Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Teknologi

Saat AS Kuasai Perbatasan AI, Tiongkok Luncurkan Jalur Cepat Menuju Dominasi Global

Rizal Hartanto
Last updated: February 4, 2026 11:44 pm
Rizal Hartanto
Share
6 Min Read
SHARE

Contents
  • Perbedaan Pendekatan AI antara AS dan Tiongkok
  • Pernyataan Eddie Wu: Visi tentang AGI dan ASI
  • Nada Futuristik Wu dan Keprihatinan Pengamat
  • Strategi Nasional “AI+” dan Fokus pada Aplikasi Praktis
  • Persaingan AI sebagai Isu Geopolitik
  • Tekanan dan Pembatasan Teknologi
  • Persaingan AI di Infrastruktur Energi dan Pusat Data
  • Kondisi Saat Ini dan Potensi Perubahan

Perbedaan Pendekatan AI antara AS dan Tiongkok

Persaingan kecerdasan buatan (AI) global memasuki fase strategis yang semakin menunjukkan perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Washington terus memimpin dalam riset AI frontier, khususnya pengembangan kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence/AGI), sementara Beijing lebih fokus pada aplikasi nyata di sektor industri, layanan publik, dan ekonomi riil. Meski demikian, para ahli melihat bahwa strategi ini bisa menjadi jalan cepat bagi Tiongkok untuk mengejar ketertinggalan.

Perbedaan pendekatan ini juga terlihat dari narasi para pemimpin teknologi. Di Barat, tokoh seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg sering menggambarkan AI sebagai lompatan peradaban yang berpotensi mengubah tatanan manusia. Sementara itu, di Tiongkok, wacana serupa baru mulai muncul dari kalangan korporasi besar, salah satunya Alibaba.

Pernyataan Eddie Wu: Visi tentang AGI dan ASI

Menurut laporan The Guardian, CEO Alibaba Eddie Wu menyampaikan pernyataan yang jarang terdengar dari pemimpin teknologi Tiongkok. “Dunia saat ini sedang menyaksikan fajar revolusi kecerdasan berbasis AI,” ujarnya dalam konferensi pengembang di Hangzhou. Dia menegaskan bahwa AGI, bahkan kecerdasan buatan super (artificial superintelligence/ASI), berpotensi “meningkatkan kemampuan berpikir manusia dan membuka peluang baru bagi pengembangan potensi manusia.”

Wu menyebut ASI dapat melahirkan generasi “ilmuwan super” dan “insinyur super full-stack” yang mampu memecahkan persoalan sains dan rekayasa dengan kecepatan yang belum terbayangkan. Sejalan dengan visi tersebut, Alibaba mengumumkan rencana investasi 380 miliar yuan—sekitar Rp 918,1 triliun dengan kurs Rp 2.416 per yuan—untuk infrastruktur AI dalam tiga tahun ke depan, langkah yang mendorong saham perusahaan ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

Nada Futuristik Wu dan Keprihatinan Pengamat

Nada futuristik Wu menarik perhatian pengamat karena menyerupai retorika para CEO teknologi Barat seperti Sam Altman dari OpenAI atau Demis Hassabis dari DeepMind. Penulis teknologi Afra Wang menilai, “Pidato ASI Wu menunjukkan bahwa perusahaan besar Tiongkok mulai menyusun dan mengomunikasikan arah pengembangan AI mereka sendiri, tidak lagi sekadar mengikuti narasi Barat.”

Namun, visi korporasi tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan arah kebijakan nasional. Ya-Qin Zhang, Dekan Institute for AI Industry Research Universitas Tsinghua sekaligus mantan Presiden Baidu, menegaskan, “Tiongkok memang memiliki kelompok riset yang mengarah ke AGI. Tetapi sebagian besar perusahaan AI bekerja untuk aplikasi yang lebih baik.” Menurutnya, keterbatasan daya komputasi dan pendekatan teknologi yang pragmatis mendorong fokus pada manfaat langsung.

Strategi Nasional “AI+” dan Fokus pada Aplikasi Praktis

Pendekatan itu tercermin dalam strategi nasional “AI+” yang dirilis pemerintah Tiongkok pada Agustus lalu. Dokumen tersebut menyoroti pemanfaatan AI untuk meningkatkan diagnosis medis dan efisiensi rantai pasok, tanpa menyebut AGI.

Julian Gewirtz, mantan pejabat senior Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, mengatakan, “Pemerintah Tiongkok sangat fokus memetik manfaat AI di sini dan saat ini. Kita tidak seharusnya berasumsi bahwa Partai Komunis Tiongkok percaya AGI sudah dekat.”

Persaingan AI sebagai Isu Geopolitik

Di Washington, perbedaan strategi tersebut justru dipandang sebagai isu geopolitik dan keamanan nasional. Presiden Microsoft Brad Smith sebelumnya memperingatkan Kongres Amerika Serikat bahwa “perlombaan antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk pengaruh internasional kemungkinan akan dimenangkan oleh pihak yang menjadi penggerak tercepat.”

Sejalan dengan kekhawatiran itu, Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan Amerika Serikat–Tiongkok merekomendasikan Kongres untuk “membentuk dan mendanai program bergaya Proyek Manhattan yang secara khusus ditujukan untuk memenangkan perlombaan pengembangan AGI.”

Tekanan dan Pembatasan Teknologi

Tekanan terhadap Tiongkok juga datang melalui sanksi semikonduktor. Pembatasan ekspor chip canggih memaksa perusahaan-perusahaan Tiongkok mengandalkan perangkat domestik yang kurang efisien. Meski Nvidia sempat mendapat persetujuan menjual chip H200, Beijing dilaporkan membatasi impornya demi mengurangi ketergantungan teknologi luar negeri. Di tengah tekanan tersebut, Beijing menegaskan bahwa “kebutuhan adalah ibu dari inovasi,” dengan merujuk pada munculnya perusahaan-perusahaan AI lokal seperti DeepSeek.

Persaingan AI di Infrastruktur Energi dan Pusat Data

Selain itu, persaingan AI turut meluas ke infrastruktur energi dan pusat data. CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menyatakan Tiongkok berpeluang “memenangkan perlombaan AI” berkat subsidi energi bagi pusat data. Sejak 2021, Tiongkok diperkirakan telah mengucurkan sekitar USD 100 miliar—sekitar Rp 1.679 triliun dengan kurs Rp 16.790 per dolar AS—untuk sektor ini. Namun, laporan lembaga riset pemerintah menunjukkan tingkat utilisasi pusat data AI nasional baru mencapai 32 persen, memicu kekhawatiran akan pembangunan yang berlebihan.

Kondisi Saat Ini dan Potensi Perubahan

Meski saat ini Tiongkok dinilai belum memiliki semikonduktor yang cukup canggih untuk riset kecerdasan buatan tingkat lanjut, para analis sepakat posisi persaingan belum bersifat tetap. “Status quo saat ini sangat fluktuatif,” ujar Julian Gewirtz. Dengan ambisi Presiden Xi Jinping untuk memimpin dunia dalam AI, strategi Beijing dinilai dapat berubah cepat, sehingga jarak dengan Amerika Serikat berpotensi menyempit lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByRizal Hartanto
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Teknologi

TRAVL Gunakan IoT untuk Keamanan, Pengemudi Dapat Peringatan Saat Mengemudi Terlalu Kencang

February 12, 2026
Teknologi

Elon Musk Batasi Fitur Edit Foto AI Grok di X Karena Konten Tak Senonoh

January 19, 2026
Teknologi

Kulkas Pintar Mengubah Cara Belanja Masa Depan

December 7, 2025
Teknologi

Harga HP Z Fold 5 Terbaru, Bandingkan dengan Samsung Z Fold 4 di Indonesia

December 16, 2025
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?