Penyebab Keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang Menimpa Ratusan Siswa
Kasus keracunan yang menimpa ratusan siswa SMK HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kini sedang menjadi perhatian masyarakat. Sebanyak 154 siswa tersebut mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di sekolah mereka. Kini, Dinas Kesehatan Sumut tengah melakukan pemeriksaan terhadap sampel MBG yang diduga menjadi penyebab kejadian ini.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rijal Lubis, menyatakan bahwa sampel MBG yang diterima adalah seluruh menu makanan yang dimakan oleh siswa pada hari Senin lalu. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Sumut dan hasilnya akan keluar dalam waktu 3-4 hari ke depan. Sampel yang diperiksa mencakup berbagai jenis makanan seperti ayam gulai, sayuran, tahu goreng, selada, dan timun.
Menurut Hamid, hingga saat ini belum ada dugaan awal mengenai penyebab keracunan tersebut. Ia menjelaskan bahwa semua bahan makanan yang diperiksa masih dalam proses analisis. “Belum bisa kita duga karena memang seluruh sampel pada menu makanan di hari itu seperti ayam gulai, sayur dan lain-lain masih dalam pemeriksaan,” ujarnya.
Kasus serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Pada bulan Oktober 2025, terdapat dugaan keracunan massal yang melibatkan lebih dari 100 siswa SMP Negeri 8 dan SMA Negeri 3 Purworejo, Jawa Tengah. Total korban diperkirakan mencapai 110-127 orang dengan gejala mual, muntah, diare, pusing, dan lemas. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E-Coli) pada kuah soto dan sambal yang disajikan.
Selain itu, di SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, ratusan siswa dan guru juga mengalami gejala keracunan setelah menyantap ayam suwir kuah soto. Kejadian ini menjadi dasar evaluasi dan perbaikan program MBG di daerah tersebut. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari yang mengolah makanan tersebut belum memenuhi standar kelayakan, sanitasi, dan higiene pangan.
Badan Gizi Nasional (BGN) kini melakukan investigasi menyeluruh terhadap dapur-dapur penyedia MBG. Fokus utama adalah penegakan standar operasional prosedur (SOP) untuk memastikan program MBG berjalan aman dan berkualitas. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa para penerima manfaat MBG dan berjanji akan melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kasus keracunan MBG juga pernah terjadi di SMP Negeri 1 Laguboti. Puluhan siswa dan relawan SPPG mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi menu MBG. Mereka dirawat di RS HKBP Balige dan RSUD Porsea. Gejala mulai muncul setelah jam pulang sekolah dan semakin parah pada malam hari.
Sebagai respons terhadap kejadian-kejadian tersebut, BGN telah melakukan investigasi dan analisis terhadap beberapa SPPG yang terlibat. Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan adanya pelanggaran prosedur yang dinilai cukup berat. Dadan menyatakan bahwa ia meminta maaf kepada para penerima manfaat yang mengalami kejadian yang kurang menyenangkan.
Dalam situasi ini, Dinas Kesehatan Sumut dan BGN terus bekerja sama untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG. Selain itu, pihak sekolah juga diminta untuk meningkatkan pengawasan terhadap proses penyajian makanan.
