Upacara Penghormatan dan Pelepasan Jenazah Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI menggelar upacara penghormatan dan pelepasan tiga jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Minggu (25/1/2026) pagi ini. Upacara tersebut akan berlangsung di Auditorium Madidihang AUP Kelautan dan Perikanan Pasar Minggu pukul 08.30 WIB. Setelah prosesi upacara, ketiga jenazah akan dimakamkan di lokasi yang berbeda.
Berikut rangkaian kegiatan upacara penghormatan dan pelepasan ketiga jenazah:
Rangkaian Kegiatan Upacara
Sabtu (24/1/2026):
– Jenazah ketiga korban diperkirakan tiba di Cargo Bandara Soetta pada pukul 21.20 WIB.
– Dilakukan upacara serah terima dengan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).
– PSDKP adalah unit di bawah KKP yang bertugas menjaga, mengawasi, dan menegakkan hukum terkait pemanfaatan sumber daya laut dan perikanan di Indonesia.
– Jenazah langsung menuju tempat persemayaman di Auditorium Madidihang AUP Kelautan dan Perikanan Pasar Minggu.
Minggu (25/1/2026):
– Upacara Penghormatan dan Pelepasan tiga jenazah.
– Setelah prosesi upacara, ketiga jenazah dimakamkan di lokasi berbeda:
– Jenazah Fery Irawan akan dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
– Jenazah Yoga Naufal dimakamkan di TPU Malaka I, Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Profil Korban
Sosok Fery Irawan
Fery Irawan adalah pegawai KKP yang menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada 17 Januari 2026. Di KKP, Fery bertugas sebagai Analis Kapal Pengawas. Ia dikenal sebagai sosok yang baik, aktif dalam kegiatan masyarakat, dan sangat peduli pada keluarga serta lingkungannya. Dia tinggal bersama istri, Meyla Eskaria Putri, dan seorang anak. Fery juga dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan RT/RW. Sebelum pesawat jatuh, Fery sempat melakukan panggilan video dengan istri dan anaknya. Ia memberi pesan agar anaknya makan yang banyak dan menjaga diri. Ia juga memberikan penguatan kepada kakaknya yang baru saja kehilangan suami.
Sosok Yoga Naufal
Yoga Naufal Prakoso Nahudi adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), KKP. Ia berusia 30 tahun kelahiran Ambon, 6 November 1995. Dikenal sebagai sosok muda yang ramah, penuh cita-cita, dan dekat dengan keluarga serta lingkungan sekitar. Dia tinggal bersama orang tua dan adiknya di Pondok Bambu. Dua hari sebelum peristiwa kecelakaan pesawat, Yoga menjemput adiknya Sultan sepulang dari study tour. Itu menjadi momen terakhir kebersamaan mereka. Senyum Yoga dalam foto resmi KKP menjadi petunjuk penting dalam proses identifikasi korban. Keluarga menyerahkan data ante mortem dan sampel DNA ibunya ke tim DVI Polda Metro Jaya untuk dicocokkan dengan hasil post mortem di Makassar.
Sosok Andy Dahananto
Andy Dahananto adalah Pegawai KKP, bagian Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Menurut laporan Indonesia Air Transport, Andy lahir pada 1967. Ia adalah pilot lulusan Juanda Flying School tahun 1987. Karier sebagai pilot dimulai pada 1988 di Indonesia Air sebagai Pilot Fix Wing hingga saat ini. Di Indonesia Air, nama Andy masuk dalam jajaran Direksi. Ia menjabat sebagai Direktur Operasi. Andy dikenal sebagai sosok pekerja keras, ramah, dan berdedikasi dalam tugasnya di KKP. Ia juga dikenal sebagai pegawai yang disiplin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan laut. Rekan kerja dan tetangga menggambarkannya sebagai pribadi yang hangat, mudah bergaul, dan selalu siap membantu. Andy tinggal bersama istri dan anak, dikenal sebagai ayah yang peduli dan suami yang penuh perhatian. Tugas terakhirnya, Andy berada di pesawat ATR 42-500 bersama beberapa kolega dari KKP untuk perjalanan dinas terkait pengawasan laut. Pesawat jatuh di Gunung Bulusaraung, Sabtu (17/1/2026) menewaskan seluruh penumpang dan kru yang berjumlah 10 orang. Andy termasuk di antara korban yang berhasil ditemukan setelah operasi pencarian selama 7 hari.
