Respons Gubernur Jawa Barat terhadap Keluhan Warga tentang Mobil Desa
Sebuah keluhan warga Ciamis yang viral di media sosial telah menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Isu ini berkaitan dengan penggunaan mobil desa yang dikenakan biaya hingga Rp400 ribu untuk layanan kesehatan. Peristiwa ini bermula dari unggahan video oleh seorang warga bernama Alma, yang membagikan pengalamannya mengantarkan dua orang lansia ke rumah sakit menggunakan sepeda motor karena tidak mampu membayar biaya transportasi mobil desa.
Dalam video tersebut, Alma menyampaikan keluhannya secara emosional. Ia menjelaskan bahwa dua warga lansia yang ingin berobat ke rumah sakit di Ciamis harus diboncengi menggunakan sepeda motor karena tidak sanggup membayar biaya mobil desa yang dinilai terlalu mahal. Pengalaman ini terjadi di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Alma juga meminta Gubernur Jawa Barat untuk meninjau dan mengaudit Desa Hegarmanah. Ia berharap agar pemerintah daerah dapat menyelesaikan masalah ini dengan lebih baik. Tidak hanya itu, ia juga mengajak Dedi Mulyadi untuk turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Penjelasan Gubernur Jawa Barat
Melalui unggahan video di Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi memberikan respons atas keluhan warga tersebut. Awalnya, ia memohon maaf kepada warga karena masih ada desa yang belum optimal dalam menggunakan fasilitas mobil desa untuk kepentingan warga.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan permasalahan seperti ini. Pertama, honorarium sopir ambulans sering kali tidak cukup. Kedua, BBM mobil desa sering kali tidak tersedia. Ia juga menawarkan solusi berupa program Rereongan Sapoe Sarebu atau Poe Ibu, yang bisa digunakan untuk saling membantu warga yang membutuhkan.
Menurut Dedi Mulyadi, uang dari program tersebut bisa dikumpulkan sebesar Rp1.000 per hari dan digunakan untuk membantu warga, termasuk dalam pembayaran BBM dan honor sopir ambulans. Ia berharap program ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk masalah serupa.
Selain itu, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa dirinya akan berupaya menghubungi Kepala Desa Hegarmanah untuk mengetahui penyebab pasti dari peristiwa tersebut. Ia juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami warga dan mengucapkan terima kasih atas masukan dari masyarakat.
Klarifikasi dari Kepala Desa
Sebelumnya, Kepala Desa Hegarmanah, Muhammad Nur Ali memberikan klarifikasi terkait isu biaya sewa mobil desa. Ia menegaskan bahwa secara aturan, tidak ada biaya sewa sepeser pun. Yang ada hanyalah penggantian bensin dan honor sopir sesuai kesepakatan.
Nur Ali menjelaskan bahwa angka yang beredar di masyarakat adalah perkiraan operasional berdasarkan jarak tempuh. Misalnya, untuk perjalanan ke Bandung, kebutuhan bensin dan makan sopir bisa mencapai Rp500 ribu, namun itu bukan masuk ke kas desa sebagai sewa.
Ia juga menegaskan bahwa pihak desa memiliki kategori khusus untuk warga miskin ekstrem. Warga yang termasuk dalam Desil 1 dan 2 bisa mendapatkan layanan gratis tanpa harus membayar bensin atau honor sopir.
Terkait kasus ayah Alma (Pak Dayat) yang dibawa menggunakan motor, Nur Ali menjelaskan bahwa pada hari keberangkatan tersebut, mobil siaga desa sudah dipesan oleh warga lain untuk keperluan ke Tasikmalaya. Ia juga mengaku sengaja belum menemui Alma secara langsung untuk menghindari drama baru di media sosial.
Kesimpulan
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya transparansi dan komunikasi antara pemerintah desa dan warga. Meski ada kendala dalam penggunaan mobil desa, solusi seperti program Rereongan Sapoe Sarebu bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki situasi. Selain itu, klarifikasi dari pihak desa juga sangat penting untuk menghindari salah paham dan membangun kepercayaan antara warga dan pemerintah setempat.
