JAKARTA,
Dalam dunia yang penuh tantangan infrastruktur dan kebencanaan yang semakin kompleks, sebuah momen yang singkat namun penuh makna terjadi di Pulau Sumatera. Bukan di ruang rapat mewah, melainkan di tengah lumpur dan sisa-sisa bencana. Momen tersebut adalah ketika seorang Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, setelah mendampingi Presiden Prabowo Subianto, memutuskan untuk “berpisah” sejenak dari rombongan demi melakukan apa yang ia sebut sebagai “Field Tour.”
Kejadian ini terekam dalam pidato yang mengungkap kedalaman komitmen dan filosofi pembangunan yang dipegang teguh oleh pimpinan di Kementerian PU. Dody berkisah bahwa pagi itu, Senin (1/13/2025), ia mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja. Namun, setelah pesawat Presiden landing di Bandara Silangit, Sibolga, sang Menteri membuat keputusan tak terduga.
“Saya sengaja landing di Bandara Sibolga, jadi saya juga mengikuti arahnya Pak Presiden. Karena saya menganggap sebagai Menteri PU, sebagai kementerian publik, ya tidak merasakan harus punya suatu kemewahan naik pesawat ke mana-mana. Saya ingin tahu lebih detail apa sih yang terjadi di lapangan,” ungkap Dody.
Dia pun berpisah dengan Presiden, menuju lokasi bencana. Hal ini menyiratkan sebuah filosofi kepemimpinan yang memilih kehadiran nyata di lapangan ketimbang kenyamanan protokoler. Keputusan untuk mengambil rute yang lebih sulit, bahkan menempuh jalan berlumpur selama hampir satu jam, adalah upaya kerasnya untuk merasakan apa yang dirasakan rakyat.
Dalam perjalanannya, Dody menyaksikan ibu-ibu menanak nasi menggunakan kayu bakar seperti puluhan tahun lalu, dan melihat air bersih yang hanya mengalir dari sisa sungai, realitas pahit yang jarang terlihat dari balik meja kerja di pusat kota Jakarta.
Tantangan Kompleks dan Kebutuhan Kolaborasi Ekstrem
Kunjungan ini bukan sekadar inspeksi, melainkan respons cepat terhadap musibah. Dody mengakui bahwa tantangan pembangunan kini semakin kompleks. Setelah mendampingi Presiden, dia melihat bahwa kondisi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara terdampak bencana secara bersamaan.
Situasi di lapangan menunjukkan kerentanan infrastruktur. Bahkan, di Bandara Sibolga yang menjadi titik vital bantuan, ia menemukan masalah krusial: stok solar untuk genset hanya cukup untuk satu hari.
“Kalau solar gen-set mati habis, bagaimana mau berfungsi? Banyak warga yang hidup dekat dengan wilayah perkebunan, jauh dari mana-mana, mereka sangat membutuhkan bantuan,” urai Dody.
Momen ini menegaskan kembali arahan tegas dari Presiden Prabowo Subianto, kolaborasi. Presiden menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Daerah, TNI, Polri, dan semua instansi teknis. Bagi Kementerian PU, ini berarti kerjasama end-to-end, termasuk dengan Pertamina untuk memastikan pasokan logistik penting.
Menerjemahkan Visi Presiden Menjadi Aksi Nyata
Menteri PU menegaskan bahwa tugas kementeriannya adalah menerjemahkan visi besar Presiden Prabowo Subianto ke dalam program praktis. Visi tersebut mencakup penguatan layanan dasar, meningkatkan ketahanan air, dan mengatasi ketimpangan wilayah.
Semua program infrastruktur harus memenuhi tiga kriteria utama, efisiensi investasi misalnya, ICOR kurang dari 6, mampu menurunkan kemiskinan ekstrem dengan target 5 persen, dan meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional target 8 persen pada tahun 2029.
Namun, semua ambisi pembangunan ini hanya bisa tercapai dengan dua hal utama yang menjadi prioritas Presiden yakni kecepatan dan akurasi data responsif di lapangan.
Integritas sebagai Fondasi
Malam apresiasi yang digelar setelah kunjungan tersebut tidak hanya diisi dengan pemberian awards, tetapi juga dengan refleksi mendalam mengenai nilai-nilai luhur. Dody mengingatkan kembali pada sosok Sutami, Menteri PU periode 1941-1948, yang disebut sebagai anutan dan teladan.
“Beliau mengajarkan bahwa infrastruktur tersedia bisa dibangun dengan terbatas, asal dikelola dengan kejujuran, kecerdasan, dan semangat pengorbanan yang tinggi daripada pejabatnya kepada bangsa,” cetus Dody.
Pesan utamanya jelas yakni integritas dan keteladanan adalah fondasi kebesaran Kementerian PU hingga delapan dekade ini. Field and Tour sang Menteri di Sumatera, yang membuatnya berpisah sejenak dari rombongan Presiden, adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai kejujuran, dedikasi, dan pengorbanan tersebut.
Momen perpisahan itu bukan tentang menjauh, melainkan tentang mendekat kepada rakyat dan realitas lapangan, demi memastikan visi Indonesia Maju yang sejahtera benar-benar dapat terwujud melalui infrastruktur yang berkualitas.
