Fase Kritis Operasi SAR di Gunung Bulusaraung
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang diduga jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, memasuki fase krusial. Saat ini, fokus utama operasi adalah mencari 10 korban dan black box pesawat. Gunung Bulusaraung, yang berada di perbatasan Kabupaten Pangkep, Maros, dan Bone, merupakan gunung karst dengan kontur terjal, vegetasi basah, dan cuaca yang cepat berubah. Dengan ketinggian mencapai sekitar 1.353 hingga 1.531 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan ini tercatat sebagai salah satu jalur pendakian paling ekstrem di wilayah tersebut.
- Fase Kritis Operasi SAR di Gunung Bulusaraung
- Pemindahan Posko SAR ke Desa Tompobulu
- Cuaca sebagai Faktor Penentu Operasi
- Ribuan Relawan Dikerahkan
- Medan Sulit dan Kendala Teknologi Pencarian
- Rencana Evakuasi dan Penanganan Korban
- Pesawat Membawa 10 Orang, Fokus pada Korban dan Black Box
- Tim Spesialis ATR 42-500 Perancis Mulai Investigasi
Pemindahan Posko SAR ke Desa Tompobulu
Hingga Minggu dini hari, posko SAR utama dipindahkan dari kawasan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, ke Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Relokasi ini dilakukan untuk mendekatkan pusat kendali operasi dengan area dugaan lokasi jatuhnya pesawat. Plt Kepala BPBD SAR Pangkep, M Akbar Yunus, menjelaskan bahwa keputusan pemindahan posko diambil setelah mempertimbangkan efisiensi mobilisasi personel dan logistik. Jarak dari posko lama di Maros ke Tompobulu mencapai sekitar 32 kilometer, sementara lokasi baru berada di ketinggian sekitar 1.100 mdpl, relatif lebih dekat dengan jalur pendakian menuju punggungan Gunung Bulusaraung.
Kondisi geografis di sekitar posko tidak kalah menantang. Kawasan karst dengan kemiringan jalur antara 45 hingga 75 derajat membuat setiap pergerakan tim SAR harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Akbar Yunus mengungkapkan bahwa embun tebal dan kabut pagi hari, yang dikenal secara lokal sebagai halimun, kerap membuat permukaan tanah licin, terutama jika hujan turun.
Cuaca sebagai Faktor Penentu Operasi
Cuaca menjadi perhatian utama dalam operasi pencarian. BPBD Pangkep telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendapatkan prakiraan cuaca terbaru. Berdasarkan data BMKG serta pemantauan dari aplikasi cuaca global seperti Windy.com dan Weather Channel, wilayah Maros-Pangkep diperkirakan masih berpotensi diguyur hujan ringan pada Minggu siang hingga Senin (19/1/2026). Akbar Yunus menyebutkan bahwa operasi pencarian akan “diporsir” atau dimaksimalkan pada Minggu ini karena prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan yang lebih intens pada hari-hari berikutnya. Bahkan, pada Selasa (20/1/2026), diperkirakan akan muncul hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, dengan estimasi curah hujan mencapai 8,1 hingga 10,0 milimeter.
Hujan di kawasan karst berlereng curam sangat berisiko karena dapat memicu jalur menjadi licin dan membahayakan keselamatan tim SAR. Oleh karena itu, jendela waktu cuaca relatif lebih baik pada Minggu ini menjadi kesempatan penting dalam upaya pencarian.
Ribuan Relawan Dikerahkan
Operasi SAR ini melibatkan kekuatan besar. Hingga Minggu pagi, diperkirakan sekitar 1.000 relawan SAR gabungan akan diterjunkan untuk menyisir kawasan Gunung Bulusaraung. Relawan berasal dari unsur TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Polri, BPBD dari berbagai daerah seperti Maros, Pangkep, dan Makassar, serta relawan sipil. Sekitar 400 relawan SAR telah lebih dulu berada di lokasi dan ditampung di rumah-rumah warga. Kepala Desa Tompobulu, Abdul Kadir, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 100 hingga 120 rumah warga di Desa Tompobulu, Balleanging, Birao, hingga kawasan Tondong Tallasa dijadikan tempat istirahat sementara bagi para relawan. Fasilitas publik seperti kantor desa, sekolah, hingga kolong rumah warga juga dimanfaatkan.
Medan Sulit dan Kendala Teknologi Pencarian
Salah satu tantangan terbesar dalam operasi ini adalah tidak berfungsinya ELT (Emergency Location Transmitter). ELT merupakan perangkat pemancar sinyal darurat yang seharusnya aktif secara otomatis saat pesawat mengalami kecelakaan, sehingga memudahkan tim SAR menentukan lokasi jatuhnya pesawat. Menurut keterangan dari unsur TNI AU, ELT pada pesawat ATR 42-500 tersebut tidak menyala, sehingga tim SAR kesulitan menentukan titik koordinat yang presisi. Akibatnya, pencarian harus dilakukan secara manual dengan menyisir area yang luas di lereng dan punggungan gunung.
Rencana Evakuasi dan Penanganan Korban
Apabila cuaca memungkinkan, tim SAR udara akan melakukan penyisiran dari atas lereng Gunung Bulusaraung. Proses evakuasi korban direncanakan menuju Rumah Sakit TNI Angkatan Udara dr. Dody Sardjoto di Mandai, yang berjarak sekitar 61 kilometer dari posko SAR utama di Tompobulu dan sekitar 500 meter dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Sementara itu, posko evakuasi keluarga korban dipusatkan di Bandara Sultan Hasanuddin, Mandai. Untuk penanganan medis lanjutan dan proses identifikasi korban (post mortem), posko medis disiapkan di sekitar bandara atau di Rumah Sakit Bhayangkara DVI Polri, yang berjarak sekitar 68 kilometer dari lokasi posko utama SAR.
Pesawat Membawa 10 Orang, Fokus pada Korban dan Black Box
Pesawat ATR 42-500 PK-THT tersebut diketahui membawa 10 orang (person on board), terdiri dari tiga orang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta tujuh kru pesawat yang mencakup pilot, kopilot, teknisi, dan dua pramugari. Sebelumnya sempat beredar informasi mengenai 11 penumpang, namun telah diklarifikasi bahwa jumlah POB adalah 10 orang. Selain pencarian korban, tim SAR juga memprioritaskan pencarian black box. Perangkat ini berfungsi merekam data penerbangan dan percakapan di kokpit, yang nantinya akan menjadi kunci penting dalam investigasi penyebab kecelakaan.
Tim Spesialis ATR 42-500 Perancis Mulai Investigasi
Manajemen pabrikan pesawat ATR 42-500 di Toulouse, Perancis, Minggu (18/1/2026) hari ini, menyatakan akan mengirim teknisi spesialis insiden ke pegunungan Bulusaraung (1.535 mdpl) di perbatasan tiga kabupaten di Sulsel. Rencana ini dikemukakan Media Relation ATR Charlotte GIURIA dan Jeanne CAUMONT sebagaimana dilansir situs resmi perusahaan ini, Minggu dini hari. Pihaknya akan menurunkan tim teknisi spesialis insiden ke pegunungan Bulusaraung (1.535 mdpl) di perbatasan tiga kabupaten di Sulsel.
