Siswa SMPN 3 Mojokerto Tetap Berlatih Dayung Selama Ramadan
Puluhan siswa dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Kota Mojokerto, Jawa Timur, tetap berlatih olahraga dayung di Sungai Ngotok meskipun sedang menjalani puasa. Latihan ini dilakukan sebagai persiapan untuk mengikuti lomba dayung tingkat daerah di Pasuruan.
Latihan yang biasanya dilakukan sejauh 10 kilometer kini dikurangi menjadi 5 kilometer selama bulan Ramadan. Namun, latihan tetap dilakukan dengan pengawasan ketat dan standar keamanan yang diperketat. Para atlet menggunakan perahu TBR (Tradisional Boat Race) yang dilengkapi alat pelampung untuk memastikan keselamatan selama berlatih.
Fasilitas dan Jadwal Latihan
Fasilitas yang digunakan oleh para siswa meliputi perahu latih bantuan dari KONI Kota Mojokerto dan perahu TBR buatan sendiri. Perahu latih memiliki ukuran 11 meter dengan kapasitas hingga 20 pedayung. Jarak latihan normal mencapai 10 kilometer, sementara untuk kategori Rowing, kance, atau kayak minimal harus menempuh 15 kilometer.
Fokus latihan mencakup endurance (ketahanan), power (kekuatan), dan agility (kelincahan). Jadwal latihan dilakukan setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu, dimulai pukul 15.00 WIB dengan durasi 2-3 jam. Selama Ramadan, porsi latihan dikurangi sesuai kondisi fisik siswa yang sedang berpuasa.
Tantangan dalam Pembentukan Atlet
Meski medan di Sungai Ngotok relatif bisa diatasi, tantangan terbesar justru datang dari dukungan orang tua yang menganggap dayung sebagai olahraga ekstrem. Namun, setiap latihan dilengkapi alat pelampung untuk memastikan keselamatan.
Selain latihan di air, siswa juga menjalani latihan fisik di darat seperti push up, sit-up, dan pull up. Tes fisik dilakukan sebulan sekali untuk mendukung kemampuan atlet. Proses pembentukan atlet memakan waktu 1 hingga 2 tahun, sedangkan untuk kelas TBR membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan.
Kendala Peralatan Modern
Saat ini, para atlet masih terkendala minimnya peralatan modern. Mereka masih menggunakan dayung kayu yang lebih besar dan murah, sekitar Rp 300-500 ribu rupiah. Harga dayung kayu jauh lebih rendah dibandingkan dayung karbon yang harganya mencapai Rp 8-10 juta, namun lebih ringan dan kuat.
Dukungan dari Sekolah
Kepala SMPN 3 Kota Mojokerto, Rejo, menyatakan dukungannya terhadap ekstrakurikuler ini sebagai sarana pengembangan bakat siswa. Ia menjelaskan bahwa olahraga dayung merupakan hal baru di Mojokerto dan belum sepenuhnya diterima oleh sebagian wali murid.
Rejo menegaskan bahwa pihak sekolah terus memotivasi siswa dan menyediakan fasilitas latihan serta pendampingan. Tujuan dari ekstrakurikuler ini adalah untuk mengembangkan potensi dan prestasi siswa. Ia berharap kegiatan ini dapat menghasilkan prestasi dan memberikan nilai tambah bagi pendidikan mereka.
Keberlanjutan Olahraga Dayung di Mojokerto
Olahraga dayung telah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 3 Kota Mojokerto. Para calon atlet ini disiapkan untuk mewakili Kota Mojokerto dalam ajang perlombaan tingkat daerah di Pasuruan. Meski dalam kondisi berpuasa, latihan tetap dijalankan pada sore hari dengan porsi yang disesuaikan.
Latihan ini diikuti oleh dua tim dari SMPN 3 Kota Mojokerto yang didominasi siswa kelas 1 dan kelas 2. Selain itu, terdapat pula siswa dari jenjang SMA dan SMK di Mojokerto yang ikut bergabung.
