Inovasi Teknologi dari Generasi Muda Indonesia
Di tengah tantangan penanganan bencana yang sering kali dihadapi oleh Indonesia, kehadiran teknologi tidak lagi menjadi sekadar pelengkap, tetapi menjadi kebutuhan mendesak. Tiga pelajar asal Indonesia membuktikan bahwa inovasi teknologi bisa lahir dari tangan-tangan muda yang peduli terhadap kondisi bangsanya. Dengan karya mereka, Drone Rajawali, mereka menunjukkan potensi besar generasi muda dalam menghadapi permasalahan nyata.
Dikembangkan oleh Pelajar Indonesia
Drone Rajawali adalah bukti bahwa inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium besar atau perusahaan raksasa. Teknologi ini dikembangkan oleh tiga pelajar Indonesia yang tergabung dalam Tim Bayu Sakti, yaitu Ksatria Wibawa Putra Murti (16), Owen Tay Jia Hao (16) pelajar SMA kelas 11 ACS Jakarta, dan Arga Wibawa (18) pelajar SMA kelas 11 ACS Jakarta. Tim Bayu Sakti menjadi perwakilan pertama Indonesia dalam sejarah World Robot Summit (WRS) dan menjadi peserta termuda.
Di usia yang masih belia, mereka mampu membaca persoalan nyata yang dihadapi Indonesia sebagai negara rawan bencana, lalu menerjemahkannya menjadi solusi teknologi yang aplikatif. Kehadiran Drone Rajawali sekaligus menunjukkan potensi besar generasi muda Indonesia dalam bidang robotika dan kecerdasan buatan.
Dirancang Khusus untuk Kondisi Bencana

Indonesia adalah negeri rawan bencana. Tim Bayu Sakti ingin mengembangkan solusi riil untuk menjawab permasalahan ini. Kerap kali jumlah korban bencana alam yang terbanyak bukan saat bencana terjadi, tetapi saat bantuan tidak segera datang akibat putusnya akses transportasi dan komunikasi.
“Kami turut berduka atas bencana siklon tropis Senyar yang melanda saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh. Teknologi seperti Drone Rajawali sangat dibutuhkan untuk membantu mempercepat pemetaan kondisi lapangan dan mendukung penyelamatan di jam-jam pertama yang sangat krusial,” ujar Ksatria Wibawa Putra Murti.
Berbeda dari drone komersial pada umumnya, Drone Rajawali dirancang khusus untuk skenario kebencanaan. Tim Bayu Sakti mengidentifikasi tiga tantangan utama yang kerap dihadapi tim penyelamat, yakni risiko keselamatan, akses yang tertutup, serta keterbatasan SDM. Ketiga tantangan tersebut menjadi dasar perancangan fitur dan fungsi Rajawali, sehingga drone ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau dari udara, tetapi sebagai bagian dari sistem pendukung keputusan dalam penanganan bencana.
Memanfaatkan AI

Drone Rajawali dibekali teknologi autonomous AI-powered disaster response UAV (unmanned aerial vehicle) yang bisa melakukan mapping area terhadap mendeteksi retakan bangunan, label bahaya, hingga karat yang menandakan kerusakan struktur. Kemampuan ini dikombinasikan dengan sistem autonomous navigation, sehingga drone dapat bergerak dan melakukan pemindaian secara mandiri tanpa harus dikendalikan penuh oleh operator.
Fitur ini sangat krusial untuk menjangkau area berbahaya yang berisiko bagi keselamatan manusia. Dalam situasi bencana, gangguan sinyal komunikasi merupakan hal yang sangat umum terjadi. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Rajawali dibekali teknologi LIDAR yang memungkinkannya tetap memetakan area dan bernavigasi secara mandiri.
Berhasil Beradu di Kancah Internasional

Untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkenalkan teknologi Drone Rajawali kepada publik, Tim Bayu Sakti menggelar demonstrasi di sekolah ACS Jakarta pada Senin (15/12/2025). Dalam kesempatan tersebut, mereka menunjukkan langsung kemampuan drone dalam mendukung skenario penanganan bencana yang mereka rancang selama lebih dari enam bulan.
Prestasi Drone Rajawali juga telah diakui di tingkat global. Inovasi ini menyabet Juara 4 kategori Drone Disaster Challenge di ajang World Robot Summit (WRS) di Fukushima, Jepang, serta Juara 1 kategori Innovation AI Robot di World Robot Games (WRG) di Taipei, Taiwan. Capaian ini menjadikan Tim Bayu Sakti sebagai perwakilan Indonesia pertama dan peserta termuda dalam sejarah WRS, sekaligus tim Indonesia pertama yang meraih juara 1 kategori inovasi di WRG.
Arga menegaskan bahwa kemenangan tersebut membuktikan kualitas solusi yang mereka kembangkan. “Drone Rajawali ini menang di dua kompetisi robot internasional, WRS dan WRG. Artinya solusi ini terbukti diakui oleh kalangan internasional dan Indonesia terbukti bisa mengembangkan secara mandiri,” ujarnya.
Ajaibnya Melakukan Pemetaan Real-Time

Drone Rajawali tidak hanya merekam gambar, tetapi juga memindai dan menyusun peta area yang dilaluinya. Data pemetaan ini menjadi bekal penting bagi tim penyelamat untuk memahami kondisi lapangan secara menyeluruh. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi jalur akses yang masih memungkinkan dilalui, menentukan rute evakuasi, serta mempercepat proses pengambilan keputusan di jam-jam awal bencana yang sangat menentukan keselamatan korban.
