Kepengurusan PWI Bangka Selatan Berganti, Nopranda Putra Terpilih Secara Aklamasi
Kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung resmi berganti. Nopranda Putra terpilih secara aklamasi menggantikan Dedy Irawan dalam Konferensi Kabupaten (Konferkab) II yang digelar di Aula Bawaslu setempat, Kamis (16/4/2026). Perubahan ini menjadi momentum penting dalam menjaga keberlanjutan program organisasi sekaligus memperkuat peran pers di daerah.
Nopranda Putra menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dukungan penuh dari rekan-rekan menjadi modal utama dalam menjalankan roda organisasi. Amanah tersebut diakuinya sebagai tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan komitmen tinggi.
“Saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan dan anggota PWI Kabupaten Bangka Selatan karena secara tulus dan ikhlas menunjuk saya sebagai penerus ketua yang lama Dedy Irawan,” ujar Nopranda kepada media.
Nopranda Putra menegaskan, kepemimpinannya ke depan membutuhkan dukungan penuh dari seluruh anggota PWI Bangka Selatan. Hal ini dinilai penting agar berbagai program yang telah berjalan dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan kualitasnya. Menurutnya, kesinambungan program menjadi prioritas utama dalam menjaga eksistensi organisasi.
Sejumlah program dari kepengurusan sebelumnya akan tetap dipertahankan dan dikembangkan. Program tersebut mencakup kegiatan literasi hingga aktivitas keorganisasian yang dilakukan secara rutin. Keberlanjutan program dinilai penting untuk menjaga konsistensi kontribusi PWI di tengah masyarakat.
“Karena ada beberapa program dari ketua PWI terdahulu, Dedy Irawan yang akan kita tingkatkan dan pertahankan,” jelas Nopranda.
Program Literasi dan Peningkatan Kesejahteraan Anggota
Program unggulan yang menjadi perhatian adalah kegiatan literasi yang selama ini telah berjalan aktif. PWI Bangka Selatan bahkan telah dinobatkan sebagai rumah literasi yang berkontribusi dalam melahirkan penulis-penulis muda di daerah. Program ini direncanakan tetap berjalan secara berkala sebagai bagian dari komitmen peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menambahkan, program rumah literasi akan terus diperkuat dengan pelaksanaan kegiatan secara rutin setiap dua hingga tiga bulan sekali. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci dalam menjaga keberhasilan program tersebut. Upaya ini diharapkan mampu memperluas dampak positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Ini adalah program rutin kita yang harus tetap dijalankan setiap dua sampai tiga bulan sekali dilakukan,” katanya.
Di sisi lain, pentingnya peningkatan kesejahteraan anggota PWI melalui penguatan program koperasi. Ia melihat adanya peluang besar yang dapat dikembangkan melalui berbagai segmen usaha yang potensial. Langkah ini diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh anggota.
Sinergi dengan Pemerintah dan Stakeholder
Selain program internal, ia memastikan kegiatan tahunan yang telah berjalan akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Kegiatan seperti Basel Run serta pemberdayaan UMKM dinilai memiliki dampak langsung bagi masyarakat. Program-program tersebut juga menjadi sarana memperkuat sinergi antara PWI dan berbagai pihak.
“Karena banyak segmen yang akan kita bisa garap. Juga program-program tahunan seperti awal tahun ini, basel run, UMKM bisa kita lakukan dan tingkatkan lagi,” pungkas Nopranda Putra.
PWI Bangka Selatan Sebagai Percontohan di Babel
Pelaksanaan Konferensi Kabupaten (Konferkab) PWI Bangka Selatan akhirnya terlaksana setelah sempat mengalami penundaan. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam konsolidasi organisasi sekaligus penegasan arah kebijakan PWI ke depan. Selain sebagai forum pemilihan kepengurusan, Konferkab juga menjadi ruang evaluasi program kerja yang telah berjalan.
Ketua PWI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung M. Fathurrakhman menyampaikan bahwa pelaksanaan Konferkab kali ini merupakan bagian dari proses organisasi yang sempat tertunda sebelumnya. Pelaksanaan yang akhirnya dapat digelar menjadi langkah positif bagi keberlanjutan organisasi. Dinamika dalam organisasi merupakan hal yang wajar selama tetap mengedepankan kebersamaan.
“Konferkab PWI Bangka Selatan memang sempat tertunda sebelumnya, karena itu juga hari ini bisa dilaksanakan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menilai PWI Bangka Selatan sebagai salah satu organisasi yang paling aktif di tingkat kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dinilai mampu menunjukkan kekompakan sekaligus kemampuan berkolaborasi dengan berbagai pihak. PWI Bangka Selatan dinilai mampu menjalin hubungan baik dengan pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya.
Keberhasilan PWI Bangka Selatan dalam membangun sinergi dengan berbagai pihak menjadi nilai lebih yang patut dijadikan contoh oleh daerah lain. Aktivitas organisasi yang konsisten serta dampak yang dirasakan masyarakat menjadi indikator keberhasilan tersebut. Menurutnya, capaian ini turut membanggakan PWI di tingkat provinsi.
“Paling aktif dalam kegiatan-kegiatan yang paling bisa berkolaborasi dengan pemerintah dengan siapapun dengan stakeholder yang ada di Kabupaten Bangka Selatan,” ungkapnya.
Prioritas untuk Pengembangan Profesi Wartawan
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa PWI Bangka Selatan layak menjadi role model bagi PWI di kabupaten/kota lainnya. Prestasi dan kekompakan yang ditunjukkan dinilai sebagai hasil dari kerja kolektif seluruh anggota. Hal ini menjadi bukti bahwa organisasi profesi dapat berperan besar dalam pembangunan daerah.
Ia juga mendorong agar PWI Bangka Selatan terus meningkatkan program kerja, khususnya di bidang pendidikan dan peningkatan kapasitas wartawan. Program pelatihan dan pengembangan kompetensi dinilai sangat penting dalam menghadapi tantangan dunia jurnalistik yang semakin kompleks. Hal ini menjadi salah satu prioritas yang harus terus diperkuat ke depan.
Fathurrakhman menekankan pentingnya sertifikasi bagi wartawan sebagai bentuk pengakuan terhadap kompetensi dan profesionalisme. Menurutnya, sertifikasi menjadi kebutuhan mendasar bagi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik. Selain itu, pemahaman terhadap etika jurnalistik juga harus terus ditingkatkan.
“Paling penting pesan saya program pendidikan, lalu sertifikasi untuk wartawan,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan sertifikasi akan memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi narasumber dalam berinteraksi dengan wartawan. Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas profesi di mata publik. Sertifikasi juga menjadi salah satu indikator kualitas wartawan di tengah maraknya pertumbuhan perusahaan pers.
Menutup pernyataannya, ia menyoroti fenomena meningkatnya jumlah perusahaan pers yang tidak diimbangi dengan kualitas wartawan. Kondisi ini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi oleh organisasi profesi seperti PWI. Oleh karena itu, seluruh anggota PWI didorong untuk mengikuti uji kompetensi guna menjaga standar profesionalisme.
“Semua wartawan yang tergabung dalam PWI harus mengikuti uji kompetensi sehingga bisa profesional,” ucapnya.
