Program SMK Go Global: Solusi Cepat untuk Pengangguran dan Peluang Kerja Global
Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi tantangan pengangguran yang tinggi, khususnya di kalangan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu inisiatif utama yang diambil adalah program SMK Go Global. Program ini dirancang sebagai kebijakan stimulus ekonomi yang bertujuan menjawab dua masalah besar sekaligus: tingginya angka pengangguran lulusan SMK dan kurang optimalnya pemanfaatan peluang kerja global.
- Program SMK Go Global: Solusi Cepat untuk Pengangguran dan Peluang Kerja Global
- Program Pelatihan Menyeluruh: Bahasa, Skill, dan Sertifikasi
- Target Besar: 500.000 Tenaga Kerja Terserap di 2026
- Reformasi Hulu ke Hilir: Kurikulum Kelas Migran Dibedah Total
- Peluncuran SMK Go Global: Kolaborasi Lintas Stakeholder
- Anggaran Dijaga Ketat
“Saat ini, sekitar 1,6 juta lulusan SMK yang belum mendapatkan pekerjaan,” ungkap Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar dalam acara Workshop Kepala Sekolah untuk Program SMK Go Global, awal Desember lalu. Ia juga menyampaikan bahwa pasar global memiliki kekosongan besar, dengan hampir 1 juta lapangan kerja yang belum terisi. “Peluang tersebut harus diambil secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya sambil menunggu pemulihan ekonomi nasional.”
Program Pelatihan Menyeluruh: Bahasa, Skill, dan Sertifikasi
SMK Go Global diproyeksikan sebagai program pelatihan komprehensif yang mencakup keterampilan vokasi, sertifikasi profesi, dan pelatihan bahasa asing bagi alumni SMK yang ingin masuk kelas migran. Menurut Cak Imin, ada tiga hambatan utama yang membuat lulusan SMK sulit mengakses peluang global, yaitu tidak siap bahasa, tidak siap keahlian, dan tidak siap dari sisi pembiayaan pelatihan.
“Tiga masalah inilah yang harus kita atasi bersama-sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” tegasnya. Untuk itu, pemerintah menyiapkan subsidi pelatihan bahasa dan keterampilan melalui Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Anggaran yang disiapkan mencapai Rp15–25 triliun pada 2026.

Target Besar: 500.000 Tenaga Kerja Terserap di 2026
Keberangkatan pertama direncanakan pada Desember 2025 untuk 500 peserta. Mulai 2026, pemerintah menargetkan 500.000 tenaga kerja lulusan SMK dan SMA terserap di luar negeri. “Kita punya target 2026, Insyaallah 500.000 yang akan diberangkatkan lulusan SMK dan SMA,” tegas Muhaimin.
Negara tujuan mengikuti permintaan dan job order dari mitra global. Beberapa di antaranya yakni Jepang, Korea, Jerman, Hongkong, Taiwan, Turki, dan Timur Tengah. “Tahun ini ke Eropa ya Slovakia, Turki, Jepang,” ujarnya.
Reformasi Hulu ke Hilir: Kurikulum Kelas Migran Dibedah Total
Cak Imin menilai masalah vokasi di Indonesia terjadi sejak hulu, yakni kurikulum yang tidak mengikuti perkembangan kebutuhan global. Ia menyinggung ironinya lulusan SMK yang mempelajari bahasa asing bertahun-tahun namun tetap tidak memenuhi standar kerja luar negeri.
Karena itu, pemerintah memperkenalkan konsep “Kelas Migran SMK”: jurusan-jurusan yang disiapkan sejak kelas 1 untuk memenuhi standar minimal negara tujuan. “Misalnya kalau ke Jepang kelas 1 sudah mengadopsi bahasa Jepang N4. N4 itu prasyarat kompetensi bekerja di Jepang,” terangnya.
Ia juga menyoroti lemahnya pembaruan kurikulum vokasi. Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan sistem pengelolaan vokasi nasional yang diperbarui secara tahunan, bahkan bulanan.
Peluncuran SMK Go Global: Kolaborasi Lintas Stakeholder
Peluncuran SMK Go Global juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan: kedutaan negara-negara tujuan, JICA, asosiasi pemagangan, perusahaan jasa tenaga kerja, serta kementerian terkait. “Makanya, kita ingin SMK Go Global ini langkah cepat dan langkah efektif. Hanya bisa digerakkan cepat apabila kita berkolaborasi dengan produktif,” akunya.
Program ini membuka kesempatan luas bagi para lulusan SMK tanpa batasan usia. Meski demikian, ada durasi pelatihan yang disesuaikan kebutuhan. Adapun jurusan prioritas mengikuti permintaan global yakni Pengelas (Welder), Pelayan (Hospitality), perawat rumah (Caregiver), hingga konstruksi. Pendaftaran akan dibuka akhir 2025, namun pelatihan sudah berjalan bagi sebagian peserta.
Anggaran Dijaga Ketat
Menko PM menekankan pentingnya tata kelola yang bersih dan berharap program SMK Go Global bisa langsung tepat sasaran dan memberikan dampak. SMK Go Global ditujukan tidak hanya sebagai solusi cepat mengurangi pengangguran, tetapi juga cara memperkuat kapasitas tenaga kerja nasional sekaligus menambah remitansi negara.
“Ke depan para tenaga kerja kita yang akan bekerja di luar negeri akan membawa kapasitas Indonesia dan membawa kemajuan rakyat kita.” pungkas Menko PM, Muhaimin Iskandar.
