Nasib Tragis Evia Maria Mangolo: Pelecehan Seksual yang Berujung pada Kematian
Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswa berusia 21 tahun, ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di kamar kosnya di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada 30 Desember 2025. Kematian wanita muda ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kecurigaan, terutama setelah keluarga menemukan tanda-tanda luka di tubuh korban.
Peristiwa Pelecehan yang Dilaporkan dalam Surat
Sebelum meninggal, Evia sempat menulis surat yang mengungkap kronologi pelecehan seksual yang dialaminya dari dosen bernama Danny Alry Masinambow. Dalam surat tersebut, ia menjelaskan bahwa pada hari Jumat, tanggal 12 Desember 2025, Danny mengirim pesan melalui aplikasi chat. Ia meminta Evia untuk memberikan pijatan, namun Evia menolak karena merasa tidak nyaman.
Pada hari itu juga, Evia bersama temannya Deisye dan Refina Bawale sedang berada di food court kampus. Ia memperlihatkan percakapan tersebut kepada teman-temannya, yang menyarankannya untuk tidak pergi. Namun, Danny kemudian mengalihkan pembicaraan ke topik nilai akademik, yang sebenarnya sudah selesai.
Meski ragu, Evia tetap pergi ke parkiran kampus setelah mendapat pesan dari Danny. Ia membagikan lokasi langsung ke grup WhatsApp dengan temannya, Radina dan Deisye. Di tempat parkiran, Danny memintanya naik ke mobilnya. Saat di dalam mobil, Danny memaksa Evia untuk duduk di depan dan mulai melakukan tindakan yang tidak pantas.
Tanda-Tanda Kejanggalan di Tubuh Korban
Keluar dari mobil, Evia menemukan beberapa luka di tubuhnya. Keluarga menemukan tanda biru di bagian kaki, pinggang kiri, dan paha atas. Hal ini membuat mereka curiga bahwa kematian Evia bukanlah hasil dari bunuh diri, melainkan sesuatu yang lebih serius.
Selain itu, pengacara keluarga, Cyprus Tatali, menyebutkan bahwa posisi kain di kamar kos korban juga terlihat janggal. Karena kecurigaan tersebut, keluarga meminta agar jenazah Evia diotopsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian.
Surat Terakhir Evia dan Pesan yang Disampaikan
Dalam suratnya yang ditulis pada 16 Desember 2025, Evia mengungkapkan rasa trauma dan ketakutan yang dialaminya. Ia juga memohon agar pihak pimpinan universitas menindaklanjuti kasus ini dan memberikan sanksi kepada Danny Alry Masinambow.
Surat tersebut juga menyebutkan bahwa Evia merasa tertekan dan takut bertemu dengan Danny. Ia bahkan merasa malu jika ada mahasiswa lain yang melihatnya turun atau naik di mobil Danny. Ini membuatnya semakin sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan kampus.
Kecurigaan dan Proses Hukum yang Sedang Berlangsung
Keluarga Evia telah menyerahkan kasus ini kepada pihak kepolisian. Mereka berharap proses hukum dapat memberikan keadilan bagi korban. Selain itu, mereka juga ingin memastikan bahwa kasus seperti ini tidak terulang kembali di masa depan.
