Perkembangan Terbaru dalam Konflik Iran dan Amerika Serikat
Beberapa peristiwa penting terjadi dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tetap berada dalam Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif yang dibuat oleh AS, meskipun ada desakan dari sejumlah elemen masyarakat agar negara ini mundur dari BoP di tengah meningkatnya ketegangan antara AS-Israel dengan Iran.
Donald Trump, presiden AS saat itu, menunjukkan rasa dendam terhadap Spanyol setelah negara Eropa tersebut menolak menyediakan pangkalan militer untuk serangan terhadap Iran. Trump mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol jika tindakan tersebut tidak diubah.
Penolakan Spanyol atas Penggunaan Pangkalan Militer
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyatakan bahwa Madrid tidak akan mengizinkan pangkalan militer mereka digunakan untuk serangan terhadap Iran. Hal ini disebabkan karena serangan tersebut tidak termasuk dalam perjanjian antara Spanyol dan Washington, serta tidak sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa posisi Indonesia tetap pada BoP. “Kita tetap di BOP,” ujarnya usai menghadiri pertemuan Presiden Prabowo bersama lintas tokoh di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam.
Kritik terhadap Partisipasi Indonesia dalam BoP
Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menilai bahwa Indonesia sebaiknya segera keluar dari keterlibatan dalam BoP. Menurutnya, keputusan untuk tetap berada dalam BoP berpotensi membahayakan integritas politik luar negeri Indonesia di mata dunia serta menyimpang dari prinsip konstitusional politik luar negeri bebas aktif.
TB Hasanuddin memberikan lima alasan utama mengapa Indonesia perlu segera menarik diri dari BoP:
-
Pelanggaran Prinsip Bebas Aktif
Partisipasi Indonesia dalam BoP dinilai telah mencederai prinsip bebas aktif sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Amanat untuk turut aktif menjaga perdamaian dunia tidak tercermin apabila Indonesia menjadi bagian dari organisasi yang dinilai membiarkan terjadinya agresi militer terhadap bangsa lain, dalam hal ini invasi AS-Israel ke Iran. -
Tidak Menunjukkan Sikap Tegas
Pemerintah dinilai tidak menunjukkan sikap tegas dalam mengutuk invasi AS-Israel ke Iran. Hal ini memperkuat persepsi adanya keberpihakan Indonesia terhadap agresi tersebut dan menimbulkan kesan lemahnya komitmen terhadap penghormatan kedaulatan negara lain. -
Persepsi Rakyat Palestina
Posisi yang dinilai tidak netral dan tidak konsisten dalam membela kedaulatan bangsa lain dapat memperburuk persepsi rakyat Palestina terhadap Indonesia. TB Hasanuddin mengingatkan bahwa mobilisasi pasukan TNI sebagai bagian dari ISF BoP berpotensi mendapat penolakan. -
Alokasi Anggaran
Alokasi anggaran untuk partisipasi TNI dalam pasukan ISF dinilai akan menekan kapasitas fiskal negara untuk tujuan yang masih bersifat spekulatif. Dalam kondisi fiskal yang tengah tertekan, pemerintah diminta lebih selektif dalam penggunaan anggaran. -
Risiko Geopolitik
Indonesia dinilai berisiko terjebak dalam pusaran geopolitik Timur Tengah yang tidak menguntungkan dan berpotensi membahayakan. Kita sudah dianggap sebagai pendukung kepentingan AS dan Israel yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
Peran Donald Trump dalam Konflik dengan Spanyol
Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengatakan negaranya akan memutuskan semua perdagangan dengan Spanyol setelah negara Eropa itu menolak mengizinkan pasukan Amerika menggunakan pangkalan-pangkalan mereka untuk misi yang terkait dengan kampanye yang sedang berlangsung melawan Iran. Trump mengutip kemampuannya untuk memberlakukan embargo terhadap Spanyol, berdasarkan keputusan Mahkamah Agung baru-baru ini mengenai kemampuan presiden untuk memberlakukan tarif.
Situasi di Timur Tengah yang Memanas
Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah mengalami peningkatan tajam sejak Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan beberapa tokoh penting lainnya dari kalangan militer dan politik negara itu tewas dalam serangan militer yang dilancarkan bersama oleh Israel dan AS. Iran menanggapi serangan tersebut dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang menargetkan negara-negara Arab di kawasan itu.
Balasan Iran terhadap serangan terkoordinasi AS-Israel tersebut, sejauh ini, melibatkan penembakan beberapa rentetan rudal ke negara-negara tetangganya di Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Pasukan Iran juga menembakkan rudal ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman. Menurut perkiraan, lebih dari 500 orang telah tewas dalam krisis yang berkembang pesat antara Iran dan musuh bebuyutannya. Jumlah korban tewas termasuk enam korban jiwa dari militer Amerika yang telah dikonfirmasi.
