JAKARTA — PT Indosat Tbk. memberikan penjelasan mengenai istilah “kuota hangus” yang menjadi perdebatan sejumlah masyarakat. Perusahaan berkode saham ISAT itu menjelaskan bahwa layanan telekomunikasi berbasis pada hubungan kontraktual antara operator dan pelanggan. Dalam skema ini, konsumen memperoleh hak akses jaringan, bukan kepemilikan atas objek fisik berupa kuota secara terpisah.
VP Head of Prepaid Product and Pricing Strategy Indosat, Nicholas Yulius Munandar, menyampaikan bahwa layanan telekomunikasi lahir dari kesepakatan tertulis. Pelanggan mendapatkan hak untuk mengakses jaringan dalam batasan volume dan periode waktu tertentu. Seluruh ketentuan tersebut tertuang secara transparan dalam terms and conditions yang dapat diakses oleh publik bahkan sebelum mereka memilih paket internet yang sesuai dengan kebutuhan.
Nicholas menilai pemahaman mengenai hak dan kewajiban ini sangat penting bagi pelanggan. Menurutnya, ketika seseorang memilih paket data, yang timbul bukanlah peralihan hak milik atas suatu objek, melainkan hak kontraktual (contractual right). Hak ini secara inheren dibatasi oleh dimensi penggunaan dalam bentuk volume serta periode layanan yang telah disepakati sejak awal perjanjian.
Lebih lanjut, Nicholas menyoroti penggunaan istilah “kuota hangus” yang jamak terdengar di masyarakat. Dia menilai terminologi tersebut kurang tepat secara konseptual karena memicu persepsi seolah-olah terdapat suatu objek milik konsumen yang hilang. Dalam kenyataannya, kuota merupakan parameter dalam sistem pengendalian penggunaan yang berfungsi sebagai satuan ukur. Satuan ini ditunjukkan dalam bentuk volume, seperti Kilobyte (KB), Megabyte (MB), hingga Gigabyte (GB), serta satuan waktu berupa hari dan jam.
“Istilah kuota hangus tidak tepat karena menimbulkan kesan ada objek yang hilang. Padahal, yang sebenarnya berakhir adalah masa berlaku dari hak akses layanan sebagaimana telah disepakati di awal,” ujar Nicholas dikutip dari laman YouTube Mahkamah Konstitusi, Senin (20/4/2026).
Indosat mengklaim telah konsisten memenuhi kewajiban dalam penyampaian informasi secara transparan. Langkah ini mencakup penyediaan detail paket, durasi periode layanan, hingga pengiriman notifikasi secara aktif mengenai sisa volume dan masa aktif. Melalui sistem peringatan dini tersebut, pelanggan diharapkan memiliki kesempatan yang memadai untuk mengelola penggunaan layanan mereka secara optimal.
Dari sisi ketersediaan produk, Indosat saat ini menyediakan berbagai varian paket internet dengan kombinasi harga, volume, dan masa berlaku yang beragam. Strategi ini dirancang untuk mengakomodasi profil kebutuhan pelanggan Indonesia yang sangat dinamis.
Nicholas menyebut perusahaan mengedepankan prinsip freedom to choose atau kebebasan memilih bagi setiap pengguna. Prinsip ini dianggap krusial untuk mendukung inklusivitas dan menjaga keterjangkauan layanan bagi berbagai lapisan masyarakat. Pelanggan diberikan otoritas penuh untuk menentukan layanan yang paling relevan dengan anggaran dan pola konsumsi data mereka.
Sebagai bentuk solusi bagi pengguna yang menginginkan penggunaan lintas periode, Indosat juga menawarkan fitur rollover. Fitur ini memungkinkan sisa kuota yang tidak terpakai pada periode berjalan untuk tetap dapat digunakan pada periode berikutnya. Kehadiran opsi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memenuhi aspirasi pelanggan tanpa menghilangkan pilihan paket-paket lain yang memiliki karakteristik manfaat dan struktur harga berbeda.
“Pada prinsipnya pelanggan diberikan kebebasan untuk memilih layanan yang paling sesuai dengan kebutuhannya atau freedom to choose,” kata Nicholas.
Sebelumnya, konsumen individu menggugat aturan dalam UU Telekomunikasi karena menganggap kebijakan kuota hangus merugikan hak konstitusional warga negara. Mereka berpendapat bahwa kuota internet yang sudah dibeli adalah hak milik (properti) konsumen. Jika kuota tersebut sisa dan dihapus secara sepihak oleh operator hanya karena batas waktu, hal itu dianggap sebagai bentuk ketidakadilan dan “pengambilan” hak milik secara sepihak.
Pemohon menginginkan agar sisa kuota yang tidak terpakai tetap bisa digunakan di periode berikutnya (akumulasi otomatis) atau tidak memiliki masa kedaluwarsa selama perangkat masih aktif. Namun, dalam perspektif operator seluler, kuota adalah hak akses layanan (jasa) dalam durasi tertentu. Seperti menyewa kamar hotel atau membeli tiket bioskop. Konsumen membayar untuk akses selama waktu yang ditentukan. Jika tidak digunakan, hak akses tersebut gugur karena operator telah mengalokasikan kapasitas jaringan pada periode tersebut.
