).
Pramono menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja sama seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan dan keharmonisan di Ibu Kota. “Ya kita, itu sebagai hanya referensi aja bahwa kerja yang kita lakukan diapresiasi oleh dunia,” kata dia.
Menurutnya, posisi Jakarta sebagai kota teraman kedua tidak mungkin diraih tanpa adanya kebersamaan, kerukunan, serta silaturahmi persatuan yang terus dijaga oleh masyarakat Jakarta. Selama ini, Jakarta umumnya berada di peringkat lima hingga tujuh dalam survei serupa. Oleh karena itu, kenaikan ke posisi kedua menjadi pencapaian yang patut disyukuri.
“Memang selama ini Jakarta selalu biasanya ranking-nya antara 5, 6, 7, sekarang nomor dua, ya kita syukuri,” tutur Pramono.
Selain itu, posisi tersebut menempatkan Jakarta di atas sejumlah kota besar di Asia Tenggara, di antaranya Bangkok di Thailand, Manila di Filipina, Kuala Lumpur di Malaysia, hingga Hanoi di Vietnam, dengan peringkat pertama ditempati Singapura.
Peran Masyarakat dalam Keberhasilan Jakarta
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, juga menyampaikan capaian tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Halal Bihalal Jakarta di Lapangan Fatahillah, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (11/4/2026). Rano menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kedewasaan warga dalam menjaga keamanan dan keharmonisan, bukan semata tanggung jawab aparat.
“Capaian ini tidak lahir dari kebetulan, ini adalah hasil dari kedewasaan kami sebagai warga kota, hasil dari kesadaran kita bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kuatnya toleransi antarwarga serta karakter Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada budaya. Sepanjang tahun, Jakarta dinilai menampilkan wajah keberagaman melalui berbagai perayaan lintas agama dan budaya.
“Sepanjang tahun ini, Jakarta telah menunjukkan wajahnya sebagai kota yang hidup dalam keberagaman melalui berbagai perayaan lintas agama dan budaya,” ujar Rano.
Perayaan yang dimaksud meliputi Christmas Carol kolosal, Imlek kolosal, Festival Ogoh-ogoh, hingga Jakarta Bedug kolosal. Menurut Rano, rangkaian kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi penegasan bahwa Jakarta berdiri di atas fondasi toleransi dan kebersamaan.
Kesimpulan
Penilaian Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara mencerminkan komitmen masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keamanan dan harmoni. Hasil survei ini menjadi bukti bahwa Jakarta tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Dengan keberagaman yang terjaga dan toleransi yang tinggi, Jakarta terus membuktikan dirinya sebagai kota global yang kondusif dan aman.
