Keprihatinan atas Aksi Seorang Tenaga Kesehatan yang Viral
Seorang tenaga kesehatan di Rumah Sakit Datu Beru, Aceh Tengah, menjadi perbincangan hangat setelah video dirinya berjoget saat melakukan tindakan operasi terhadap pasien beredar luas di media sosial. Aksi tersebut menimbulkan reaksi keras dari masyarakat dan pihak rumah sakit.
Direktur RSUD Datu Beru, dr. Gusnarwin, menyampaikan kekecewaannya terhadap insiden ini. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap norma dan etika profesi tenaga medis. Meski RA, nama panggilan dari tenaga kesehatan tersebut, telah meminta maaf, proses pendisiplinan tetap dilanjutkan.
RA alias Riga Septian Bahri, seorang staf perawat di ruang bedah rumah sakit tersebut, diketahui mengunggah video dirinya berjoget melalui akun TikTok @ibs.datu.beru. Video tersebut dengan cepat menyebar dan memicu perdebatan sengit di berbagai platform media sosial, mulai dari kritik hingga kecaman.
Dalam rekaman yang beredar, Riga tampak asyik menari mengikuti irama musik disc jockey (DJ). Sementara itu, ada tiga dokter sedang serius melakukan pembedahan terhadap seorang pasien. Aksi RA dilakukan secara spontan dengan membawa alat pengeras suara ke dalam kamar operasi. Tak hanya berjoget, RA juga terlihat mengalungkan botol cairan infus di lehernya sambil terus menari.
Tindakan ini memicu reaksi heran dari para dokter yang sedang bertugas. Salah satu dokter tampak menggelengkan kepala, sementara dua dokter lainnya sesekali menatap keheranan melihat perilaku rekan sejawatnya tersebut di tengah proses pembedahan.
Tanggapan dari Direktur Rumah Sakit
Menanggapi viralnya video nakes di RSUD Datu Beru, Aceh Tengah, asyik berjoget saat dokter melakukan tindakan operasi, direktur rumah sakit buka suara. Dr. Gusnarwin menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh oknum tenaga kesehatan tersebut. Ia menegaskan, perbuatan itu merupakan pelanggaran serius karena tidak mencerminkan profesionalisme tenaga medis dan berpotensi mencoreng nama baik institusi.
“Menindaklanjuti hal tersebut, kami telah melakukan rapat internal dan memanggil yang bersangkutan,” ujar Gusnarwin. “Kami juga akan melaporkan permasalahan ini kepada BKPSDM Aceh Tengah agar saudara RA dapat diproses sesuai aturan kepegawaian,” tambahnya.
Pihak rumah sakit menegaskan tidak akan mentolerir tindakan yang melanggar norma dan etika profesi, terlebih dalam situasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Manajemen RSUD Datu Beru menyatakan akan mengambil langkah tegas sebagai bentuk komitmen menjaga integritas dan disiplin seluruh pegawai.
Permintaan Maaf dari RA
Sementara itu, menanggapi polemik yang terjadi, Riga akhirnya angkat bicara dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Permintaan maaf tersebut diharapkan dapat meredakan kegaduhan yang sempat terjadi akibat aksinya yang menuai kontroversi.
“Saya Riga Septian Bahri perawat kamar operasi, terkait video viral joget-joget itu spontan dari saya sendiri. Tidak ada maksud politik dan menyindir siapa pun,” ucap Riga. Ia juga menyampaikan penyesalan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Meskipun pelaku telah meminta maaf, pihak rumah sakit tetap melanjutkan proses penegakan disiplin. Manajemen telah menyerahkan kasus ini kepada instansi terkait untuk diproses lebih lanjut sesuai aturan kepegawaian.
Langkah yang Diambil
“Kami anggap ini kelalaian dan sudah kami diskusikan dengan atasan untuk diberikan hukuman,” tegas Gusnarwin melalui sambungan telepon WhatsApp. Pihak rumah sakit berharap kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi seluruh tenaga kesehatan agar menjaga profesionalitas dan integritas dalam menjalankan tugas.
Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi manajemen untuk lebih memperketat pengawasan terhadap penggunaan perangkat digital di area sensitif seperti ruang operasi. Manajemen RSUD Datu Beru berkomitmen bahwa integritas dan keselamatan pasien adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar dengan alasan konten media sosial semata.
Penanganan Lebih Lanjut
Kasus ini kini berada di bawah penanganan BKPSDM Aceh Tengah untuk menentukan sanksi kepegawaian yang tepat bagi RA. Insiden ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh tenaga medis di Indonesia agar tetap menjaga marwah profesi, bahkan di era digital yang serba terbuka ini.
