Peristiwa Duka di Gedung DPRD Kota Yogyakarta
Suasana yang penuh keheningan dan kesedihan menyelimuti Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Yogyakarta, Minggu (12/4/26) sore. Ruangan yang biasanya ramai dengan debat dan diskusi terkait kebijakan kini hanya diisi oleh isak tangis dan doa yang dipanjatkan secara lirih.
Tepat di tengah ruangan, sebuah peti jenazah berwarna putih berdiri tegap, dikelilingi karangan bunga dan foto sosok pria bersahaja dengan kumis tebal yang khas. Peti tersebut berisi jenazah Adrian Subagyo, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, yang mengembuskan napas terakhir secara mendadak, Sabtu (11/4/26) malam.
Puluhan anggota Satgas PDI Perjuangan berseragam loreng merah hitam tampak berjaga dengan sikap sempurna, namun mata mereka berkaca-kaca tidak bisa disembunyikan. Bagi mereka, Bagyo bukan sekadar legislator, tetapi juga Komandan Satgas Andika Wiratama PDI Perjuangan Kota Yogyakarta sejak kisaran 1999 silam.
Oleh sebab itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, menyebut sosok Bagyo sebagai teladan akan sifat kesabaran dan loyalitas tanpa batas. Bukan tanpa alasan, sebagai kader senior, politikus asal Kemantren Mergangsan tersebut sudah melewati berbagai masa perjuangan partai yang penuh lika-liku.
“Mas Bagyo selalu ngurus rakyat. Bahkan seminggu lalu, kami sempat diskusi panjang,” kenangnya, dijumpai selepas upacara penghormatan terakhir. Eko menceritakan, dalam diskusi terakhir itu, Bagyo masih memikirkan nasib warga, mulai dari komitmen mewujudkan lapangan kerja hingga kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Kota Yogyakarta.
Terang saja, kepergian Bagyo yang cenderung sangat mendadak menjadi satu pukulan telak bagi jajaran partai berlambang banteng moncong putih ini. “Api pengabdiannya tidak pernah padam. Ini yang harus jadi teladan bagi kita semua. Kepergiannya sangat mendadak, kemarin, sebelum jam 19.00 kami dapat kabar duka itu,” tambahnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang hadir langsung memberikan sambutan pelepasan, menyebut kepergian Bagyo sebagai kehilangan besar bagi Kota Pelajar. Menurutnya, almarhum bukan sekadar mitra kerja di pemerintahan, melainkan sosok yang benar-benar menjiwai perannya sebagai wakil rakyat dari Dapil 1 (Kraton, Mantrijeron, dan Mergangsan).
“Beliau tidak hanya menjalankan tugas administratif, tapi hadir di tengah masyarakat, mendengar aspirasi warga, dan memperjuangkannya dengan kesungguhan,” ujarnya. Hasto juga menyoroti peran strategis almarhum sebagai Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, yang membidangi infrastruktur dan tata kota.
Dedikasi Bagyo dalam memastikan pembangunan Kota Yogyakarta berjalan sesuai kepentingan rakyat disebutnya menjadi warisan yang akan terus dikenang. “Namun demikian, kita meyakini, setiap pengabdian yang telah dilakukan dengan niat tulus akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya,” cetusnya.
Selepas upacara penghormatan di Gedung DPRD, peti jenazah kemudian dipanggul oleh anggota Satgas menuju ambulans yang telah menunggu di halaman gedung. Momen haru pecah saat iring-iringan jenazah perlahan meninggalkan kompleks parlemen, di mana ratusan pelayat, dari kalangan pejabat, kader partai, hingga warga biasa, berdiri bersaf-saf memberikan penghormatan.
Sebuah salib kayu bertuliskan “RIP Adrian Subagyo” dibawa di barisan depan, menandai perjalanan terakhir sang pejuang menuju peristirahatan abadi.
