Serangan Militer Gabungan AS dan Israel ke Iran
Serangan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah mengganggu jalur pelayaran global, memicu lonjakan harga minyak, serta mengguncang perekonomian dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (20/3/2026) mengungkapkan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan untuk “mengurangi secara bertahap” operasi militer AS terhadap Iran, dengan klaim bahwa tujuan utama hampir tercapai.
“Kami hampir mencapai tujuan saat mempertimbangkan untuk mengurangi upaya militer besar kami di Timur Tengah terkait Iran,” kata Trump melalui media sosial Truth Social. Ia menyebut tujuan operasi tersebut antara lain melemahkan kemampuan rudal Iran, menghancurkan basis industri pertahanan, melumpuhkan angkatan laut dan udara, mencegah pengembangan nuklir, serta melindungi sekutu AS di kawasan.
Namun, pada Jumat sore, Trump juga menegaskan tidak menginginkan gencatan senjata dengan Iran. “Kita bisa berdialog, tetapi saya tidak ingin gencatan senjata,” kata Trump kepada wartawan sebelum bertolak dari Gedung Putih menuju Florida. “Tidak ada gencatan senjata saat Anda benar-benar menghancurkan pihak lain,” tambahnya.
Trump bahkan mengklaim Iran telah kehilangan hampir seluruh kekuatan militernya. “Dari sudut pandang militer, mereka sudah selesai. Mereka tidak memiliki angkatan laut, angkatan udara, maupun peralatan. Mereka juga tidak memiliki radar atau sistem pertahanan udara,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi yang menilai klaim Gedung Putih tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. “Pemerintah AS mengatakan satu hal, realitas mengatakan hal lain,” tulis Araghchi melalui platform X.
Trump juga menyatakan bahwa Selat Hormuz, jalur energi global yang krusial, seharusnya dijaga oleh negara-negara yang bergantung padanya, sementara AS hanya akan membantu jika diminta. “Selat Hormuz harus diamankan oleh negara-negara yang menggunakannya. Amerika Serikat tidak bergantung pada jalur itu. Jika diminta, kami akan membantu, tetapi seharusnya tidak diperlukan jika ancaman Iran dihilangkan,” kata Trump.
Sebelumnya, Trump mengkritik sekutu NATO sebagai “pengecut” karena enggan terlibat dalam pengawalan jalur tersebut. “Tanpa Amerika Serikat, NATO hanyalah macan kertas,” tulisnya.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan Eropa tidak menginginkan konflik berkepanjangan. “Eropa tidak memiliki kepentingan dalam perang terbuka tanpa batas. Ini bukan perang Eropa, tetapi kepentingan Eropa tetap terdampak,” ujarnya.
Dampak Serangan Militer
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari telah memicu gangguan besar pada rantai pasok energi global, meningkatkan harga minyak, serta menekan stabilitas ekonomi dunia.

Asap mengepul dari kilang minyak yang rusak akibat serangan Iran, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Haifa, Israel, 19 Maret 2026. – (REUTERS/Sharon Sztrozenberg)
Iran menyatakan tidak akan menahan diri sama sekali jika infrastrukturnya diserang. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah eskalasi yang sedang berlangsung di kawasan tersebut. “Kami memiliki informasi intelijen tentang rencana Israel untuk menyerang infrastruktur. Sekali lagi: Tidak akan ada pengekangan sama sekali jika infrastruktur kami diserang,” tulis Araghchi di akun media sosial X, sambil mengunggah video yang menampilkan pernyataan Presiden AS Donald Trump.
Rakyat Iran “adalah pria dan wanita yang berprinsip,” katanya, menambahkan: “Rakyat Iran tidak melakukan serangan mendadak terhadap musuh saat sedang berdialog. Hanya ketika diserang barulah kami merespons dengan kuat.”
Dalam video yang diunggah oleh Araghchi, Trump terlihat mengatakan bahwa dia percaya Iran akan menyerang AS berdasarkan informasi yang dia terima dari para pejabat tinggi AS. “Jika kami tidak melakukan ini pada saat kami melakukannya, saya pikir mereka memang berniat menyerang kami,” tambah presiden AS itu.
